Menanti anak selama 22 tahun tidak menghentikan perjuangan Mom Mina dan Dad Yusuf dari Sumenep, Madura. Di tengah nilai AMH 0,1 yang sangat rendah, pasangan ini akhirnya hamil melalui program bayi tabung dan dikaruniai anak kembar.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa tantangan kesuburan dapat berlangsung sangat panjang dan melibatkan kondisi medis yang kompleks. Peluang kehamilan tetap perlu dinilai melalui pemeriksaan serta penanganan yang disesuaikan dengan kondisi tiap pasangan.
AMH Rendah Bukan Satu-satunya Pertimbangan
AMH merupakan salah satu informasi yang digunakan dalam evaluasi fertilitas perempuan. Namun, dokter juga mempertimbangkan usia, kualitas sel telur, kondisi rahim, kualitas sperma, serta riwayat kehamilan atau keguguran sebelum menentukan langkah perawatan.
Program IVF atau bayi tabung tidak selalu menghasilkan kehamilan dalam satu kali proses. Sebagian pasangan perlu menjalani beberapa tahapan perawatan karena persoalan fertilitas dapat berasal dari faktor perempuan, laki-laki, atau gabungan keduanya.
Perjalanan Mom Mina dan Dad Yusuf menjadi salah satu contoh bahwa evaluasi medis perlu dilakukan secara menyeluruh. Kondisi AMH yang rendah menjadi bagian dari tantangan, tetapi bukan satu-satunya penentu dalam perjalanan program fertilitas.
Beragam Kondisi yang Dihadapi Pasangan
| Pasangan | Tantangan Utama | Perjalanan atau Hasil |
|---|---|---|
| Mom Mina dan Dad Yusuf | Menanti 22 tahun, AMH 0,1 | Hamil dan dikaruniai anak kembar |
| Mom Dini dan Dad Hakim | Keguguran berulang selama lima tahun | Hamil saat Mom Dini berusia 45 tahun |
| Mom Reno Intan dan Dad Hendrik | Miom, polip, dan kondisi sperma | Menjalani enam kali program IVF |
| Mom Sherly dan Dad Judyarno | Usia di atas 40 tahun dan usaha sebelumnya belum berhasil | Berhasil hamil dan melahirkan |
Mom Dini dan Dad Hakim menghadapi keguguran berulang selama lima tahun. Kehamilan kemudian hadir ketika Mom Dini berusia 45 tahun, sehingga proses tersebut memiliki arti besar bagi keduanya.
Tantangan lain dialami Mom Reno Intan dan Dad Hendrik yang menanti selama 11 tahun. Dad Hendrik sempat dinyatakan tidak memiliki sperma, sementara Mom Reno Intan memiliki miom dan polip.
Pasangan itu telah menjalani enam kali program IVF, termasuk pengobatan di luar negeri yang belum membuahkan hasil. Kondisi tersebut memperlihatkan perlunya pemeriksaan pada kedua pihak dalam program fertilitas.
Mom Sherly dan Dad Judyarno juga menghadapi proses yang tidak singkat pada usia lebih dari 40 tahun. Setelah beberapa upaya, termasuk program bayi tabung di Singapura, keduanya melanjutkan perawatan di Morula IVF Indonesia hingga hamil dan melahirkan.
Peran Pemeriksaan Embrio dalam IVF
Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan dalam program IVF adalah PGT-A. Pemeriksaan ini membantu mengevaluasi jumlah kromosom pada embrio sebelum proses transfer dilakukan.
Informasi dari PGT-A dapat menjadi bahan pertimbangan dokter saat menentukan embrio yang akan digunakan dalam program IVF. Pemeriksaan tersebut dilakukan sesuai kebutuhan dan penilaian medis masing-masing pasien.
Morula IVF Indonesia, menurut informasi yang dimuat Suara.com, telah mendampingi perjalanan fertilitas pasangan selama 28 tahun. Fasilitas tersebut dijadwalkan menggelar acara bertema “28 Years of Delivering Hope” pada 25–26 Juli 2026 di Pullman Central Park Jakarta.
Acara itu dijadwalkan menghadirkan 28 dokter spesialis obgyn dan ruang konsultasi bagi pasangan. Tujuannya adalah memperluas akses informasi serta pendampingan terkait pilihan program fertilitas.
Morula juga menyiapkan 20 program IVF gratis dengan 8 gram logam mulia, potongan biaya IVF hingga Rp28 juta, serta program Free Lifetime PGT-A untuk satu embrio hingga melahirkan. Program tersebut berlaku sesuai syarat dan ketentuan yang ditetapkan.
Presiden Komisaris Bundamedik Healthcare System sekaligus Presiden Direktur PT Morula Indonesia, Dr. dr. Ivan R. Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, Sp.OG, menilai setiap kelahiran sebagai pengingat tentang pentingnya harapan. “Setiap bayi yang lahir adalah pengingat bahwa harapan selalu layak untuk diperjuangkan,” ujar Dr. Ivan.
