Perpisahan Penuh Haru untuk Richard Scolyer, Keluarga Ungkap Sisi Paling Dekat Sang Pejuang Kanker

Author: Redaksi Android62

Ribuan pelayat memenuhi Sydney Opera House untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Richard Scolyer, sosok yang dikenal sebagai pionir kanker dan mantan Australian of the Year. Memorial itu menjadi pertemuan duka dan penghargaan atas ilmuwan yang meninggalkan warisan besar bagi pengobatan melanoma dan kanker otak.

Kepergian Scolyer pada 7 Juni setelah tiga tahun melawan kanker otak memunculkan gelombang penghormatan dari keluarga, sahabat, hingga para pemimpin nasional. Di tengah suasana penuh emosi itu, kisah paling pribadi justru datang dari orang-orang yang mengenalnya sebagai suami, ayah, dan sahabat yang tak pernah absen.

Keluarga yang kehilangan sosok paling hadir

Istri Richard, Katie Nicholl, bersama tiga anak mereka, Emily, Matt, dan Lucy, mengenang keseharian yang membuat almarhum begitu dekat dengan keluarga. Katie menyebut suaminya sebagai pribadi sosial yang mampu membuat siapa pun merasa nyaman, hangat, dan disambut dengan kebaikan hatinya.

Ia juga mengingat kencan pertama mereka yang tidak direncanakan, saat keduanya bersepeda dan menjalani petualangan berjam-jam. Bagi Katie, momen itu menggambarkan kehidupan rumah tangga mereka yang penuh tawa dan kebersamaan.

Lucy mengatakan ayahnya selalu menjadi pendukung terbesar yang mendorongnya mencoba banyak hal, meski ia anak bungsu. Matt mengenang kehadiran Richard yang hampir tak pernah absen di pertandingan sepak bolanya, bahkan kerap membantu sebagai boundary umpire sambil berlari mengikuti permainan.

Emily, anak sulungnya, menuturkan bahwa sang ayah telah meraih banyak hal besar dalam hidup, mulai dari pencapaian profesional hingga tampil di ajang triathlon dan multisport internasional. Namun bagi keluarga, yang paling berarti adalah kenyataan bahwa Richard selalu menempatkan mereka sebagai prioritas utama.

Emily juga mengenang suara nyanyian ayahnya yang sering terdengar dalam perjalanan mobil antar-jemput sekolah dan kegiatan keluarga. Ia menambahkan bahwa Richard senang muncul dalam film rumahan keluarga, termasuk saat anak-anaknya mengarahkan adegan demi hasil yang diinginkan.

Teman dan rekan kerja mengenang energi yang tak habis-habis

Di hadapan para pelayat, Jim Finlay membuat suasana memorial sesekali ringan dengan menyebut Richard sebagai “bloody good bloke”. Ia mengatakan dirinya beruntung mengenal sisi Richard yang santai, bukan hanya sosok dokter dan peneliti yang dikenal publik.

Finlay bercerita bahwa mereka bertemu saat kuliah di Tasmania dan kemudian sama-sama menekuni triathlon, half-Ironman, dan sepak bola. Keduanya juga tumbuh dekat lewat kecintaan pada Midnight Oil, Hoodoo Gurus, dan Paul Kelly.

Profesor John Thompson, sesama onkolog sekaligus sahabat dekat, menggambarkan Richard sebagai ilmuwan berbakat, baik, setia, penuh semangat, dan selalu ingin tahu. Menurutnya, Richard bukan hanya rekan kerja yang luar biasa, tetapi juga salah satu teman terdekatnya.

Thompson menyinggung pesan terakhir Richard kepada bangsa itu, yakni “think bold and brave”, yang menurutnya tetap relevan bagi Australia. Ia menilai pesan tersebut adalah bagian penting dari warisan moral dan intelektual yang ditinggalkan Scolyer.

Penghormatan nasional di Opera House

Perdana Menteri Anthony Albanese memimpin penghormatan dan menyebut kehadirannya sebagai sebuah kehormatan besar. Ia menggambarkan Richard sebagai sosok yang memiliki keberanian, rasa ingin tahu, kemurahan hati, dan kebaikan hati.

Albanese mengatakan ia mengenal Richard sebagai teman, dan untuk satu masa sebagai tetangga, yang membuatnya merasa beruntung. Menurutnya, dalam kisah besar Australia, Scolyer adalah salah satu bintang paling terang.

NSW Premier Chris Minns juga berbicara dengan nada emosional. Ia mengenang “cinta hidup” yang luar biasa dari Richard dan menyebut almarhum pergi terlalu cepat setelah meninggalkan warisan untuk memberi lebih banyak waktu dan lebih banyak kehidupan bagi orang lain.

Di antara ribuan pesan yang dibacakan dan ditinggalkan para pelayat, ada kisah seorang ayah yang anaknya didiagnosis melanoma stadium 4 dan hanya diberi waktu hidup beberapa bulan. Ia menceritakan bahwa imunoterapi menjadi “last throw of the dice” sebelum kemudian mendengar kabar bahwa pengobatan itu berhasil.

Pesan-pesan lain di papan tributes juga menegaskan luasnya dampak Richard bagi banyak keluarga. Salah satu catatan menyebutnya sebagai “Aussie hero” dan “top bloke”, sebuah pengakuan singkat atas keberanian pribadi dan kerja ilmiah yang memberi harapan.

Musik, simbol, dan prosesi di jalanan Sydney

Upacara memorial diisi penampilan musik dari Peter Garrett dan Kate Miller-Heidke. Garrett membawakan Everybody, sementara Miller-Heidke tampil di piano dengan lagu Last Day on Earth.

Hamish Macdonald, yang memandu acara, mengatakan Richard adalah penggemar berat Midnight Oil. Ia menyebut penampilan musik itu sebagai cara untuk menghormati energi dan gairah hidup Richard.

Beberapa benda pribadi diletakkan di panggung sebagai simbol perjalanan hidupnya, termasuk sepatu Ugg, sepeda, alat ilmiah, dan akubra. Governor-General Sam Mostyn menyebut Richard sebagai sosok yang memimpin dengan keberanian, kerendahan hati, kemurahan hati, dan keterbukaan.

Mostyn juga mengenang momen ketika Richard bertemu Raja Charles III dan memberikan sebuah akubra. Ia menilai tindakan itu mempertegas pesan Richard tentang pencegahan dan keselamatan dari sinar matahari, sekaligus advokasinya dalam kanker kulit.

Sebelum memorial dimulai, puluhan pesepeda berjersey ungu melintas di jalan-jalan Sydney dalam prosesi penghormatan. Mereka diiringi mobil polisi dengan sirene menyala, sementara sepeda milik Richard dipasang di atas mobil Lexus putih sebagai tanda cintanya pada olahraga.

Warisan ilmiah yang tetap hidup

Chris O’Brien Lifehouse chief clinical officer dan direktur riset Lisa Horvath menyebut Richard sebagai sosok “indefatigable” yang selalu penuh energi. Ia mengatakan Richard tidak pernah berhenti berpikir, bekerja, dan mencari pertanyaan penelitian berikutnya.

Horvath menambahkan bahwa Richard ingin melakukan semuanya, dari memberi kuliah hingga menjalani triathlon dunia sambil membesarkan tiga anak bersama sang istri. Menurutnya, semangat itu tetap terlihat sepanjang perjalanan sakitnya karena Richard tidak ingin meninggalkan apa pun “di lapangan”.

Chief executive Chris O’Brien Lifehouse, Michael Boyer, mengatakan Richard meninggalkan budaya kerja yang berorientasi pada solusi dan semangat untuk terus mencoba. Sebagai penghormatan jangka panjang, lembaga itu mengumumkan posisi riset kanker otak baru atas nama Richard Scolyer.

Horvath menjelaskan bahwa hibah senilai $5,9 juta itu akan mendanai tim yang mencakup kursi riset kanker otak, para peneliti, mahasiswa PhD, dan perluasan uji klinis. Kursi tersebut akan menjadi kolaborasi antara Chris O’Brien Lifehouse, University of Sydney, dan Royal Prince Alfred Hospital.

Ia berharap posisi riset itu diisi oleh seorang clinician scientist yang memiliki fokus pada pasien sekaligus unggul dalam riset. Tujuannya adalah melahirkan ide-ide baru yang bisa diterjemahkan menjadi perawatan baru bagi kanker otak dan memberi lebih banyak pilihan bagi pasien di masa depan.

Source: www.news.com.au
Berita Terbaru