Cuaca kemarau yang tidak stabil di sejumlah wilayah Indonesia menempatkan masyarakat pada risiko kesehatan yang lebih berlapis. Siang bisa terasa sangat panas, lalu sore atau malam berubah menjadi hujan deras disertai angin kencang.
Kondisi kemarau basah dan pancaroba seperti ini membuat tubuh lebih mudah terganggu. Debu, polusi, genangan air, hingga keterbatasan air bersih dapat membuka jalan bagi sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai sejak awal.
Paparan panas dapat memicu dehidrasi hingga heatstroke
Cuaca terik dalam waktu lama membuat tubuh mengeluarkan banyak keringat untuk menurunkan suhu. Jika cairan dan elektrolit tidak segera diganti, dehidrasi dapat terjadi dan berkembang menjadi kelelahan akibat panas atau heat exhaustion.
Pada kondisi yang lebih berat, suhu tubuh bisa naik hingga sekitar 40 derajat celsius dan tubuh kehilangan kemampuan mendinginkan diri. Heatstroke merupakan keadaan darurat medis dengan gejala kulit panas dan kering, denyut jantung cepat, urine pekat, pusing berat, hingga penurunan kesadaran.
ISPA mudah menyerang saat udara kering
Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA termasuk gangguan yang sering muncul ketika udara menjadi lebih kering. Debu, serbuk sari, dan partikel polusi bertahan lebih lama di udara, lalu lebih mudah masuk ke saluran napas.
Iritasi pada hidung dan tenggorokan bisa memudahkan virus maupun bakteri memicu infeksi. Gejalanya umumnya berupa tenggorokan kering, batuk, pilek, bersin, hidung tersumbat, dan demam ringan.
Demam berdarah tetap berisiko saat kemarau diselingi hujan
Banyak orang mengaitkan demam berdarah dengan musim hujan, padahal musim kemarau yang diselingi hujan juga berisiko. Genangan air bersih di talang, ember, pot tanaman, dan barang bekas bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.
Kementerian Kesehatan menyebut suhu hangat di atas 30 derajat celsius dapat mempercepat siklus perkembangan virus dengue dalam tubuh nyamuk. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, serta bintik merah pada kulit.
Diare meningkat ketika sanitasi menurun
Ketersediaan air bersih yang berkurang saat kemarau dapat memaksa sebagian masyarakat memakai air dengan kualitas sanitasi yang kurang baik. WHO menempatkan keterbatasan air bersih sebagai salah satu faktor utama meningkatnya penyakit yang ditularkan lewat makanan dan air.
Suhu hangat juga mempercepat perkembangbiakan lalat yang bisa membawa bakteri ke makanan terbuka. Diare biasanya ditandai buang air besar cair lebih dari tiga kali sehari, kram perut, mual, muntah, dan tubuh lemas akibat kehilangan cairan.
Konjungtivitis lebih mudah muncul karena debu dan polusi
Debu dan polusi yang beterbangan saat kemarau dapat mengiritasi mata dan memicu konjungtivitis. Peradangan pada selaput bening mata ini juga bisa terjadi ketika tangan yang kotor digunakan untuk mengucek mata.
Gejalanya meliputi mata merah, perih, terasa mengganjal, keluar kotoran mata lebih banyak, dan lebih sensitif terhadap cahaya. Bila tidak dijaga, infeksi dapat menyebar ke mata lainnya atau menular ke orang lain.
Langkah pencegahan yang disarankan
Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat menjaga pola hidup bersih dan sehat selama musim kemarau. Kebutuhan cairan perlu dipenuhi sekitar dua hingga tiga liter atau delapan hingga sepuluh gelas air putih setiap hari.
Untuk aktivitas luar ruangan, penggunaan masker medis atau masker kain tiga lapis, kacamata pelindung, dan tabir surya minimal SPF 30 dapat membantu mengurangi dampak paparan debu, polusi, dan sinar matahari. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menghindari makanan terbuka, serta tetap menjalankan 3M Plus juga penting untuk menekan risiko penyakit.
Demam yang berlangsung lebih dari dua hari, diare berdarah, muntah terus-menerus, atau tanda dehidrasi berat seperti penurunan kesadaran perlu segera mendapat penanganan di puskesmas atau rumah sakit. Dengan kewaspadaan sejak awal, dampak cuaca labil pada musim kemarau bisa ditekan sebelum berubah menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
| Penyakit | Pemicu Utama | Gejala Kunci |
|---|---|---|
| ISPA | Udara kering, debu, polusi | Tenggorokan kering, batuk, pilek, bersin |
| Demam berdarah | Genangan air, suhu hangat | Demam tinggi mendadak, nyeri belakang mata |
| Diare | Sanitasi menurun, makanan terpapar lalat | Bab cair, kram perut, muntah |
| Dehidrasi dan heatstroke | Paparan panas berkepanjangan | Urine pekat, pusing berat, penurunan kesadaran |
| Konjungtivitis | Debu, polusi, tangan kotor | Mata merah, perih, sensitif cahaya |







