Pop!_OS Terasa Jauh Lebih Ringan Dari Windows, Tapi Ketergantungan Aplikasi Masih Mengikat

Pop!_OS memberi kesan yang sulit diabaikan saat dipakai sehari-hari. Sistem ini terasa lebih ringan, lebih bersih, dan lebih responsif dibanding Windows modern, sampai perpindahan kembali ke Windows justru terasa seperti turun kelas.

Perbedaan itu menjadi semakin jelas karena pengalaman panjang bersama Windows memang sudah sangat lama. Sistem operasi Microsoft dipakai untuk gaming, membuat UI, membangun website, menulis program, kuliah, hingga pekerjaan di jurnalisme teknologi, tetapi rasa nyaman itu perlahan tertutup oleh banyaknya gangguan di Windows modern.

Salah satu sumber kejengkelan datang dari tampilan dan perilaku Windows yang makin padat. Iklan untuk Microsoft 365, Teams, dan Candy Crush, pembaruan yang terlalu sering, serta telemetri yang terus mengirim data penggunaan ke server Microsoft membuat alur kerja terasa lebih sering terganggu.

Di titik itu, ketertarikan pada Linux menjadi masuk akal. Pop!_OS kemudian terlihat sebagai pilihan yang pas karena posisinya dianggap matang, tidak terlalu ekstrem, dan didukung Cosmic UI yang menarik.

Peralihan ke Pop!_OS juga dilakukan dengan cara yang aman. Sistem dual boot tetap dipertahankan agar Windows masih bisa dipakai, sementara Pop!_OS dicoba tanpa menghapus instalasi utama.

Persiapan instalasinya cukup familiar bagi pengguna PC. USB 8 GB, Rufus, dan file ISO yang sesuai dengan kartu grafis menjadi kebutuhan dasar sebelum pemasangan dimulai.

Untuk perangkat Nvidia, varian “Pop!_OS 24.04 LTS with NVIDIA” dipakai. Sementara itu, perangkat AMD menggunakan ISO standar “Pop!_OS 24.04 LTS”.

Sebelum instalasi, partisi Windows perlu dikecilkan terlebih dahulu. Fast Startup dan BitLocker juga harus dimatikan, lalu secure boot di BIOS diubah menjadi “Other OS”.

Setelah installer Pop!_OS terbuka, pengguna memilih Custom Install dan mengisi partisi dari ruang kosong yang sudah disiapkan. Sistem kemudian diperbarui lewat Terminal dengan perintah sudo apt update && sudo apt full-upgrade -y agar driver dan aplikasi ikut diperbarui.

Kesan paling kuat justru muncul setelah sistem dipakai rutin. Pop!_OS terasa bersih, responsif, dan rendah latensi, sampai kembali ke Windows memberi kesan seperti memakai sistem yang lebih lambat.

Pengalaman itu tetap terasa bahkan pada perangkat kelas atas. Konfigurasi yang digunakan mencakup Ryzen 9 9900X, RTX 5080, RAM 64 GB DDR5, dan SSD WD SN8100.

Perbedaan rasa ringan itu dijelaskan lewat desain dasar Linux yang lebih sederhana. Windows dinilai membawa banyak lapisan kompatibilitas lama yang menumpuk, sedangkan Cosmic UI disebut lebih fleksibel karena bisa diganti atau dilepas tanpa membuat sistem runtuh.

Di sisi penyimpanan, Linux memakai ext4, bukan NTFS. Format ini disebut unggul untuk operasi file cepat dan ikut membantu sistem terasa lebih gesit.

Pop!_OS juga memberi banyak pilihan untuk memasang aplikasi. Pengguna bisa memakai paket .deb, mengunduh lewat terminal, atau menggunakan Flatpak untuk membatasi akses aplikasi ke sistem.

Ada juga dukungan yang membuat beberapa kebutuhan terasa lebih praktis. VPN dapat muncul di tab jaringan sebagai fitur tersendiri, sementara toko aplikasinya disebut sangat kaya pilihan.

Meski begitu, batas terbesar tetap ada pada kompatibilitas aplikasi. Adobe, Affinity, Battle.net, Office 365, iTunes, Notion, dan banyak aplikasi RGB seperti Corsair iCUE, Logitech, Razer, Armoury Crate, NZXT Cam, serta Elgato tidak tersedia secara native.

Sebagian kebutuhan memang bisa ditutup dengan alternatif yang ada. GIMP, Krita, OpenRGB, dan LibreOffice dapat menggantikan banyak fungsi, sementara layanan berbasis web seperti Tidal atau Google Drive bisa dipasang sebagai PWA agar terasa seperti program desktop biasa.

Di sisi permainan, Linux kini jauh lebih masuk akal daripada sebelumnya. Lutris dan Wine membuka jalan untuk menjalankan aplikasi Windows, sementara Proton dari Valve menjadi faktor besar karena menerjemahkan DirectX ke Vulkan.

Dukungan Nvidia juga sudah jauh membaik. Nvidia merilis kernel module open-source untuk seri GTX 16, RTX 20, dan yang lebih baru pada 2022, lalu teknologinya disebut mulai matang setelah awal yang cukup sulit.

Hasil pengujian game tetap beragam. Pada 1080p, performa di Linux turun rata-rata sekitar 11,1 persen, lalu turun 16,3 persen pada 4K.

Ada juga hasil yang justru mengejutkan. Cyberpunk 2077 dengan DLSS pada 1080p berjalan lebih cepat di Pop!_OS, yakni 127 fps dibanding 111 fps di Windows.

Namun, tidak semua game memberi hasil serupa. Total War: Warhammer 3 menjadi pengecualian terburuk, dengan Pop!_OS tertinggal 21 persen pada 1080p dan 25 persen pada 4K.

Pada akhirnya, Pop!_OS menawarkan pengalaman yang rapi dan cepat, tetapi kebutuhan kerja tertentu masih menahan langkah untuk benar-benar pindah. Affinity dan software benchmark tetap menjadi alasan kuat untuk kembali ke ekosistem Microsoft, sehingga pilihan akhir masih ditentukan oleh kompatibilitas aplikasi dan tuntutan kerja harian.

Berita Terkait