Pemain Terbaik Afrika 1998, Mustapha Hadji Membuat Maroko Diperhitungkan Di Piala Dunia

Panggung terbesar Mustapha Hadji datang saat Maroko tampil di Piala Dunia 1998. Di turnamen itu, ia bukan sekadar pengisi lini tengah, melainkan pengatur ritme yang membuat permainan Singa Atlas terasa lebih hidup dan lebih berani.

Sorotan kepada Hadji tidak lahir hanya dari satu gol, tetapi dari pengaruhnya terhadap cara Maroko menyerang. Ia bergerak sebagai penghubung antara lini tengah dan lini depan, sehingga aliran bola timnya lebih lancar ketika menghadapi lawan-lawan kuat di Grup A.

Di fase grup, Maroko bersaing dengan Brasil, Norwegia, dan Skotlandia. Hasil akhirnya memang belum cukup untuk membawa mereka lolos, tetapi satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan sudah menunjukkan bahwa tim itu tampil kompetitif.

Momen yang paling lekat dengan namanya adalah gol ke gawang Norwegia. Aksi itu memperlihatkan kualitas Hadji sebagai playmaker yang punya kontrol bola baik dan penyelesaian akhir yang cerdas.

Performa seperti itu membuat namanya mendapat perhatian besar di tingkat internasional. Ia kemudian dipuji bukan hanya karena bisa mencetak gol, tetapi juga karena mampu mengubah cara Maroko membangun serangan dari tengah.

Peran yang sulit digantikan di timnas

Dalam skuad Maroko, Hadji dikenal sebagai pemain yang memberi keseimbangan. Ia bisa mengatur tempo, membaca ruang, dan menjaga serangan tetap mengalir tanpa membuat permainan kehilangan arah.

Catatan internasionalnya juga menunjukkan betapa penting perannya. Ia mencatat 64 penampilan dan 12 gol bersama tim nasional, serta tampil di dua Piala Dunia FIFA bersama Maroko.

Jumlah itu memang hanya bagian dari gambaran besarnya, karena kontribusi Hadji tidak selalu terlihat lewat angka. Saat ia berada di lapangan, Maroko punya sosok yang bisa menyambungkan fase bertahan ke fase menyerang dengan lebih efisien.

Jejak panjang sebelum dan sesudah Portugal

Jauh sebelum namanya bersinar di panggung Piala Dunia, Hadji membangun reputasi bersama AS Nancy. Ia bergabung pada 1991 dan tampil konsisten selama lima musim, dengan koleksi 31 gol yang tergolong besar untuk seorang gelandang serang.

Performa tersebut membuka pintu ke level yang lebih tinggi. Sporting CP kemudian merekrutnya pada 1996 karena melihat kemampuan olah bola dan naluri menyerang yang kuat.

Kariernya setelah itu berjalan lintas negara dan klub. Ia sempat membela Deportivo La Coruna, Coventry City, Aston Villa, RCD Espanyol, Al Ain FC, lalu menutup perjalanan bermain bersama CS Fola Esch.

Pengakuan yang datang seiring pengaruhnya

Tahun gemilang Hadji di Piala Dunia 1998 juga berbuah pengakuan pribadi. Ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika pada tahun yang sama, sebuah penegasan atas statusnya sebagai salah satu figur besar sepak bola benua itu.

Warisan Hadji tidak berhenti setelah masa bermainnya usai. Pada 2014, ia kembali ke tim nasional Maroko sebagai asisten pelatih di bawah arahan Herve Renard.

Keterlibatan itu ikut memberi warna pada perjalanan Maroko menuju Piala Dunia 2018 setelah penantian panjang selama dua dekade. Di luar peran formalnya, Hadji juga disebut menjadi inspirasi bagi generasi baru pemain Maroko yang kini tampil di level internasional.

Lahir dari latar belakang Prancis-Maroko, Hadji tetap dikenang sebagai salah satu legenda terbesar sepak bola Maroko dan Afrika. Dengan 64 caps, 12 gol, dan pengaruh besar di Piala Dunia 1998, namanya terus melekat pada periode ketika Maroko tampil lebih percaya diri di panggung dunia.

Source: www.suara.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer