PLN memusatkan kendali sistem kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali di Main Control Center (MCC) Gandul, Depok. Langkah ini menyasar penguatan keandalan pasokan bagi sekitar 160 juta masyarakat di wilayah Jamali.
Pusat kendali utama tersebut didukung Disaster Recovery Center di Ungaran sebagai fasilitas cadangan. Skema dua pusat ini disiapkan agar operasi tetap dapat berlanjut apabila pusat pengendalian utama mengalami gangguan.
| Komponen | Lokasi | Peran |
|---|---|---|
| Main Control Center | Gandul, Depok | Pusat pengendalian sistem kelistrikan |
| Disaster Recovery Center | Ungaran | Pusat cadangan pengendalian |
Perubahan ini merupakan bagian dari modernisasi sistem Supervisory Control and Data Acquisition–Energy Management System atau SCADA-EMS di PLN UIP2B Jamali. Pola pengendalian yang sebelumnya berbasis regional kini diarahkan menjadi terpusat dalam satu sistem yang terintegrasi.
Modernisasi dilakukan setelah sistem SCADA-EMS lama yang digunakan sejak 2005 memasuki masa end of life. General Manager PLN UIP2B Jamali Munawwar Furqan menyatakan perangkat keras dan perangkat lunak sistem sebelumnya tidak lagi memperoleh dukungan dari pabrikan.
Kebutuhan pembaruan muncul ketika pengelolaan sistem tenaga makin kompleks akibat pertumbuhan beban dan digitalisasi operasi. Sistem baru juga dipersiapkan untuk mengakomodasi peningkatan integrasi pembangkit energi baru terbarukan.
“Kebutuhan sistem kelistrikan saat ini semakin kompleks. Kami harus mampu mengakomodasi pertumbuhan beban, digitalisasi operasi, hingga integrasi pembangkit energi baru terbarukan (EBT),” ujar Munawwar dalam keterangan yang dikutip VIVA.
Perangkat Prediktif untuk Operator
SCADA-EMS generasi terbaru dibekali Automatic Dispatch System, Digital Twin, dan perangkat prakiraan prediktif berbasis kondisi cuaca. PLN juga memperkuat keamanan siber sebagai bagian dari pembaruan sistem kendali tersebut.
Fitur prediktif diperlukan untuk membantu operator membaca potensi gangguan lebih awal. Pengendalian yang lebih responsif juga dinilai penting karena operasi pembangkit EBT dapat dipengaruhi berbagai kondisi, termasuk cuaca.
Proses migrasi dari sistem lama ke sistem baru telah dilakukan pada 3 Juni 2026. PLN saat ini menjalankan operasi paralel sebelum penerapan penuh ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Dalam tahap ini, sistem lama dan baru berjalan secara bersamaan selama masa peralihan. PLN menerapkan mitigasi risiko agar perpindahan teknologi tidak mengganggu kontinuitas pasokan listrik kepada pelanggan.
Kompetensi Petugas Diperkuat
Pembaruan tidak hanya menyentuh perangkat dan aplikasi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia. PLN memperkuat kompetensi petugas melalui pelatihan, sertifikasi, serta kerja sama dengan sejumlah lembaga internasional.
Perusahaan juga melakukan benchmarking dengan operator sistem tenaga listrik di Amerika Serikat, Denmark, Australia, dan Jerman. Langkah itu dilakukan untuk menyerap praktik pengelolaan sistem kelistrikan modern.
Ke depan, PLN akan memanfaatkan Machine Learning, Big Data, dan Predictive Analytics untuk perencanaan operasi serta analisis beban. Teknologi tersebut juga ditujukan untuk mempercepat evaluasi gangguan dengan hasil yang lebih akurat.
Munawwar menyebut transformasi ini sebagai investasi jangka panjang bagi ketahanan energi nasional. Fokus akhirnya adalah pasokan yang lebih stabil serta gangguan yang semakin minimal bagi pelanggan di wilayah Jamali.
Source: www.viva.co.id






