PHK Membayangi Ekonomi, Kredit Mobil Tertekan hingga Susut 3,61% pada Mei 2026

Tekanan pada pasar kendaraan paling tajam terlihat pada pembiayaan mobil baru dan bekas. Nilainya turun 3,61% secara tahunan menjadi Rp232,74 triliun pada Mei 2026.

Pelemahan itu terjadi ketika gelombang PHK membayangi kondisi ekonomi dan berpotensi memengaruhi kemampuan masyarakat mengambil cicilan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai situasi tersebut dapat menekan minat sekaligus kapasitas konsumen dalam mengakses pembiayaan.

Secara keseluruhan, pembiayaan kendaraan industri multifinance juga mencatat kontraksi. Nilainya mencapai Rp402,49 triliun, atau menyusut 1,44% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kredit Mobil Menjadi Segmen yang Lebih Tertekan

Penurunan pada kredit mobil lebih dalam daripada kontraksi pembiayaan kendaraan secara umum. Kondisi ini memperlihatkan bahwa permintaan pembiayaan untuk mobil baru dan bekas menghadapi tekanan yang lebih besar.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK, Agusman, menyatakan dinamika ekonomi dapat memengaruhi kinerja pembiayaan kendaraan. Dampak PHK disebut sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan industri.

Menurut Agusman, kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan masih membuka peluang pertumbuhan hingga akhir tahun. Namun, peluang tersebut berlangsung di tengah tantangan ekonomi yang memerlukan pengelolaan risiko secara lebih ketat.

Jenis PembiayaanNilai Mei 2026Pertumbuhan Tahunan
Pembiayaan kendaraanRp402,49 triliun-1,44%
Mobil baru dan bekasRp232,74 triliun-3,61%
MultigunaRp256,77 triliun5,21%
Modal kerjaRp55,36 triliun7,96%
InvestasiRp168,06 triliun-5,79%

Piutang Multifinance Masih Bertumbuh

Di tengah pelemahan kredit mobil, total piutang pembiayaan industri multifinance masih bergerak positif. OJK mencatat totalnya sebesar Rp513,19 triliun pada lima bulan pertama 2026, tumbuh 1,71% secara tahunan.

Pertumbuhan total piutang terutama ditopang pembiayaan multiguna dan modal kerja. Kedua segmen tersebut bergerak berlawanan dengan pembiayaan kendaraan dan investasi yang sama-sama mengalami kontraksi.

Pembiayaan multiguna menjadi portofolio terbesar dengan nilai Rp256,77 triliun pada Mei 2026. Segmen ini tumbuh 5,21% secara tahunan dan membantu menopang kinerja piutang pembiayaan.

Pembiayaan modal kerja juga tumbuh 7,96% secara tahunan menjadi Rp55,36 triliun. Sebaliknya, pembiayaan investasi turun 5,79% secara tahunan menjadi Rp168,06 triliun.

Penyaluran Kredit Diminta Lebih Berhati-hati

OJK mendorong perusahaan pembiayaan untuk memperkuat kualitas penyaluran kredit saat kondisi ekonomi berubah. Langkah tersebut dipandang penting agar pertumbuhan industri tetap sehat dan berkelanjutan.

“Oleh karena itu, perusahaan pembiayaan terus didorong untuk memperkuat kualitas penyaluran dan penerapan prinsip kehati-hatian guna menjaga kinerja industri tetap sehat dan berkelanjutan,” kata Agusman dalam lembar jawaban RDK OJK Juni 2026.

Besaran plafon serta agunan pada pembiayaan multiguna tidak seragam antarproduk. Agusman menyebut nilainya bergantung pada skema dan objek pembiayaan yang digunakan oleh masing-masing perusahaan.

Ruang ekspansi pembiayaan masih tersedia di sejumlah segmen, tetapi kualitas penyaluran menjadi perhatian utama. Industri perlu mengantisipasi dampak pelemahan ekonomi terhadap permintaan dan kemampuan pembayaran konsumen.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terkait