Produksi gula konsumsi nasional kini sudah berada di kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton. Angka itu membuat jarak menuju kebutuhan dalam negeri yang berada di sekitar 2,8 juta ton per tahun semakin tipis.
Situasi ini menandakan peluang Indonesia untuk menekan ketergantungan pada impor makin terbuka. Jika tren kenaikan produksi berlanjut, gula konsumsi dalam negeri berpeluang mendekati, bahkan melampaui, kebutuhan nasional pada 2026.
Dorongan terbesar datang dari kebun
Perbaikan produksi tidak hanya terlihat dari naiknya volume, tetapi juga dari pembenahan di sektor budidaya. Selama ini, salah satu hambatan utama industri gula nasional adalah produktivitas tebu yang masih rendah.
Dalam satu dekade terakhir, rata-rata produktivitas nasional berada di kisaran 60–65 ton per hektare dengan rendemen sekitar 7–8 persen. Angka itu masih tertinggal dari negara produsen besar seperti Brasil dan Thailand yang mampu menghasilkan lebih dari 80–100 ton per hektare.
Namun, dua tahun terakhir menunjukkan arah yang lebih baik. Produktivitas nasional mulai bergerak ke kisaran 70 ton tebu giling per hektare, terutama berkat penggunaan varietas unggul dan teknik budidaya yang lebih baik.
Di beberapa wilayah percontohan, hasilnya bahkan sudah menembus 90 ton per hektare. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang peningkatan produksi masih sangat terbuka jika perbaikan budidaya dijaga.
Peremajaan lahan menjadi kunci
Program bongkar ratoon ikut menjadi penopang penting dalam upaya mendongkrak produksi. Tanaman ratoon yang dibiarkan terlalu lama cenderung mengalami penurunan hasil, dan produksinya bisa susut 20–30 persen.
Pemerintah menargetkan peremajaan sekitar 200.000 hektare lahan tebu dalam periode 2025–2027. Dari skema tersebut, tambahan produksi tebu diperkirakan bisa mencapai 3 juta ton bila produktivitas naik minimal 15 ton per hektare.
Dengan rendemen 8–9 persen, tambahan tebu itu dapat menghasilkan sekitar 240.000–270.000 ton gula. Jumlah tersebut dinilai cukup berarti untuk membantu menutup defisit yang masih membayangi pasar gula konsumsi.
Pabrik gula juga harus ikut dibenahi
Selain kebun, sisi pengolahan masih menyimpan pekerjaan besar. Banyak pabrik gula di Indonesia sudah berusia lebih dari 50 tahun dan masih bekerja dengan efisiensi rendah.
Rendemen aktual di banyak fasilitas masih sekitar 7 persen. Padahal, kenaikan rendemen ke 9 persen saja dapat memberi tambahan sekitar 700.000 ton gula dari total tebu sekitar 35 juta ton.
Artinya, pembenahan pabrik bisa memberi dampak yang sangat besar. Langkah ini bahkan dinilai bisa setara dengan pembukaan lahan baru karena manfaatnya langsung terasa pada hasil akhir gula.
Lahan di luar Jawa mulai dilirik
Pemerintah juga mendorong perluasan kebun tebu ke luar Jawa. Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi, hingga Papua disebut memiliki lahan luas serta peluang mekanisasi yang lebih besar.
Selama ini, luas lahan tebu nasional cenderung stagnan di kisaran 500.000 hektare. Untuk swasembada yang berkelanjutan, kebutuhan perluasan disebut mencapai 700.000 hektare atau lebih.
Jika tambahan 200.000 hektare terealisasi dengan produktivitas konservatif 80 ton per hektare, maka tambahan tebu bisa mencapai 16 juta ton. Dalam hitungan kasar, volume itu setara sekitar 1,2–1,4 juta ton gula dan berpotensi menciptakan surplus.
Impor masih membayangi pasar
Meski arah perbaikan terlihat jelas, swasembada gula tetap memerlukan konsistensi kebijakan. Harga gula yang adil, pengendalian impor yang tepat waktu, dan dukungan pembiayaan bagi petani menjadi faktor penting agar produksi dalam negeri tidak tertekan.
Indonesia masih mengimpor gula mentah dalam jumlah besar, terutama untuk kebutuhan industri. Volumenya bisa mencapai 5–6 juta ton per tahun, sehingga perbaikan pada gula konsumsi perlu dijaga agar tidak terganggu dinamika pasokan.
Di sisi lain, petani tetap memegang peran menentukan. Kemitraan, akses teknologi, dan jaminan harga dibutuhkan agar budidaya tebu tetap menarik dan berkelanjutan di berbagai sentra produksi.
