Tragedi di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, menjadi sorotan setelah Aipda Yudhi Perdana Putra dari Satresnarkoba Polres Katingan gugur dalam penggerebekan narkoba. Insiden itu juga membuat dua anggota polisi lain belum ditemukan hingga proses pencarian masih berlangsung.
Peristiwa tersebut tidak berhenti pada bentrokan antara aparat dan pelaku, tetapi melebar menjadi pertanyaan besar tentang mengapa sebagian warga justru ikut membela pihak yang diduga bandar narkoba. Dalam penjelasan sejumlah pihak, kedekatan sosial di lingkungan sekitar diduga ikut memperkuat perlawanan terhadap polisi.
Operasi yang berujung bentrokan massal
Penggerebekan itu bermula dari laporan masyarakat mengenai maraknya peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei. Target operasi adalah dua residivis kasus narkoba berinisial BIO dan BUSU yang diduga kembali menjalankan bisnis haram di wilayah tersebut.
Tim gabungan yang dipimpin Kasatresnarkoba Polres Katingan bergerak pada Rabu malam sekitar pukul 21.00 WIB. Sebanyak 12 personel tiba di lokasi sasaran sekitar pukul 00.30 WIB lalu dibagi menjadi dua kelompok untuk penyergapan dan pengamanan area sekitar sekolah.
Situasi semula berjalan sesuai rencana dan polisi berhasil mengamankan salah satu pelaku. Namun keadaan berubah saat seorang pria yang diduga anggota keluarga korban keluar dari arah dapur sambil mengayunkan parang ke arah petugas.
Tidak lama setelah itu, dua pria lain ikut menyerang Kasatresnarkoba dengan parang. Polisi sempat melepaskan tembakan peringatan, tetapi serangan tidak berhenti sehingga tindakan tegas terukur diambil dan mengenai Teriyo, warga setempat berusia 40 tahun.
Massa datang, aparat mundur ke sungai
Kematian Teriyo memicu kemarahan warga di lokasi. Ratusan orang kemudian berdatangan dan situasi langsung tak terkendali karena sebagian membawa parang, balok kayu, hingga senjata api rakitan.
Jumlah massa yang jauh lebih besar membuat polisi terdesak dan tidak punya banyak ruang untuk bertahan. Tim kemudian mundur sambil meminta bantuan ke Polres Katingan dan Polsek Katingan Tengah.
Sejumlah anggota lari menuju sungai dan menyeberang ke pulau kecil di tengah aliran air untuk mencari perlindungan sementara. Namun posisi itu justru membuat mereka terjebak dalam tekanan massa yang terus mengejar.
Dalam upaya menyelamatkan diri dengan berenang, tiga anggota disebut kelelahan. Menurut laporan, mereka sempat mengatakan, “saya menyerah,” sebelum kembali ke tepian sungai yang sudah dipenuhi warga.
Korban jiwa dan pencarian personel yang hilang
Aipda Yudhi ditemukan di atas sebuah lanting di tepi sungai dengan luka parah di bagian kepala yang diduga akibat serangan senjata tajam. Jenazahnya kini berada di RS Bhayangkara Palangka Raya untuk autopsi dan kepentingan penyidikan.
Dua anggota lain, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, masih dicari karena belum diketahui keberadaannya. Setelah situasi mulai bisa dikendalikan, aparat melakukan penyisiran untuk menemukan personel yang belum ditemukan.
Hingga proses evakuasi selesai, sembilan anggota berhasil diselamatkan. Di sisi lain, lima anggota polisi lain dilaporkan selamat setelah bersembunyi di kawasan hutan sampai situasi memungkinkan untuk dievakuasi.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono mengatakan fokus utama saat ini adalah menemukan dua personel yang hilang. Operasi pencarian dilakukan di sepanjang aliran sungai Desa Tumbang Kalemei bersama unsur terkait.
Warga yang membela bandar narkoba jadi perhatian
Kasus ini memunculkan dugaan adanya dukungan warga terhadap jaringan narkoba di sekitar lokasi. Pakar Hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Trisno Raharjo, menilai perlawanan semacam ini tidak selalu muncul secara spontan.
Ia menjelaskan bahwa pelaku narkoba kerap berbaur dengan masyarakat sehingga tidak mudah dipisahkan dari lingkungan sosialnya. Trisno juga menyoroti kemungkinan adanya hubungan timbal balik, misalnya ketika warga merasa terbantu oleh keberadaan bandar.
“Karena memang terkadang itu dia (pelaku) bukan tempat tersembunyi, justru dia berada di lingkungan masyarakat,” kata Trisno. Ia menambahkan bahwa pembinaan terhadap warga penting agar mereka tidak memberi perlindungan kepada bandar narkoba.
Dari sudut pandang penegakan hukum, kondisi seperti ini menjadi tantangan besar. Penindakan terhadap pelaku tidak akan efektif bila lingkungan sekitar masih menutup-nutupi atau bahkan membela jaringan peredaran barang haram tersebut.
Evaluasi risiko operasi dan pengerahan Brimob
Trisno juga menilai penggerebekan di kawasan yang diduga menjadi sarang narkoba harus didahului perhitungan risiko yang matang. Menurut dia, potensi perlawanan seharusnya sudah diperhitungkan sejak awal operasi.
“Penggerebekan ini kemungkinan mendapat perlawanan. Nah, seharusnya itu telah diperhitungkan atau belum,” ujarnya. Ia meminta prosedur operasi atau SOP dievaluasi agar kejadian serupa tidak berulang.
Pakar Hukum Pidana UGM, Sigid Riyanto, menambahkan bahwa penyerangan terhadap aparat hingga menimbulkan korban meninggal dapat dijerat dengan ketentuan pidana yang lebih berat. Menurut dia, pemberatan perlu dilihat dalam tindak pidana terhadap aparat penegak hukum dan ketertiban umum.
Untuk mengamankan lokasi, Polda Kalimantan Tengah mengerahkan 50 personel Brimob ke Desa Tumbang Kalemei. Pasukan itu bertugas mencegah bentrokan susulan, memburu pelaku pembacokan, dan membantu mengungkap jaringan narkoba yang menjadi target operasi.
Kapolres Katingan menyebut situasi sudah kondusif dan keluarga pelaku telah meninggalkan lokasi. Namun fokus aparat belum bergeser dari dua hal utama, yakni pencarian dua anggota yang hilang dan penyelesaian kasus penggerebekan yang berakhir maut.
Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, turut menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Aipda Yudhi Perdana Putra. Ia mendesak agar para pelaku penyerangan dan jaringan bandar narkoba yang terlibat diproses hukum tanpa ada ruang perlindungan apa pun.
Kasus Katingan memperlihatkan bahwa perang melawan narkoba tidak hanya berhadapan dengan pelaku di lapangan, tetapi juga dengan jejaring sosial di sekitarnya. Di titik seperti ini, pembelaan warga terhadap bandar narkoba berubah menjadi ancaman langsung bagi keselamatan aparat dan warga sendiri.
Source: www.suara.com






