Maybank Indonesia tetap membukukan kinerja laba yang positif di tengah pasar keuangan yang masih bergejolak. Pada kuartal I/2026, laba sebelum pajak atau PBT mencapai Rp397 miliar dan laba setelah pajak serta kepentingan nonpengendali atau PATAMI tercatat Rp299 miliar.
Kinerja itu ditopang oleh kualitas aset yang membaik dan beban pencadangan yang turun tajam. Perseroan mencatat penurunan beban pencadangan 47,9% menjadi Rp123 miliar, sehingga laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP tetap berada di level Rp523 miliar.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan hasil kuartal pertama masih dipengaruhi tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar. Dalam kondisi tersebut, bank menyesuaikan ekspektasi sambil tetap memburu peluang pertumbuhan di segmen ritel, non-ritel, korporasi, dan Perbankan Syariah.
Tekanan pasar juga terasa pada pendapatan non-bunga. Aktivitas trading surat berharga dan valuta asing di Global Markets ikut tertekan, sementara pendapatan fee non-GM menurun, meski fee Premier Wealth tumbuh 20,0%.
Akibatnya, pendapatan non-bunga atau NOII terkoreksi 29,6% menjadi Rp402 miliar. Meski begitu, pendapatan bunga bersih atau NII masih naik 2,1% menjadi Rp1,81 triliun, dengan margin bunga bersih atau NIM bertahan di 4,3%.
Gross Operating Income Maybank Indonesia tercatat Rp2,22 triliun, lebih rendah dibanding Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Beban operasional naik 4,5% seiring aktivitas bisnis yang tetap berjalan.
Di sisi pembiayaan, segmen Community Financial Services atau CFS menunjukkan pertumbuhan yang solid. Kredit non-ritel CFS naik 7,1% menjadi Rp39,89 triliun, didorong kredit Business Banking yang tumbuh 15,6% dan SME+ yang naik 12,3%.
Kredit ritel CFS juga bertambah 4,1% berkat pembiayaan otomotif dan kredit konsumer. Secara keseluruhan, kredit CFS tumbuh 5,4% menjadi Rp88,33 triliun, sementara total kredit yang disalurkan relatif stabil di Rp121,99 triliun hingga Maret 2026.
Dari sisi dana pihak ketiga, simpanan nasabah naik 6,1% menjadi Rp118,35 triliun. Pertumbuhan itu ditopang giro yang melonjak 37,5%, sehingga rasio CASA meningkat menjadi 61,2% dari 53,0% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Total aset Maybank Indonesia juga naik 1,2% menjadi Rp192,17 triliun. Di saat yang sama, posisi permodalan tetap sangat kuat dengan CAR di 26,3% dan CET1 sebesar 25,2%.
Likuiditas bank pun terjaga sehat. Loan-to-Deposit Ratio Bank-only berada di 85,5%, Liquidity Coverage Ratio mencapai 146,2%, dan Net Stable Funding Ratio tercatat 112,4%.
Unit syariah menjadi salah satu penopang tambahan di tengah tekanan pasar. Total pembiayaan syariah tumbuh 10,4% menjadi Rp32,23 triliun, dengan kontribusi dari pembiayaan CFS Syariah yang naik 10,4% dan GB Syariah yang meningkat 10,3%.
Pembiayaan ritel syariah tumbuh 12,5%, terutama dari pembiayaan properti. Pada saat yang sama, pembiayaan korporasi GB-LLC melonjak 30,2% dan memperlihatkan peran korporasi yang makin besar.
Total pembiayaan syariah menyumbang 30,2% terhadap total portofolio pembiayaan bank. Aset syariah juga berkontribusi 24,5% terhadap total aset, sementara dana simpanan perbankan syariah tumbuh 7,5% menjadi Rp35,50 triliun.
Rasio CASA syariah naik ke 69,1% dari 57,6% pada Maret 2025. Kualitas aset unit ini juga membaik, dengan NPF gross 2,2% dan NPF net 1,5%.
PPOP perbankan syariah meningkat 20,9% karena kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil dan pertumbuhan fee. Beban pencadangan syariah turun 69,8%, sedangkan PBT unit ini mencapai Rp226 miliar, naik 52,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Steffano menyebut Maybank Indonesia akan terus menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank. Arah penguatan bisnis inti juga akan mengikuti strategi ROAR30 Maybank Group, sementara Presiden Komisaris Dato’ Sri Khairussaleh Ramli menegaskan fokus pada penguatan fundamental UKM sejalan dengan strategi pertumbuhan berkelanjutan grup.
Source: finansial.bisnis.com