Penyelidikan kepolisian di Trinidad dan Tobago kini berfokus pada temuan 56 jenazah di sebuah pemakaman di Cumuto. Dari jumlah itu, 50 diketahui merupakan bayi, sehingga kasus ini langsung memicu perhatian besar dari publik dan aparat.
Trinidad and Tobago Police Service atau TTPS menduga ada unsur pembuangan jenazah yang tidak sah. Polisi masih menelusuri asal-usul setiap jenazah dan memeriksa apakah ada pelanggaran dalam prosedur penanganan yang seharusnya dijalankan.
Jenazah bayi mendominasi temuan
Komposisi jenazah yang ditemukan membuat kasus ini menjadi sangat sensitif. Selain 50 bayi, polisi menyebut ada empat jenazah laki-laki dewasa dan dua jenazah perempuan dewasa.
Dari enam jenazah dewasa itu, setidaknya satu perempuan dan satu laki-laki diketahui menunjukkan tanda pernah menjalani pemeriksaan post-mortem. Temuan ini membuat penyelidikan tidak hanya menyangkut pembuangan jenazah, tetapi juga membuka kemungkinan adanya masalah dalam alur medis dan administrasi.
Polisi belum menyatakan siapa pihak yang bertanggung jawab. Namun, TTPS menilai temuan awal cukup kuat untuk mendorong pemeriksaan menyeluruh terhadap proses yang membuat puluhan jasad itu berakhir di pemakaman tanpa penjelasan yang jelas.
Area pemakaman langsung diamankan
Jenazah tersebut ditemukan di Cumuto, sekitar 40 kilometer dari ibu kota Port of Spain. Begitu informasi itu diterima, polisi bergerak cepat untuk mengamankan lokasi dan melakukan pemeriksaan lapangan.
Unit khusus juga dikerahkan ke tempat kejadian, termasuk tim yang menangani pembunuhan. Langkah itu menunjukkan bahwa kepolisian memandang kasus ini sebagai persoalan serius yang membutuhkan penanganan menyeluruh dari sisi lapangan maupun forensik.
Petugas kini berupaya menelusuri jejak penanganan jenazah sebelum akhirnya ditemukan di area pemakaman. Penelusuran itu penting untuk memastikan apakah ada rangkaian tindakan yang melanggar hukum dan prosedur.
Respons kepolisian dan perhatian publik
Komisioner Polisi Allister Guevarro menyebut penemuan itu sangat mengganggu dan berpotensi melukai perasaan keluarga maupun masyarakat. Ia menegaskan TTPS menangani kasus ini dengan cepat, sensitif, dan berkomitmen untuk mengungkap kebenaran.
“Every cadaver must be handled with dignity and lawful care,” ujar Guevarro. Ia juga menegaskan bahwa siapa pun atau institusi apa pun yang melanggar kewajiban tersebut harus dimintai pertanggungjawaban penuh.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kasus ini bukan hanya soal pelanggaran hukum. Kasus ini juga menyentuh persoalan penghormatan terhadap martabat jenazah, terutama karena sebagian besar yang ditemukan adalah bayi dan anak-anak.
Muncul di tengah iklim keamanan yang tegang
Kasus ini menjadi sorotan di saat Trinidad dan Tobago menghadapi situasi keamanan yang lebih luas. Negara kepulauan di utara Venezuela itu disebut sedang mengalami peningkatan kekerasan geng dalam beberapa waktu terakhir.
Pada December 2024, pemerintah menetapkan keadaan darurat untuk menekan kekerasan geng. Kebijakan itu awalnya berlaku 15 hari, kemudian tetap berlanjut, dan Majelis Rendah pada Maret memutuskan memperpanjangnya tiga bulan lagi.
Dalam keterangannya kala itu, Perdana Menteri Kamla Persad-Bissessar mengatakan 373 orang telah ditahan di bawah proclamasi keadaan darurat. Kebijakan tersebut juga memberi aparat kewenangan lebih luas untuk melakukan penangkapan serta memasuki properti publik maupun privat.
Data dalam laporan menunjukkan tingkat pembunuhan di negara itu melonjak sejak pandemi COVID-19 pada 2020. Saat itu, angkanya berada di sekitar 20 per 100.000 penduduk, lalu naik menjadi 45,7 per 100.000 pada 2024, yang menjadi angka tertinggi yang pernah tercatat.
Meski angka itu turun menjadi sekitar 27 per 100.000 penduduk pada 2025, temuan 56 jenazah di Cumuto tetap memunculkan pertanyaan besar. Polisi kini terus memusatkan perhatian pada asal-usul jenazah, jalur penanganannya, dan kemungkinan adanya pelanggaran yang membuat kasus ini begitu serius.
