Pertamina Patra Niaga resmi masuk ke fase produksi komersial Sustainable Aviation Fuel atau SAF berbahan baku minyak jelantah di Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Langkah ini menandai perubahan penting dalam pemanfaatan limbah rumah tangga dan industri makanan, karena minyak bekas pakai kini diolah menjadi bahan bakar pesawat rendah emisi yang siap dipasarkan.
Produk yang diberi nama PertaminaSAF itu diproses melalui fasilitas Green Refinery dengan produksi awal mencapai 45 ribu barel. Bahan bakunya berasal dari Used Cooking Oil yang telah melewati verifikasi keberlanjutan, lalu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penerbangan domestik dan regional.
Dari limbah menjadi energi bernilai tinggi
Pemanfaatan minyak jelantah dalam industri aviasi memberi nilai tambah yang besar pada bahan yang sebelumnya kerap dianggap limbah. Di sisi lain, pendekatan ini juga membantu mengurangi beban lingkungan karena aliran limbah tidak berhenti sebagai sisa konsumsi, tetapi masuk ke rantai pasok energi modern.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menyebut komersialisasi ini menjadi kelanjutan dari uji coba yang sudah dilakukan sejak Juli 2025. Menurut dia, produksi komersial PertaminaSAF pada Maret 2026 dilakukan untuk menjawab permintaan pelanggan.
Lolos verifikasi dan standar penerbangan
Produksi SAF ini tidak langsung masuk pasar tanpa tahapan pengujian. Seluruh bahan baku minyak jelantah yang digunakan telah bersertifikat International Sustainability Carbon Certification atau ISCC CORSIA, yang menunjukkan rantai pasoknya memenuhi standar keberlanjutan untuk penerbangan internasional.
Selain itu, kualitas produk juga diperiksa melalui laboratorium tersertifikasi ISO 17025 sebelum distribusi dilakukan. Dari sisi spesifikasi, PertaminaSAF memenuhi Defence Standard DEFSTAN 91-091, sementara aspek regulasi nasional berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
Berikut ringkasan standar penting yang melekat pada PertaminaSAF:
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Bahan baku | Used Cooking Oil atau minyak jelantah |
| Sertifikasi bahan baku | ISCC CORSIA |
| Pengujian kualitas | Laboratorium tersertifikasi ISO 17025 |
| Spesifikasi produk | Defence Standard DEFSTAN 91-091 |
| Regulasi nasional | Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi |
Dengan rangkaian standar tersebut, PertaminaSAF diposisikan sebagai produk yang siap masuk pasar komersial. Keberadaan sertifikat dan pengujian berlapis juga menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan maskapai, operator bandara, dan pengguna akhir.
Pasokan menuju bandara utama
Distribusi SAF dari Cilacap dilakukan melalui jalur logistik terintegrasi dengan kapal vessel. Skema ini dipilih untuk menjaga kualitas pasokan sekaligus memastikan pengiriman berlangsung efisien ke lokasi tujuan.
Pada akhir Maret 2026, pasokan PertaminaSAF difokuskan untuk mendukung operasional di Bandara Ngurah Rai Bali dan Bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Kedua bandara tersebut merupakan simpul penerbangan utama di Indonesia, sehingga ketersediaan avtur rendah emisi di sana memiliki nilai strategis bagi pasar domestik.
Arah baru industri penerbangan
Masuknya SAF berbahan minyak jelantah ke tahap komersial memperlihatkan bahwa dorongan menuju penerbangan rendah emisi tidak lagi berhenti pada wacana. Sektor aviasi memang menjadi salah satu bidang yang membutuhkan inovasi energi, karena jejak karbonnya sulit ditekan tanpa dukungan teknologi alternatif.
Pengembangan ini juga sejalan dengan peta jalan Pertamina menuju Net Zero Emission pada 2060. Di tengah kebutuhan energi bersih yang terus meningkat, pemanfaatan limbah menjadi avtur menunjukkan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat ekonomi sirkular sekaligus membangun sistem energi yang lebih berkelanjutan.







