Universitas Indonesia dan Tsinghua University mengembangkan prototipe vaksin dengue berbasis mRNA yang disebut sebagai yang pertama di dunia. Inovasi ini menjadi sorotan karena dirancang untuk menjawab ancaman demam berdarah dengue yang masih tinggi di Indonesia.
Prototipe tersebut menggunakan pendekatan tetravalen, sehingga ditujukan untuk melindungi dari empat serotipe virus dengue sekaligus. Desainnya juga disesuaikan dengan strain virus dengue yang beredar di Indonesia, sehingga diarahkan agar lebih relevan dengan kondisi lapangan di dalam negeri.
Dirancang dari strain lokal dan dibantu AI
Pengembangan vaksin ini dipimpin oleh Infectious Disease and Immunology Research Center atau IDIRC serta Indonesian Medical Education and Research Institute atau IMERI FK UI. Tim riset memakai gen preM-E dari strain virus dengue yang beredar di Indonesia sebagai dasar perancangan kandidat vaksin.
Dalam proses pengembangan, tim juga memanfaatkan artificial intelligence untuk memprediksi kemungkinan mutasi virus di masa depan. Pendekatan ini dipakai agar desain vaksin dapat terus disempurnakan mengikuti perubahan karakteristik virus dengue.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Platform vaksin | mRNA |
| Target perlindungan | 4 serotipe virus dengue |
| Basis desain | Strain dengue yang beredar di Indonesia |
| Pendekatan | Tetravalen |
Riset berjalan sekitar 1,5 tahun
Penelitian ini dikerjakan selama sekitar satu setengah tahun. Tahap awalnya meliputi pengumpulan spesimen virus dengue, analisis epidemiologi molekuler, perancangan kandidat vaksin, hingga pengembangan konstruksi mRNA.
Setelah itu, rangkaian riset berlanjut ke formulasi lipid nanoparticle atau LNP, pengujian antigenisitas, pengujian imunogenisitas, dan studi praklinis di Indonesia serta Tiongkok. Tahapan yang panjang ini menunjukkan bahwa kandidat vaksin tidak hanya dirancang, tetapi juga diuji secara bertahap sebelum dikembangkan lebih lanjut.
Ancaman dengue masih jadi perhatian
Dalam unggahan resminya di Instagram pada Senin, 13/7/2026, UI menegaskan bahwa demam berdarah dengue masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia. UI juga menyoroti banyak pasien yang datang ke fasilitas kesehatan setelah tiga hari demam, padahal hari ketiga hingga kelima merupakan fase kritis yang berisiko menyebabkan syok hingga kematian.
Kompas.com mengutip unggahan tersebut ketika melaporkan bahwa beban penyakit ini masih terasa nyata di tengah masyarakat. Karena itu, kehadiran prototipe vaksin mRNA ini dipandang sebagai respons ilmiah terhadap masalah kesehatan yang belum selesai.
Langkah menuju kemandirian vaksin
UI menempatkan inovasi ini sebagai langkah penting menuju kemandirian Indonesia dalam pengembangan vaksin, teknologi biomedis, dan ketahanan kesehatan nasional. Riset ini juga diharapkan memperkuat kapasitas dalam negeri agar mampu menghasilkan solusi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Kerja sama UI dan Tsinghua University menunjukkan bahwa kolaborasi riset internasional bisa diarahkan untuk menjawab persoalan kesehatan yang sangat lokal. Jika pengembangannya berlanjut dengan baik, Indonesia berpeluang memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menghadapi dengue secara ilmiah dan berkelanjutan.
Kehadiran prototipe vaksin dengue berbasis mRNA ini belum menjadi jawaban akhir, tetapi membuka ruang baru bagi upaya pencegahan demam berdarah. Di tengah beban penyakit yang masih tinggi, riset seperti ini menandai mulai seriusnya pengembangan solusi kesehatan dari dalam negeri.
