Bagi pekerja muda Indonesia, urusan kerja kini tidak berhenti pada gaji atau jabatan. Hampir seluruh Gen Z dan milenial di Indonesia juga menempatkan makna pekerjaan sebagai hal yang penting, dengan 99% Gen Z dan 100% milenial menyebut purpose sebagai faktor utama kepuasan kerja.
Cara pandang itu terlihat saat mereka berhadapan dengan pilihan yang tidak sejalan dengan prinsip pribadi. Sebanyak 44% Gen Z dan 38% milenial mengaku pernah menolak pekerjaan karena tidak sesuai dengan nilai yang mereka pegang.
Di saat yang sama, minat untuk memimpin tetap tinggi di kalangan generasi muda. Deloitte mencatat 85% Gen Z dan 81% milenial di Indonesia tertarik menempati posisi pemimpin di masa depan, meski hanya 3% Gen Z dan 2% milenial yang menjadikannya target karier utama.
Di balik besarnya minat itu, arah tujuan karier mereka justru lebih banyak mengarah ke kemandirian finansial dan keseimbangan hidup. Pada Gen Z, pilihan tertinggi adalah kemandirian finansial sebesar 29%, lalu menjadi ahli di bidangnya sebesar 25%, sedangkan pada milenial kemandirian finansial dan work-life balance sama-sama berada di posisi teratas dengan masing-masing 26%.
Tekanan hidup sehari-hari ikut memengaruhi cara mereka memandang pekerjaan. Kekhawatiran terhadap stres, burnout, dan terganggunya keseimbangan hidup membuat jabatan pimpinan tidak selalu menjadi tujuan utama.
Kondisi ekonomi juga masih membatasi langkah banyak pekerja muda. Sebanyak 54% Gen Z dan 43% milenial mengaku menunda keputusan besar seperti menikah, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis karena kondisi finansial.
Biaya rumah ikut memberi pengaruh besar pada keputusan hidup mereka. Sebanyak 74% Gen Z dan 64% milenial di Indonesia menyatakan keterjangkauan harga rumah berdampak pada pilihan yang mereka ambil, termasuk dalam karier dan rencana pribadi.
Di tengah tekanan itu, kecerdasan buatan justru menjadi alat yang cepat diterima oleh pekerja muda Indonesia. Survei Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan 87% Gen Z dan 88% milenial di Indonesia sudah memakai AI untuk pekerjaan sehari-hari, angka yang lebih tinggi dibanding rata-rata global yang masing-masing berada di 74%.
Pemakaian AI tersebut tidak hanya dipakai untuk tugas rutin. Responden muda di Indonesia juga memanfaatkannya untuk mengembangkan karier, mencari peluang belajar, meminta saran profesional, dan membantu mengelola stres kerja.
Pelatihan Masih Jadi Titik Lemah
Meski penggunaan AI tinggi, kebutuhan pelatihan yang lebih terstruktur masih belum terjawab dengan baik. Gen Z di Indonesia paling banyak menyoroti kurangnya kesempatan pelatihan yang efektif, sedangkan milenial lebih sering menyebut keterbatasan pengetahuan dan pengalaman sebagai hambatan utama.
Aturan kepatuhan perusahaan juga ikut membatasi pemanfaatan AI di tempat kerja. Karena itu, literasi digital dan kemampuan memakai perangkat otomatisasi berbasis AI menjadi keterampilan yang paling ingin dikembangkan oleh responden.
Organization & Transformation Director Deloitte Indonesia, Andika Yalasena, menilai tenaga kerja muda Indonesia sudah selangkah lebih maju dibanding tren global dalam penguasaan AI. Ia mengingatkan keunggulan itu bisa melemah jika perusahaan tidak memperkuat kapasitas karyawan lewat pembelajaran yang sistematis.
Andika juga menekankan pentingnya investasi pada pelatihan AI yang terstruktur agar talenta muda tidak tertinggal. Menurut dia, program pembelajaran berkelanjutan dapat membantu perusahaan menarik dan mempertahankan pekerja unggul yang kelak menjadi penggerak ekonomi digital Indonesia.
Kekhawatiran Sosial dan Lingkungan Tetap Menonjol
Perhatian generasi muda Indonesia ternyata tidak hanya tertuju pada urusan karier. Dalam survei itu, 34% Gen Z dan 41% milenial di Indonesia menyebut korupsi dalam bisnis dan politik sebagai isu sosial utama.
Perubahan iklim dan pelestarian lingkungan juga masuk daftar kekhawatiran penting di kalangan responden. Pola ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya memikirkan penghasilan dan perkembangan diri, tetapi juga isu yang lebih luas di sekeliling mereka.
