Perang Iran Tembus $25 Miliar, USS Gerald R. Ford Bersiap Meninggalkan Timur Tengah

Beban perang Iran terus membesar di Washington seiring dengan kabar bahwa USS Gerald R. Ford dan kelompok serangnya diperkirakan mulai meninggalkan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Informasi itu dikonfirmasi seorang pejabat Amerika Serikat kepada CBS News, sehingga menandai perubahan penting dalam penempatan kekuatan militer AS di kawasan yang masih berada dalam bayang-bayang konflik.

Di saat yang sama, Pentagon menyebut perang Iran sejauh ini telah menelan biaya sekitar $25 miliar. Angka itu muncul ketika pemerintah AS juga harus menjelaskan arah strategi, durasi operasi, dan besarnya beban fiskal yang ikut ditanggung publik.

Biaya perang terus membengkak

Jules Hurst III, pelaksana tugas wakil menteri perang untuk urusan keuangan, mengatakan di hadapan Kongres bahwa sebagian besar pengeluaran dipakai untuk amunisi. Ia menambahkan bahwa biaya tersebut juga mencakup operasi militer serta penggantian peralatan yang digunakan dalam konflik.

Hurst menyebut Gedung Putih akan menyiapkan tambahan anggaran setelah penilaian penuh atas biaya perang selesai. Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan pengajuan permintaan anggaran Departemen Pertahanan sebesar $1,5 triliun di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR.

Hegseth ditekan soal strategi

Menteri Pertahanan Pete Hegseth kemudian menghadapi pertanyaan keras dari anggota parlemen untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Para legislator meminta penjelasan tentang strategi AS, lamanya operasi, dan dampak ekonomi yang harus ditanggung masyarakat.

Saat ditanya berapa bulan lagi operasi akan berlangsung dan berapa miliaran dolar tambahan yang dibutuhkan, Hegseth menolak memberi rincian. Ia menegaskan militer tidak akan “memberi tahu musuh” berapa lama komitmen itu akan berlangsung.

Dalam sesi yang sama, seorang anggota Partai Demokrat juga mempertanyakan dampak perang bagi warga, termasuk pengaruhnya terhadap harga bensin dan pangan. Hegseth membalas dengan pertanyaan, “Apa biaya dari bom nuklir Iran?”

Pasar energi ikut tertekan

Tekanan perang tidak berhenti di ruang politik. Kekhawatiran investor meningkat karena negosiasi AS-Iran belum menemukan jalan keluar, sementara harga minyak kembali bergerak naik.

Brent sempat menembus $125 per barel pada perdagangan awal Kamis, sedangkan minyak mentah patokan AS juga ikut menguat. Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, Brent berada di sekitar $70 per barel.

Kenaikan itu ikut dirasakan konsumen di Amerika Serikat. Rata-rata harga bensin tercatat mencapai $4,18 per galon sebelum naik lagi menjadi $4,23 per galon.

Patrick De Haan dari GasBuddy mengatakan jalur perdamaian yang belum jelas membuat harga minyak kembali merangkak naik. Ia menilai pasar sedang mengambil kembali sebagian kenaikan yang sempat hilang setelah adanya gencatan senjata.

Selat Hormuz tetap jadi titik paling sensitif

Di tengah tekanan militer dan ekonomi, Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama. AS terus menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran hanya mengizinkan sedikit kapal tangki melintas dalam beberapa hari terakhir.

U.S. Central Command menyebut blokade itu sudah memaksa 41 kapal berbalik arah. Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan ada 41 tanker dengan 69 juta barel minyak yang tidak bisa dijual Iran, sehingga menimbulkan kerugian lebih dari $6 miliar bagi penguasa negara itu.

Gedung Putih menyebut blokade tersebut memberi AS “maximum leverage” terhadap Teheran. Seorang pejabat tinggi Gedung Putih juga mengatakan opsi mempertahankan blokade selama berbulan-bulan sempat dibahas dengan para eksekutif energi.

Diplomasi belum memberi terobosan

Upaya politik untuk meredakan situasi belum menghasilkan perkembangan berarti. Presiden Donald Trump mengatakan ia berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin soal Iran, termasuk tawaran Rusia untuk membantu memindahkan uranium yang diperkaya dari Iran.

Kremlin melalui penasihat Yuri Ushakov menyebut Putin memperingatkan Trump soal “konsekuensi yang tak terhindarkan dan sangat merusak” jika AS dan Israel kembali memakai kekuatan militer terhadap Iran. Trump sendiri menyebut konflik Iran dan Ukraina bisa berakhir dengan “jadwal yang mirip.”

Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif juga menyampaikan bahwa upaya negaranya untuk membantu mencapai kesepakatan damai masih berjalan. Ia menilai perang itu telah menghentikan momentum pembangunan ekonomi dan mendorong harga minyak “melambung ke langit.”

Meski USS Gerald R. Ford segera pulang dari Timur Tengah, tekanan militer, biaya perang yang sudah mencapai $25 miliar, dan ketegangan di jalur energi menunjukkan bahwa situasi belum bergerak menuju reda. Sejumlah pejabat Iran bahkan memperingatkan bahwa blokade yang berlanjut bisa memicu respons militer baru.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer