Pendampingan BRI Bawa Cokelatin Tembus Ekspor, Perempuan UMKM Naik Kelas dari Rumah BUMN

Dari pendampingan Rumah BUMN BRI, Cokelatin berhasil melangkah jauh dari pasar lokal hingga menembus ekspor. Perjalanan ini menunjukkan bahwa akses pembinaan, promosi, dan ekosistem digital bisa menjadi pengungkit penting bagi UMKM perempuan untuk naik kelas.

Kisah itu ikut mengemuka lewat Bazaar Srikandi Pertiwi yang diinisiasi melalui program Rumah BUMN. Ajang tersebut menjadi ruang apresiasi bagi karya perempuan Indonesia sekaligus etalase yang membuka peluang promosi lebih luas bagi produk-produk unggulan.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, dukungan seperti ini menjadi semakin relevan. Pelaku usaha kecil tidak hanya membutuhkan produk yang bagus, tetapi juga akses ke jaringan dan saluran pemasaran yang lebih kuat agar bisa bertahan dan berkembang.

Cokelatin tumbuh dari racikan sederhana

Cokelatin adalah bisnis cokelat artisan yang dirintis Irene Farriha pada 2016. Sebelum membangun usaha itu, Irene bekerja di bidang event organizer dan mulai tertarik pada bisnis cokelat setelah racikan minumannya mendapat respons positif dari rekan kerja.

Dari situ, Irene membangun Cokelatin dengan arah yang jelas, yakni menghadirkan produk premium dan menjangkau pasar yang lebih luas. Karakter itu menjadi pembeda utama di tengah pasar cokelat olahan yang kompetitif.

Kualitas produk dijaga melalui penggunaan biji kakao Premium Grade 1 dengan proses fermentasi yang ketat. Cokelatin juga memakai varietas kakao langka dari Jawa Timur yang menurut Irene jumlahnya hanya sekitar 5% di dunia.

Pukulan pandemi memaksa perubahan

Meski punya produk unggulan, Irene mengakui usaha tidak selalu mudah tumbuh. Ia sempat kesulitan mengedukasi pasar dan belum optimal memanfaatkan teknologi digital.

Situasi makin berat saat pandemi COVID-19 pada 2020 datang. Ketika bisnis belum go online, Cokelatin terdampak cukup keras dan memaksa Irene melakukan transformasi secara menyeluruh.

Dari titik itu, pendampingan Rumah BUMN BRI menjadi bagian penting dalam perbaikan usaha. Dukungan yang diberikan mencakup pembuatan situs web dan optimalisasi e-commerce agar penjualan bisa menjangkau pasar yang lebih luas.

Irene menilai pendampingan tersebut tidak berhenti pada pelatihan teknis. Baginya, proses itu juga membuka ruang dialog sehingga kebutuhan usaha benar-benar dipahami dan dijawab.

Dari pembinaan ke panggung luar negeri

Dampak pembinaan itu terlihat ketika Cokelatin mengikuti pameran internasional di Boston pada 2022. Kehadiran di ajang tersebut menjadi momentum penting karena membuka jalan bagi ekspor perdana produk Cokelatin.

Irene menyebut kesempatan itu sebagai batu lompatan besar bagi usahanya. Dari sana, Cokelatin mulai memperoleh pembeli dan mengirim barang ke pasar luar negeri.

Perjalanan ini memperlihatkan bahwa pendampingan yang tepat dapat mengubah arah UMKM dari pasar lokal menuju pasar yang lebih luas. Bagi perempuan pelaku usaha, kesempatan seperti ini juga berarti ruang tumbuh yang lebih besar tanpa harus kehilangan identitas produk.

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa Rumah BUMN memiliki peran vital dalam meningkatkan daya saing pelaku usaha. Program ini mendorong UMKM bertransisi dari pasar lokal ke ekosistem digital dan pasar ekspor.

Akhmad menyebut banyak pelaku usaha yang semula hanya menjual produk di pasar lokal kini sudah memasarkan produk secara daring. Sebagian di antaranya bahkan berhasil menembus pasar ekspor setelah mendapat pendampingan berkelanjutan.

Hingga kini, BRI mengelola puluhan Rumah BUMN di berbagai wilayah Indonesia. Ribuan pelaku usaha telah menerima pelatihan strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah persaingan yang semakin ketat.

Berita Terkait