Pelindung radiasi baru untuk misi antariksa kini menarik perhatian karena bentuknya sangat tipis, lentur, dan tetap mampu bekerja efektif. Material ini bahkan disebut setipis pita perekat, tetapi dapat membantu melindungi sistem ruang angkasa dari dua jenis radiasi yang selama ini menyulitkan banyak misi.
Keunggulan itu penting karena ruang angkasa tidak hanya menuntut perlindungan, tetapi juga pembatasan bobot. Setiap lapisan pelindung yang terlalu berat bisa menjadi beban besar ketika wahana harus membawa muatan melampaui planet ini.
Material tersebut dikembangkan untuk menjawab masalah yang sering muncul di ekosistem antariksa. Radiasi tidak hanya mengancam astronot, tetapi juga dapat mengganggu perangkat medis, semikonduktor, pembangkit listrik, dan wahana antariksa yang digunakan dalam eksplorasi ruang angkasa.
Menahan dua jenis radiasi sekaligus
Salah satu daya tarik utama material ini ada pada kemampuannya menahan gelombang elektromagnetik dan radiasi neutron secara bersamaan. Hal itu menjadi penting karena radiasi dari satu sistem justru bisa mengganggu sistem lain di sekitarnya.
Gelombang elektromagnetik dan radiasi neutron diketahui dapat membuat semikonduktor bekerja tidak normal. Gangguan itu berpotensi memicu kerusakan pada perangkat lain yang berada dalam lingkungan yang sama.
Disusun dari nanotube khusus
Bahan ini dibuat dari dua komponen, yaitu carbon nanotubes dan boron nitride nanotubes. Carbon nanotubes bersifat konduktif sehingga listrik dan panas dapat mengalir melaluinya, sedangkan boron nitride nanotubes berfungsi menangkap neutron.
Kombinasi keduanya menghasilkan perlindungan yang sangat tinggi. Para peneliti menyebut material ini mampu memblokir 99,999% gelombang elektromagnetik dan 72% radiasi neutron.
Joo Yong-ho, penulis utama dari Extreme Environment Shielding Materials Research Center di Korea Institute of Science and Technology, menggambarkan material itu sebagai bahan yang “setipis pita” dan “sefleksibel karet”. Ia menilai bahan tersebut tetap bisa memblokir gelombang elektromagnetik dan radiasi meski bentuknya sangat ringan.
Lentur dan cocok untuk pencetakan 3D
Selain tipis, material ini juga mudah dibentuk. Bahan tersebut bisa diregangkan hingga dua kali panjang semula, sehingga dinilai mendukung proses pencetakan 3D.
Tim peneliti menguji beberapa bentuk hasil cetak 3D untuk melihat performanya. Saat dibuat dalam pola sarang lebah, kemampuan material untuk melindungi dari radiasi meningkat 15%.
Kelenturan itu memberi ruang lebih luas bagi desain pelindung di masa depan. Para peneliti menilai bahan ini berpotensi menjadi solusi yang jauh lebih ringan tanpa mengurangi fungsi utamanya.
Relevan untuk satelit dan stasiun luar angkasa
Jika terus dikembangkan, material ini dapat dipakai pada satelit, stasiun luar angkasa, dan perlengkapan pelindung bagi pekerja sektor antariksa. Manfaat utamanya terletak pada kemampuan memberi perlindungan kuat tanpa menambah bobot berlebihan.
Bobot selalu menjadi persoalan besar dalam misi antariksa. Karena itu, material tipis dan ringan seperti ini dianggap sesuai untuk kebutuhan teknologi luar angkasa berikutnya.
Pengembangan material tersebut dipublikasikan dalam studi pada 4 Maret di jurnal Advanced Materials. Temuan ini menambah upaya untuk membuat eksplorasi ruang angkasa lebih aman bagi manusia dan perangkat elektronik yang mendukungnya.
