Crystal Palace resmi memulai era baru dengan menunjuk Pierre Sage sebagai pelatih kepala untuk menggantikan Oliver Glasner. Pelatih asal Prancis berusia 47 tahun itu menandatangani kontrak tiga tahun dan langsung mendapat tugas memimpin tim di kompetisi domestik serta Eropa.
Penunjukan Sage datang dengan ekspektasi tinggi karena ia mewarisi tim yang baru saja menikmati periode paling sukses dalam sejarah modern klub. Palace tidak hanya menuntut konsistensi, tetapi juga kelanjutan budaya menang yang sudah terbentuk di bawah Glasner.
Warisan yang ditinggalkan Glasner
Oliver Glasner meninggalkan Selhurst Park setelah dua setengah tahun yang berpengaruh besar bagi perkembangan Crystal Palace. Di bawah arahannya, klub London Selatan itu meraih trofi mayor pertama mereka melalui Piala FA pada 2025.
Keberhasilan tersebut kemudian berlanjut dengan gelar Community Shield dan Liga Konferensi pada musim berikutnya. Rangkaian capaian itu membuat posisi pelatih baru tidak sekadar menggantikan sosok lama, melainkan menjaga standar yang sudah terlanjur tinggi.
Dengan kondisi seperti itu, pekerjaan Sage di Palace akan langsung diukur dari kemampuannya mempertahankan stabilitas dan daya saing tim. Ia juga harus memastikan ruang ganti tetap berada dalam pola pikir pemenang yang sudah dibangun pendahulunya.
Rekam jejak Sage yang menarik perhatian
Sage datang ke Inggris membawa reputasi kuat dari sepak bola Prancis. Dalam 12 bulan terakhir bersama Lens, ia dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Ligue 1 setelah membawa klub tersebut finis di posisi kedua klasemen.
Prestasi di Lens juga ditandai dengan keberhasilan mempersembahkan Coupe de France, trofi pertama klub itu dalam 120 tahun sejarah. Catatan tersebut membuat namanya naik daun sebagai pelatih yang mampu membangun tim kompetitif dalam waktu relatif singkat.
Sebelum itu, Sage sempat menangani Lyon dan memulai perannya sebagai pelatih interim. Dari situ, ia sukses membawa Lyon lolos ke kualifikasi Liga Europa untuk musim 2024-2025.
Ambisi baru di Selhurst Park
Dalam proyek barunya, Sage tidak datang sendirian. Ia membawa Jamal Alioui, asisten setianya saat di Lens, untuk masuk ke jajaran staf kepelatihan Crystal Palace.
Sage juga menyadari bahwa warisan Glasner menjadi tolok ukur yang tidak ringan. Ia menyebut atmosfer di klub terasa positif dan menilai ambisi serupa sudah terbentuk di dalam proyek baru tersebut.
“Oliver Glasner telah mencapai hal-hal luar biasa, dan sekarang saya harus melakukan hal yang sama,” kata Sage. Ia menegaskan bahwa kebiasaan menang yang dibawanya dari Prancis akan menjadi fondasi utama dalam membangun Palace di tahap berikutnya.
Tantangan itu semakin besar karena Palace juga akan tampil di Liga Europa setelah menjuarai Liga Konferensi. Dengan basis suporter yang kuat di Selhurst Park dan skuat yang sudah terbiasa bersaing di level tinggi, sorotan kini tertuju pada bagaimana Sage menerjemahkan reputasi suksesnya ke sepak bola Inggris.
Source: mediaindonesia.com






