Pelajar Sorong Disiapkan Jadi Teladan Sebaya Di Ruang Digital Sekolah

Sebanyak 100 pelajar kelas X dan XI dari 10 SMA di Kota Sorong mengikuti Sosialisasi Duta SMA Tahun 2026 yang digelar Dinas Pendidikan Kota Sorong di Gedung Lambert Jitmau, Kantor Wali Kota Sorong, Papua Barat Daya. Kegiatan ini menempatkan siswa bukan hanya sebagai peserta seleksi, tetapi juga sebagai calon penggerak yang disiapkan untuk menjaga iklim digital di sekolah agar tetap sehat, aman, dan produktif.

Program tersebut dirancang untuk membentuk pelajar yang mampu menjadi representasi sekolah sekaligus teladan bagi teman sebaya. Di tengah penggunaan media sosial yang semakin intens di kalangan remaja, Dinas Pendidikan Kota Sorong mendorong siswa agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga hadir sebagai pembawa pengaruh positif di ruang digital.

Pelajar diarahkan jadi teladan sebaya

Ketua Panitia Pelaksana, Andarias Rombe, menegaskan bahwa Duta SMA memiliki fungsi yang strategis dalam lingkungan pendidikan. Ia menyebut para peserta diharapkan bisa memulai gerakan sederhana namun berdampak, mulai dari diskusi sebaya hingga kegiatan literasi digital yang dekat dengan keseharian pelajar.

Andarias juga menyoroti peran pelajar sebagai “peer influencer” atau teladan sebaya. Menurutnya, pesan tentang penolakan terhadap perundungan, eksploitasi digital, dan konten negatif akan lebih mudah diterima jika datang dari sesama pelajar yang memiliki kedekatan emosional.

Pembinaan tidak berhenti pada seleksi

Sosialisasi ini tidak hanya membuka jalan menuju seleksi Duta SMA, tetapi juga memberi pembinaan awal kepada peserta. Materi yang diberikan mencakup kepemimpinan, komunikasi, dan literasi digital, sehingga siswa punya bekal yang lebih lengkap saat kembali ke lingkungan sekolah masing-masing.

Pendekatan ini dipilih karena komunikasi antarpelajar dinilai sering lebih efektif dibanding instruksi formal dari lembaga. Dari pembinaan tersebut, peserta diharapkan mampu memahami tantangan dunia digital dan meresponsnya dengan sikap yang bertanggung jawab.

Sekolah didorong ikut membentuk karakter digital

Program Duta SMA juga menjadi bagian dari upaya pendidikan untuk menjawab perubahan digital yang berlangsung cepat. Sekolah tidak cukup hanya menjalankan fungsi pembelajaran formal, tetapi juga perlu ikut membentuk karakter digital siswa agar lebih siap menghadapi risiko seperti cyberbullying, hoaks, dan konten yang tidak sesuai bagi usia pelajar.

Melalui wadah ini, siswa diarahkan memanfaatkan platform digital sebagai sarana menyebarkan nilai positif. Nilai yang ditekankan mencakup toleransi, empati, dan kolaborasi, dengan harapan budaya digital yang sehat bisa tumbuh dari sekolah ke ruang publik yang lebih luas.

Alumni memberi gambaran peluang yang bisa diraih

Kegiatan sosialisasi turut menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu Azzah Syahla Kalisa Sudaryanto dari SMA Peradaban Al-Izzah dan Bilal Abiyyu Ismail dari SMA Averos Kota Sorong. Keduanya merupakan Duta SMA Tahun 2025 yang berhasil melaju ke tingkat nasional mewakili Papua Barat Daya.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa program Duta SMA membuka peluang yang lebih luas bagi pelajar. Selain menambah pengalaman, ajang ini juga memberi kesempatan untuk memperluas jejaring dan bertemu kompetisi di tingkat yang lebih besar.

Dorongan agar peserta membawa pulang semangat perubahan

Mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sorong, Kepala Bidang PAUD Dessy S. Djitmau mengingatkan peserta agar mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh. Ia meminta para pelajar menyimak materi yang diberikan lalu menerapkannya di sekolah masing-masing.

“Kalian adalah anak-anak hebat yang akan menjadi motivasi bagi adik-adik kalian. Ikuti kegiatan ini dengan baik, dengarkan materi yang disampaikan, lalu terapkan di lingkungan sekolah masing-masing,” kata Dessy. Ia menilai pengalaman dalam seleksi dan pembinaan dapat membentuk karakter serta kepemimpinan siswa, sekaligus mencerminkan mutu pendidikan Kota Sorong bila ada peserta yang mampu melangkah hingga tingkat nasional.

Sosialisasi Duta SMA 2026 sendiri berlangsung selama satu hari dan dibuka melalui penabuhan tifa sebagai tanda dimulainya rangkaian kegiatan. Momen itu memperlihatkan bahwa penguatan karakter, literasi digital, dan nilai lokal dapat berjalan bersama dalam pembinaan pelajar Sorong.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait