Porsi Kredit Valas BCA Cuma 4,9 Persen, Rupiah Melemah Tak Banyak Mengguncang Kredit

Author: Redaksi Android62

Porsi kredit valuta asing PT Bank Central Asia Tbk yang hanya 4,9 persen menjadi alasan utama perseroan tetap tenang saat rupiah sempat menembus Rp17.305 per dolar AS. Dengan komposisi seperti itu, tekanan dari pelemahan kurs dinilai belum cukup besar untuk mengganggu kualitas kredit BCA.

Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menyampaikan bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap perseroan masih sangat kecil. Dalam konferensi pers kinerja kuartal I 2026, ia menegaskan kondisi tersebut masih bisa dikelola dengan baik oleh bank.

Struktur kredit yang lebih banyak bertumpu pada mata uang domestik membuat BCA tidak terlalu rentan terhadap gejolak nilai tukar. Selama eksposur valas tetap rendah, perubahan kurs tidak langsung memberi tekanan besar pada profil risiko pembiayaan maupun kinerja bank.

John menekankan bahwa keadaan saat ini masih terjaga dengan baik. Ia mengatakan, “Jadi kecil sekali saat ini [dampaknya], dan kondisinya saat ini masih terjaga dengan baik.”

Di pasar, rupiah sempat terkoreksi 0,76 persen hingga berada di level Rp17.305 per dolar AS pada pukul 09:40 WIB. Meski pelemahannya terasa cukup tajam, BCA menilai fondasi kredit perseroan tetap aman dan belum menunjukkan gangguan yang material.

Pada pembukaan perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah tercatat menguat terbatas 0,09 persen ke posisi Rp17.279 per dolar AS. Pergerakan itu terjadi saat indeks dolar AS masih berada di kisaran 98 dan harga minyak mentah global terus naik.

Bagi BCA, pelemahan rupiah belum menjadi isu yang menghambat penyaluran kredit secara signifikan. John bahkan menyebut bahwa jika rupiah melemah lebih jauh, pengaruhnya terhadap BCA tetap tidak signifikan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bank dengan eksposur valas kecil memiliki ruang yang lebih aman ketika pasar bergerak volatil. Dalam situasi seperti ini, perhatian utama tetap tertuju pada pengelolaan risiko agar kualitas kredit tidak terganggu.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga bisa memberi manfaat bagi sebagian pelaku usaha, terutama eksportir. John menyebut level kurs Rp17.300 berpotensi membuat margin eksportir membaik karena pendapatan dalam valuta asing yang dikonversi ke rupiah menjadi lebih tinggi.

“Kalau seandainya mereka adalah eksportir, tentu saja dengan adanya perlemahan rupiah ini malah menguntungkan,” ujarnya. Namun keuntungan itu tetap tidak menghapus kebutuhan dunia usaha terhadap kurs yang stabil dan mudah diprediksi.

Bagi bisnis, stabilitas nilai tukar tetap penting untuk menyusun anggaran dan perencanaan jangka panjang. Jika pergerakan kurs terlalu lebar, biaya operasional menjadi lebih sulit dihitung dan kepastian usaha ikut menurun.

Karena itu, stabilitas kurs tetap menjadi kebutuhan utama bagi banyak perusahaan maupun perbankan. BCA menilai struktur kredit yang seimbang membantu perseroan menjaga ketahanan menghadapi kondisi pasar yang berubah cepat, sambil mempertahankan kualitas pembiayaan tetap sehat.

Berita Terbaru