Kehadiran perempuan di posisi puncak perusahaan kini semakin lumrah. Shirley Tangkilisan, Managing Director Burson Indonesia, menilai kursi strategis seperti Board of Directors, CEO, hingga jajaran C-level sudah tidak lagi dipandang sebagai pengecualian bagi perempuan.
Pandangan itu menunjukkan bahwa emansipasi perempuan tidak lagi berhenti pada wacana. Dalam dunia kerja modern, perempuan semakin terlihat di ruang-ruang pengambilan keputusan yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.
Perempuan makin kuat di struktur perusahaan
Bagi Shirley, perubahan paling nyata justru tampak di level kepemimpinan. Ia melihat semakin banyak perempuan yang dipercaya memegang jabatan penting di perusahaan besar dan menjalankan peran strategis secara langsung.
“Perempuan di perusahaan besar sudah banyak yang menjadi bagian dari BOD bahkan CEO. C-level sudah menjadi bagian dari kita, bukan lagi sesuatu yang dianggap bonus,” kata Shirley.
Pernyataan itu menegaskan bahwa keberadaan perempuan di pucuk organisasi bukan lagi hal yang asing. Ruang kepemimpinan kini mulai terbuka lebih lebar, dan kemampuan perempuan dipandang makin setara dalam lingkungan profesional.
Emansipasi juga berarti menjalani banyak peran
Meski kemajuan itu terasa jelas, Shirley mengingatkan bahwa kehidupan perempuan modern tetap penuh tuntutan. Perempuan harus menjalankan peran domestik, mengejar karier, dan tetap menjaga tujuan pribadi dalam waktu yang sama.
Ia menggambarkan keadaan yang akrab bagi banyak perempuan, yakni menyelesaikan urusan rumah terlebih dahulu, lalu berangkat bekerja menggunakan transportasi publik seperti KRL, sebelum kembali menghadapi tekanan profesional sepanjang hari. Situasi ini menunjukkan bahwa emansipasi tidak hanya bicara soal jabatan, tetapi juga soal ketahanan dalam menjalani banyak tanggung jawab sekaligus.
Kondisi tersebut membuat isu kesetaraan menjadi lebih kompleks. Perempuan tidak hanya dituntut tampil berhasil di kantor, tetapi juga tetap hadir untuk kebutuhan keluarga dan urusan rumah tangga.
Dukungan antarsesama perempuan dianggap penting
Di tengah tekanan itu, Shirley menekankan pentingnya saling mendukung sesama perempuan. Menurutnya, women support women bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan nyata agar perempuan bisa bertahan dan berkembang di tengah beban yang datang dari berbagai sisi.
Dukungan seperti itu menjadi penting bagi perempuan junior maupun mereka yang sedang berusaha menjaga keseimbangan hidup. Lingkungan yang saling menguatkan dapat membantu perempuan merasa tidak berjalan sendirian ketika menghadapi tanggung jawab yang menumpuk.
Shirley menilai solidaritas antarsesama perempuan juga membantu ketika tuntutan pekerjaan dan rumah datang bersamaan. Dalam keadaan seperti itu, dukungan dari sekitar bisa membuat perjalanan karier terasa lebih mungkin dijalani.
Mimpi pribadi tetap perlu dijaga
Selain saling menguatkan, Shirley juga menyoroti pentingnya perempuan mempertahankan mimpi atau passion pribadi. Ia menilai tujuan hidup di luar peran sebagai ibu atau pekerja penting untuk menjaga arah hidup dan kesehatan mental.
“Aku berharap kita sebagai perempuan tetap punya semangat atau mimpi. Karena itu yang akan menarik kita ke depan, dan itu yang bikin kita tetap waras,” ujarnya.
Pesan itu memperlihatkan bahwa identitas perempuan tidak berhenti pada tugas domestik atau posisi di kantor. Di tengah perubahan yang membuat kepemimpinan perempuan makin diterima, ruang untuk menjaga mimpi pribadi tetap menjadi bagian penting dari emansipasi yang utuh.
Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pelaksana peran harian, tetapi juga sebagai pengambil keputusan di perusahaan dan sebagai individu yang tetap berhak atas tujuan hidupnya sendiri.
Source: www.medcom.id