Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII se-Jawa Tengah menggelar aksi di depan Kantor DPRD Jawa Tengah, Semarang. Suasana memanas ketika massa menggoyang pagar besi setinggi sekitar dua meter karena menilai aspirasi mereka belum direspons wakil rakyat.
Aksi itu membawa sejumlah kritik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pemadaman listrik yang belakangan dikeluhkan warga menjadi salah satu sorotan utama, bersama pelemahan rupiah dan penilaian bahwa sejumlah program nasional perlu dievaluasi lebih jauh.
Desakan Evaluasi Program Nasional
Koordinator Lapangan aksi, Andre Bahtiar, menyebut mahasiswa datang dengan berbagai keresahan masyarakat yang dinilai belum mendapat perhatian serius. Ia menegaskan bahwa tujuan program pemerintah memang baik, tetapi pelaksanaannya harus dievaluasi secara menyeluruh agar tidak memunculkan persoalan baru di lapangan.
Andre juga menyinggung risiko penyimpangan bila program dijalankan tanpa pengawasan yang kuat. Karena itu, mahasiswa meminta evaluasi terhadap program seperti Koperasi Desa Merah Putih dan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG agar pelaksanaannya tidak menimbulkan masalah baru.
Isu Lingkungan dan Permintaan Dialog
Selain mempersoalkan listrik dan program nasional, mahasiswa juga mengkritik pembangunan yang dinilai kerap mengabaikan dampak lingkungan. Mereka menilai pencemaran dan kerusakan lingkungan harus menjadi perhatian serius dalam setiap kebijakan pembangunan.
Di tengah aksi yang memanas, massa menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk membuat kericuhan. Mereka justru menuntut ruang dialog terbuka dengan pemerintah dan DPRD Jawa Tengah agar suara mahasiswa serta keresahan masyarakat bisa didengar secara langsung.
Dalam orasinya di Jalan Pahlawan, salah satu peserta aksi bahkan menyerukan harapan agar pemerintah lebih peka terhadap kesulitan rakyat. Seruan itu disampaikan dengan kalimat, “Mugi-mugi pemerintah sadar, hati nuraninya tergugah. Mugo-mugo listrike yo ora mati.”
