Ribuan ponsel Pixel lama ternyata masih menyimpan tenaga komputasi yang tidak bisa diremehkan. Google Research dan UC San Diego menunjukkan bahwa 2.000 perangkat bekas itu dapat disusun menjadi pusat data mini dengan daya setara 50 server tradisional.
Temuan tersebut menantang pandangan umum bahwa ponsel yang sudah tak terpakai hanya berakhir sebagai limbah elektronik. Dalam sejumlah pengujian, kluster berbasis ponsel itu bahkan mampu menandingi perangkat server kelas pusat data.
Performa yang melampaui dugaan
Salah satu hasil paling menonjol datang dari Pixel Fold 2023. Perangkat itu disebut memiliki inti performa dengan kemampuan per thread lebih tinggi dibanding inti server AMD EPYC dalam benchmark SPEC CPU 2017.
Google juga menemukan bahwa penggabungan 25 hingga 50 motherboard ponsel dapat menghasilkan throughput CPU setara server dual-socket modern. Pada skala kelas, mikro-kluster berisi 20 ponsel mampu memproses tugas dari 75 mahasiswa dalam mata kuliah pemrograman paralel hanya dalam 50 detik, lebih cepat daripada instance AWS yang sebanding.
Cara kerja kluster ponsel
Untuk mengubah ponsel menjadi node server, bagian yang tidak diperlukan lebih dulu dilepas. Layar, baterai, kamera, dan speaker dibuang, lalu yang dipertahankan hanya motherboard berisi system-on-chip, RAM, dan penyimpanan.
Papan-papan itu kemudian dipasang ke rak server, disuplai daya dari sumber terpusat, dan dihubungkan ke jaringan seperti node komputasi biasa. Android diganti dengan distribusi Linux standar, lalu kluster dikelola memakai Kubernetes agar dapat diperlakukan seperti infrastruktur cloud lain oleh pengguna maupun aplikasi.
Nilai lingkungan yang ikut dibawa
Proyek ini tidak hanya menarik karena angka performa, tetapi juga karena dampak lingkungannya. Sekitar 50% emisi manufaktur sebuah smartphone berasal dari motherboard dan perakitan prosesor, sehingga memperpanjang usia pakai komponen utama berpotensi menekan jejak lingkungan.
Di sisi lain, siklus upgrade ponsel umumnya hanya tiga hingga empat tahun. Artinya, kemampuan komputasi yang masih layak sering kali dibuang lebih cepat, sementara kebutuhan server baru terus meningkat untuk beban kerja yang sebenarnya masih bisa ditangani perangkat lama.
Belum siap menggantikan pusat data besar
Meski hasilnya menjanjikan, kluster ponsel ini belum diposisikan sebagai pengganti data center besar. Mengelola ribuan papan ponsel yang heterogen jauh lebih rumit daripada menjaga standardisasi khas pusat data modern.
Ada pula pertanyaan soal ketahanan jangka panjang ketika perangkat dipaksa bekerja terus-menerus selama 24/7. Ponsel memang bukan perangkat yang dirancang sejak awal untuk hidup permanen di rak server.
Sasaran paling realistis
Pendekatan ini terlihat paling cocok untuk institusi dengan anggaran terbatas yang menjalankan beban kerja paralel, seperti koreksi tugas otomatis dan analitik batch. Dalam skenario semacam itu, kapasitas komputasi berbiaya jauh lebih rendah bisa menjadi keuntungan utama.
UC San Diego berencana meluncurkan kluster tersebut pada Fall 2026 untuk memperpanjang produktivitas perangkat lebih lama. Proyek ini sekaligus menunjukkan cara lain memenuhi kebutuhan komputasi yang terus tumbuh, yaitu dengan memanfaatkan perangkat yang sudah beredar luas alih-alih selalu membangun infrastruktur baru dari nol.







