Presisi 99,9 Persen di Lini Tablet China, Robot Humanoid Mengubah Standar Produksi

Author: Redaksi Android62

Tingkat keberhasilan lebih dari 99,9 persen menjadi sorotan utama dari uji robot humanoid di lini produksi tablet di Nanchang, China timur. Dalam skenario itu, robot tidak hanya bekerja cepat, tetapi juga menangani proses pemeriksaan kualitas akhir dengan stabil pada ritme produksi massal.

Di fasilitas tersebut, empat robot humanoid menjalani sif kerja delapan jam secara langsung di jalur perakitan yang menuntut ketelitian tinggi. Penerapan ini memperlihatkan bahwa kecerdasan buatan berwujud mulai bergeser dari konsep riset menjadi alat produksi yang benar-benar dipakai di pabrik.

Robot masuk ke tahap kerja nyata

Robot yang digunakan bukan sekadar dipamerkan sebagai prototipe, melainkan menjalankan tugas yang selama ini mengandalkan tenaga manusia dan otomasi konvensional. Mereka ditempatkan untuk memeriksa hasil akhir sebelum tablet meninggalkan lini produksi, sehingga perannya terkait langsung dengan mutu produk.

Salah satu model yang dipakai adalah Genie G2 dari AgiBot. Robot ini mengambil material dari konveyor dengan presisi, memindahkannya ke kotak pengujian, lalu menaruh barang yang tidak sesuai ke jendela khusus agar bisa diambil staf.

Rangkaian kerja tersebut terlihat sederhana, tetapi justru termasuk jenis tugas yang sulit ditangani sistem otomasi yang diprogram secara kaku. G2 dibekali persepsi visual terintegrasi dan kontrol gaya, sehingga mampu menyesuaikan diri saat ada penyimpangan posisi hingga 1 sentimeter dan tetap stabil ketika jalur produksi mengalami gangguan dinamis.

Kecepatan adaptasi jadi keunggulan penting

Uji coba di Nanchang juga menunjukkan bahwa robot dapat menyesuaikan diri dengan beberapa model produk dalam satu lingkungan kerja. Kalibrasi hanya membutuhkan lima menit, sedangkan pergantian lini produksi dan pelatihan ulang disebut tidak lebih dari empat jam.

Bagi pabrik modern, kecepatan seperti itu menjadi nilai tambah karena target produksi dan jenis produk kerap berubah dalam waktu singkat. Dalam kondisi tersebut, robot humanoid dipandang lebih lentur dibanding sistem otomasi lama yang biasanya memerlukan konfigurasi lebih panjang saat tugas berubah.

Data lapangan menunjukkan satu operasi selesai dalam 18 hingga 20 detik. Dalam satu jam, robot itu mampu memproses 310 unit sekaligus menjaga tingkat keberhasilan keseluruhan di atas 99,9 persen.

Dari laboratorium ke lantai produksi

Penerapan di Nanchang menegaskan bahwa embodied AI tidak lagi berhenti sebagai konsep yang dibahas di laboratorium. Wakil Presiden Senior AgiBot, Yao Maoqing, menyebut, “Kecerdasan berwujud bukan lagi sekadar konsep di laboratorium, tetapi pendorong produktivitas nyata yang dapat masuk ke lini produksi dan menciptakan nilai riil.”

Pernyataan itu sejalan dengan pandangan Zhong Junhao, sekretaris jenderal Asosiasi Industri AI Shanghai, yang menilai keberhasilan di lini manufaktur berkecepatan tinggi memberi pengalaman penting untuk penerapan di industri lain. Dengan posisi seperti ini, pabrik menjadi ruang uji utama sebelum robot humanoid digunakan lebih luas.

Sebelum uji di Nanchang, AgiBot juga pernah menguji robot beroda dengan dua lengan di pabrik suku cadang otomotif di Mianyang, China barat daya. Dalam skenario itu, robot diminta mengenali palet dan wadah di lantai pabrik, merencanakan rute secara otonomos, lalu mengangkut wadah ke rak yang ditentukan.

Dorongan adopsi mulai mengarah ke skala besar

Perkembangan berikutnya terlihat di Shanghai Longcheer, tempat robot G2 disebut sudah terintegrasi ke lini produksi massal produk elektronik konsumen hanya dalam empat bulan. Li Long, manajer umum divisi bisnis robotika di perusahaan itu, mengatakan robot tersebut telah bekerja nonstop selama 140 jam.

Penggunaan di Longcheer diperkirakan naik menjadi 100 unit per kuartal ketiga 2026. Yao menilai penerapan cepat dan potensi pengembalian investasi dapat mendorong adopsi skala besar di sektor elektronik konsumen, otomotif, semikonduktor, dan energi.

Dalam kerangka tersebut, robot humanoid tidak diposisikan sebagai pengganti total tenaga kerja, melainkan alat produksi untuk pekerjaan berulang yang menuntut akurasi tinggi. Fokusnya ada pada konsistensi, kecepatan, dan kemampuan menjaga mutu dalam proses yang berjalan tanpa henti.

Perkembangan AgiBot juga tercermin dari capaiannya di pasar global. Perusahaan robotika yang berbasis di Shanghai itu disebut mengirimkan lebih dari 5.100 unit per tahun dan menguasai 39 persen pangsa pasar robot humanoid global, menurut laporan Omdia yang dirilis pada Januari.

Laporan itu menempatkan AgiBot di posisi pertama dunia untuk volume pengiriman dan pangsa pasar, disusul Unitree dan UBTECH. Dengan semakin banyak skenario penerapan di lini produksi, China kian memanfaatkan keunggulan awalnya dalam penggunaan embodied AI untuk industri.

Berita Terbaru