PT Matahari Department Store Tbk dengan kode saham LPPF resmi akan memakai nama baru PT MDS Retailing Tbk. Perubahan identitas itu sudah disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar pada Rabu, 15 April 2026, lalu diumumkan ke publik melalui keterbukaan informasi pada Senin, 20 April 2026.
Keputusan tersebut menandai langkah penting bagi emiten ritel yang selama ini lekat dengan nama Matahari. Persetujuan itu didukung oleh mayoritas saham yang hadir, sehingga perubahan nama perusahaan kini memiliki dasar formal yang kuat di level korporasi.
Dukungan mayoritas di RUPSLB
Dalam rapat itu, usulan perubahan nama disahkan lewat pemungutan suara. Sebanyak 1.588.241.118 lembar saham, atau setara 93,181 persen dari total hak suara yang hadir, menyatakan setuju.
Dalam ringkasan risalah rapat yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, perseroan menegaskan keputusan tersebut secara resmi. Dokumen itu memuat pernyataan bahwa perusahaan menyetujui perubahan nama dari PT Matahari Department Store Tbk menjadi PT MDS Retailing Tbk.
Dukungan sebesar itu menunjukkan bahwa langkah pergantian nama memperoleh legitimasi dari pemegang saham. Bagi pasar, keputusan ini memberi sinyal bahwa perusahaan sedang menata ulang identitas korporasinya tanpa mengubah posisi pentingnya di sektor ritel.
Perubahan yang menyentuh anggaran dasar
Pergantian nama bukan sekadar pembaruan tampilan. Keputusan ini juga berkaitan langsung dengan pasal dalam anggaran dasar perusahaan yang mengatur identitas hukum perseroan.
Amandemen dilakukan pada Pasal 1 ayat (1) Anggaran Dasar Perseroan. Bagian ini memang memuat nama resmi entitas bisnis, sehingga perubahan di sana menjadi dasar legal bagi penggunaan nama baru PT MDS Retailing Tbk ke depan.
Bagi perusahaan publik, perubahan semacam ini kerap dipahami sebagai bagian dari penyesuaian yang lebih luas. Identitas korporasi, struktur kepemilikan, dan arah usaha sering berjalan beriringan ketika sebuah emiten memutuskan untuk memperbarui nama resminya.
Nama Matahari dan jejak panjang bisnis ritel
Nama Matahari sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Perusahaan ini berawal dari pendirian pada 24 Oktober 1958 di Jakarta oleh Hari Darmawan, lalu berkembang menjadi salah satu merek ritel yang paling familiar di tanah air.
Setelah Hari Darmawan wafat pada Maret 2018, perusahaan tetap melanjutkan operasionalnya di tengah perubahan pasar yang terus bergerak. Kondisi industri ritel yang dinamis membuat perusahaan harus menyesuaikan identitas dan struktur bisnis agar tetap relevan.
Keputusan memakai nama PT MDS Retailing Tbk kemudian menutup penggunaan nama Matahari Department Store yang selama ini melekat kuat di publik. Meski demikian, jejak sejarah panjangnya tetap menjadi bagian penting dari perjalanan perusahaan.
Perjalanan struktur bisnis dan perubahan pengendali
Sejarah korporasi LPPF juga ditandai oleh sejumlah perubahan struktur bisnis. Pada 1986, PT Matahari Putra Prima Tbk didirikan, lalu melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1992.
Lini department store kemudian dipisahkan dan bergerak dengan struktur yang lebih mandiri. Pada 2009, divisi department store diakuisisi oleh afiliasi MPP dan mulai beroperasi mandiri dengan kode saham LPPF.
Setelah itu, perubahan pengendali juga terjadi. Pada 2010, kendali berpindah ke PT Meadow Indonesia, anak usaha Asia Color Company Limited atau ACC di bawah CVC Asia Fund III, melalui proses merger yang selesai setahun kemudian.
Sejak 2021, posisi pemegang saham pengendali beralih ke Grup Auric melalui Auric Capital. Struktur kepemilikan tersebut masih berlaku hingga kini dan menjadi latar penting dari keputusan perubahan nama perseroan.
Babak baru bagi LPPF
Dengan nama PT MDS Retailing Tbk, perseroan memasuki fase baru dalam identitas korporasi. Perubahan ini tidak menghapus sejarah pendirian, perjalanan bisnis, maupun rangkaian peralihan pengendali yang telah membentuk perusahaan selama bertahun-tahun.
Bagi emiten LPPF, keputusan pemegang saham ini menjadi penanda resmi bahwa perusahaan kini bergerak dengan nama baru. Di saat yang sama, pasar tetap akan mencermati bagaimana identitas tersebut berjalan seiring dengan bisnis ritel yang selama ini menjadi inti perhatian publik.
