Privy menempatkan kepercayaan digital sebagai inti bisnis, bukan sekadar fitur tambahan. Di tengah tekanan pasar yang membuat banyak startup harus membuktikan daya tahan, pendekatan itu menjadi pembeda yang sulit diabaikan.
Perusahaan ini menunjukkan arah itu saat mewakili startup Indonesia di MatchCAP Singapore 2026, forum yang mempertemukan 59 perusahaan berkembang skala besar dengan 73 investor internasional dari Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Eropa. Ajang yang difasilitasi Endeavor tersebut menjadi panggung bagi perusahaan yang ingin membuktikan bahwa pertumbuhan cepat harus berjalan bersama fondasi yang kuat.
Kepercayaan Dibangun Sejak Awal
Marshall Pribadi, CEO sekaligus Founder Privy, menyampaikan opening remarks di hadapan para investor. Ia menegaskan bahwa masa depan keamanan digital tidak bisa dipisahkan dari kepercayaan, terutama ketika keputusan bisnis, transaksi keuangan, dan pengelolaan dokumen legal makin bergantung pada identitas digital.
Marshall juga mengingatkan bahwa sejak berdiri pada 2016, Privy tidak berhenti pada fungsi tanda tangan elektronik. Fokus utamanya adalah membangun peradaban digital trust yang menjadi fondasi interaksi bisnis modern.
Di forum itu, Marshall menyebut Privy mencatat kenaikan pendapatan hingga 25 kali lipat dan memiliki lebih dari 71 juta pengguna terverifikasi. Ia menilai capaian tersebut lahir dari jaringan ekosistem yang tepat selama delapan tahun terakhir.
Tiga Lapisan Pengaman Identitas Digital
Untuk menjaga sistemnya tetap aman, Privy merancang tiga lapisan perlindungan. Lapisan pertama adalah Trusted Identity, yang memastikan verifikasi identitas individu maupun lembaga berjalan aman dan disertai garansi sertifikat hingga Rp1 miliar.
Lapisan kedua ialah Trusted Communication Channel. Melalui pendekatan ini, Privy menjaga pertukaran data sensitif agar berlangsung lewat jalur yang aman dan terverifikasi sehingga integritas dokumen tetap terpelihara.
Lapisan ketiga adalah Trusted Transaction Authenticity. Pada tahap ini, Privy memakai tanda tangan elektronik tingkat lanjut, digital seal, dan timestamping untuk mengunci dokumen agar tidak mudah dimanipulasi pihak luar.
Bisnis yang Siap Menghadapi Ketidakpastian
Di sesi panel bertajuk “Built to Last: Designing Startups for Uncertainty,” Chief Operating Officer Privy, Nitin Mathur, menyoroti pentingnya daya tahan bisnis di tengah perubahan pasar. Menurutnya, perusahaan yang kuat tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari kemampuan beradaptasi terhadap dinamika teknologi.
Nitin menilai kepercayaan harus dibangun sejak hari pertama perusahaan berdiri. Bagi Privy, kepercayaan bukan lapisan yang ditambahkan belakangan, melainkan fondasi utama yang menentukan apakah sebuah bisnis sanggup bertahan saat masalah muncul.
AI Masuk ke Rencana Produk
Ke depan, Privy menyiapkan product roadmap jangka panjang dengan fitur yang dirancang untuk mempermudah birokrasi dan pengelolaan dokumen di ruang digital. Rencana itu juga menempatkan kecerdasan buatan sebagai elemen penting dalam sistem pengamanan data mereka.
Integrasi AI diharapkan mempercepat proses verifikasi data tanpa mengorbankan standar keamanan yang sudah menjadi keunggulan utama Privy. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan keaslian identitas digital, arah ini memperlihatkan bahwa persaingan startup tidak lagi hanya soal pertumbuhan pengguna, tetapi juga soal membangun infrastruktur yang sanggup bertahan menghadapi perubahan teknologi dan tuntutan kepercayaan yang makin tinggi.
