Retakan di Afrika Timur kini bergerak dalam laju yang mengejutkan para ilmuwan. Perubahan itu bukan hanya soal kerak benua yang meregang, tetapi juga tentang dua dorongan besar yang bekerja bersamaan dari bawah dan dari atas permukaan bumi.
Di kawasan East African Rift System, pelemahan kerak terus berlangsung dan memunculkan retakan besar di sejumlah titik. Jalur tektonik yang membentang dari Ethiopia hingga Mozambik ini menjadi salah satu wilayah paling aktif di dunia, sekaligus lokasi penting untuk melihat bagaimana sebuah benua perlahan bisa terpecah.
Dorongan dari dalam bumi
Salah satu pemicu utama datang dari aktivitas magma di Afar, Ethiopia. Peneliti dari University of Pisa menyoroti bahwa batuan panas dari mantel bumi membantu menipiskan kerak lebih cepat di wilayah itu.
Sumber panas tersebut dikaitkan dengan superplume, yaitu aliran material panas dari bagian dalam bumi yang menekan lapisan kerak dari bawah. Tekanan ini ikut melemahkan struktur benua, sementara aktivitas vulkanik dan gempa bumi di kawasan tersebut juga ikut meningkat.
Tekanan di permukaan ikut berubah
Bukan hanya proses dari dalam bumi yang mempercepat retakan. Perubahan iklim yang membuat kawasan Afrika Timur semakin kering juga ikut memberi pengaruh nyata pada laju pemisahan.
Penelitian yang dimuat dalam Scientific Reports menyebut pengeringan iklim sejak 5.000 tahun lalu ikut mempercepat proses tersebut. Tim ilmuwan dari University of Auckland dan Syracuse University menemukan bahwa penyusutan air di danau-danau besar Afrika Timur mengurangi beban di permukaan bumi.
Pengurangan beban itu memicu peningkatan pergeseran kerak bumi sekitar 0,17 milimeter per tahun di atas laju alami. Angkanya tampak kecil, tetapi dalam proses tektonik, perubahan sekecil itu bisa memberi dampak besar jika berlangsung sangat lama.
Jejak yang mulai terlihat jelas
Dampak penipisan kerak paling nyata terlihat di Turkana Rift Zone, Kenya. Lapisan kerak di wilayah itu dilaporkan tinggal sekitar 13 kilometer, menandakan proses pelemahan yang sudah jauh berjalan.
Retakan besar juga terus muncul dan diamati di beberapa wilayah, termasuk retakan yang muncul tiba-tiba di Kenya setelah hujan deras atau aktivitas seismik. Kondisi ini menunjukkan bahwa perenggangan benua tidak hanya berlangsung jauh di bawah permukaan, tetapi juga mulai meninggalkan tanda fisik yang bisa dilihat langsung.
Bagi warga yang tinggal di sekitar jalur East African Rift System, keadaan ini berarti risiko gempa bumi dan erupsi gunung api dapat meningkat seiring makin aktifnya patahan. Kerak yang terus menipis membuat kawasan itu semakin rentan terhadap perubahan geologi yang masih berlangsung.
Masih lama, tetapi arahnya sudah jelas
Para ahli menilai pemisahan Afrika memang bergerak lebih cepat dari perkiraan awal, tetapi tetap berada dalam skala milimeter per tahun. Karena itu, pembentukan samudra baru belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Meski demikian, Afrika Timur memberi kesempatan langka untuk mempelajari perubahan dari retakan benua menuju pemekaran samudra. Proses seperti ini pernah terjadi dalam sejarah geologi bumi dan menjadi kunci untuk memahami bagaimana peta daratan terus berubah.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa pemisahan benua tidak dipicu satu faktor saja. Magma, pergeseran lempeng, dan perubahan iklim saling berkaitan, lalu bersama-sama membentuk lanskap baru yang pada akhirnya dapat mengubah wajah benua itu dalam jutaan tahun mendatang.
