Perak justru tampil paling kuat di tengah pasar logam mulia yang kembali dibayangi ketegangan Timur Tengah dan perubahan ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat. Saat emas mulai tersendat, perak bergerak lebih agresif dan mencatat kenaikan yang jauh lebih cepat dalam waktu singkat.
Refinitiv mencatat harga perak ditutup di US$ 78,48 per troy ons pada Kamis (7/5/2026), naik 1,5%. Dalam tiga hari terakhir, kenaikannya sudah mencapai 7,92%, lalu pada Jumat (8/5/2026) pukul 06.39 WIB perak kembali menguat 0,76% ke US$ 79,07 per troy ons.
Di saat yang sama, emas memang masih bertahan di zona tinggi, tetapi lajunya tidak setegas perak. Pada perdagangan Kamis (7/5/2026), harga emas ditutup di US$ 4685,18 per troy ons, turun tipis 0,09%, meski pada Jumat (8/5/2026) pukul 06.36 WIB sempat naik 0,21% ke US$ 4695 per troy ons.
Pasar kembali menakar risiko Timur Tengah
Arah pergerakan emas dan perak banyak dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Perhatian pasar tertuju pada laporan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz, di tengah sinyal kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat menahan penguatan emas pada perdagangan intraday.
Kondisi ini membuat pelaku pasar bergerak hati-hati. Di satu sisi, risiko geopolitik tetap memberi bantalan bagi emas, tetapi di sisi lain muncul harapan bahwa ketegangan bisa mereda jika gencatan senjata bertahan dan jalur pelayaran penting itu kembali terbuka.
Bob Haberkorn, senior market strategist di RJO Futures, menilai emas masih memiliki ruang untuk menembus US$ 5.000 per ounce. Ia mengaitkan peluang itu dengan perkembangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS.
Suku bunga dan biaya energi ikut menentukan
Selain konflik geopolitik, pasar juga memantau kenaikan biaya energi. Kenaikan harga energi biasanya mendorong inflasi, dan dalam situasi seperti itu pembuat kebijakan cenderung menahan diri untuk tidak memangkas suku bunga agar tekanan harga tidak semakin kuat.
Emas memang sering dipakai sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tariknya biasanya berkurang ketika suku bunga tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti aset lain yang berbunga.
Faktor itu membuat arah kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian besar. Laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis Jumat juga dipakai pasar sebagai petunjuk untuk membaca langkah moneter bank sentral tahun ini.
Prediksi emas masih positif
Meski sempat kehilangan tenaga, prospek emas belum berubah sepenuhnya. TD Securities melihat harga emas masih berpotensi naik di atas US$ 5.200 per ounce setelah konflik dan tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak mulai mereda.
Lembaga itu juga menilai perubahan arah kebijakan The Fed yang lebih fokus pada pasar tenaga kerja dapat mendukung tren bullish emas. Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi, pelemahan dolar AS, serta meningkatnya permintaan investor dan bank sentral ikut menjadi penopang.
Pembelian bank sentral masih memberi bantalan
Dari sisi permintaan fisik, bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya pada April. Itu menjadi pembelian selama 18 bulan berturut-turut, sehingga ikut memperkuat bantalan harga di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan ekspektasi suku bunga.
Pasar kini juga menunggu kejelasan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah sumber dan pejabat terkait menyebut kedua pihak semakin dekat pada kesepakatan sementara untuk menghentikan perang, meski isu-isu yang paling sensitif masih belum dibahas tuntas.
Dengan kombinasi itu, emas masih memiliki penopang dari risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter. Namun untuk saat ini, perak justru menunjukkan momentum yang lebih kuat dan bergerak lebih cepat di pasar logam mulia.
Source: www.cnbcindonesia.com






