Kapasitas produksi pupuk dalam negeri membuat Indonesia berada di posisi yang relatif aman saat Selat Hormuz memanas. Di saat banyak negara khawatir terhadap gangguan pasokan urea dunia, kebutuhan petani di Indonesia masih bisa ditopang dari produksi nasional yang memiliki ruang lebih besar dibanding kebutuhan domestik.
Situasi ini penting karena pupuk menjadi salah satu penentu utama produktivitas pertanian. Ketika rantai pasok global terguncang, negara yang masih bergantung pada impor biasanya lebih cepat merasakan dampaknya melalui kenaikan biaya, keterlambatan distribusi, hingga tekanan harga di pasar.
Pasokan dalam negeri jadi penyangga
Indonesia memiliki keuntungan dari ketersediaan gas alam domestik yang menjadi bahan baku utama industri pupuk. Struktur ini membuat sektor pupuk nasional tidak terlalu rentan terhadap disrupsi yang muncul dari luar negeri, termasuk ketegangan di jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz.
Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, menegaskan bahwa risiko gangguan di selat tersebut tidak memberi dampak signifikan bagi Indonesia. Ia menyebut kapasitas produksi perusahaan tetap kuat dan didukung pasokan gas dalam negeri, sehingga prioritas utama tetap mengarah pada pemenuhan kebutuhan pupuk nasional.
Yehezkiel menyampaikan hal itu dalam forum IDE Katadata Future Forum 2026 di Jakarta pada Rabu, 15 April. Ia juga menekankan bahwa stok pupuk nasional saat ini berada dalam kondisi sangat sehat.
Selat Hormuz dan tekanan pasar pupuk
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur logistik penting yang menopang arus energi global sekaligus pasokan bahan baku industri. Dalam konteks pupuk, sekitar 30 persen pasokan urea dunia disebut melewati jalur yang kini rawan terdampak ketegangan geopolitik.
Jika jalur itu terganggu, pasar internasional berpotensi merasakan efek berantai. Biaya distribusi bisa naik, pengiriman bisa melambat, dan harga pupuk dapat tertekan lebih jauh, terutama bagi negara yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa negara dengan basis produksi domestik yang kuat memiliki posisi tawar lebih baik. Indonesia termasuk dalam kelompok yang masih bisa menjaga stabilitas pasokan karena tidak sepenuhnya bertumpu pada pasar internasional.
Ada ruang aman untuk kebutuhan petani
Data produksi Pupuk Indonesia menunjukkan adanya selisih yang memberi bantalan pasokan. Perusahaan menargetkan produksi urea sebesar 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik berada di kisaran 6,3 juta ton.
Selisih itu menjadi ruang aman ketika pasar global bergerak tidak menentu. Dengan kapasitas produksi yang melampaui kebutuhan dalam negeri, Indonesia memiliki peluang lebih besar menjaga pasokan tetap stabil bagi petani.
Bagi sektor pertanian, kepastian pupuk tidak hanya dibutuhkan pada satu musim tanam. Pasokan yang terjaga membantu menjaga produktivitas panen dan mengurangi risiko gangguan pada sistem pangan nasional.
Kedaulatan pangan dibangun dari hulu
Penguatan pupuk mandiri tidak berhenti pada volume produksi. Pupuk Indonesia juga mulai mengarah pada transformasi industri yang lebih tahan terhadap krisis dan tetap memperhatikan tekanan lingkungan.
Salah satu langkah yang dijalankan adalah pengembangan green ammonia dan blue ammonia untuk memperkuat ketahanan bahan baku sekaligus menekan emisi. Perusahaan juga memanfaatkan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) agar proses produksi bisa lebih stabil tanpa mengabaikan upaya pengurangan jejak karbon.
Di luar aspek industri, Pupuk Indonesia turut mendorong pemberdayaan kelompok tani dan pemanfaatan lahan tidur. Langkah ini memperkuat ekosistem pertanian dari sisi hulu, sehingga ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada pupuk, tetapi juga pada pengelolaan lahan yang lebih optimal.
Walau letak Selat Hormuz jauh dari Indonesia, dampaknya tetap bisa merambat melalui harga energi, biaya logistik, dan dinamika pasar pupuk global. Selama pasokan bahan baku dalam negeri tetap terjaga dan produksi nasional tetap kuat, Indonesia masih memiliki ruang yang cukup besar untuk menjaga kedaulatan pangan di tengah situasi global yang belum stabil.
Source: www.suara.com






