PS6 dan Xbox Generasi Baru Terancam Makin Mahal, Micron Bikin Industri Waswas

Harga konsol generasi berikutnya kini terancam naik lebih tinggi dari yang selama ini diharapkan pasar. Kesepakatan Micron selama lima tahun memicu kekhawatiran bahwa PS6 dan Xbox generasi baru akan makin sulit mempertahankan banderol yang ramah konsumen.

Masalah utamanya ada pada memori dan penyimpanan, dua komponen yang menjadi tulang punggung perangkat game modern. Saat pasokan komponen itu ketat dalam jangka panjang, produsen konsol punya ruang lebih sempit untuk menekan harga jual akhir.

Tekanan biaya bisa bertahan lama

Menurut laporan yang mengutip CEO Micron Sanjay Mehrotra, pelanggan sudah memahami bahwa kekurangan pasokan memori dan storage tidak akan cepat pulih. Ia juga menyebut perbaikan pasokan industri kemungkinan baru terjadi bertahap pada 2028, tanpa kepastian kapan suplai benar-benar bisa mengejar permintaan.

Kondisi itu membuat biaya produksi perangkat game baru ikut terdorong naik. Konsol generasi berikutnya sangat bergantung pada memori berkecepatan tinggi dan media penyimpanan cepat, sehingga harga komponen yang tetap tinggi akan langsung terasa pada struktur biaya manufaktur.

Dampaknya tidak berhenti di konsol

Tekanan ini diperkirakan memengaruhi Xbox, PlayStation, dan pasar PC gaming setidaknya hingga 2030. Alasannya sederhana, memori menjadi fondasi hampir seluruh perangkat komputasi modern, bukan hanya mesin game rumahan.

Dalam situasi seperti ini, generasi konsol berikutnya berisiko lahir dengan harga yang tidak lagi terasa “standar” untuk pasar konsol. Pertanyaannya lalu bergeser, apakah PS6 dan proyek Xbox berikutnya masih bisa menawarkan harga yang cukup masuk akal bagi pembeli massal.

Gejala serupa sudah terlihat sekarang

Tekanan biaya sebenarnya sudah mulai tercermin di pasar saat ini. Xbox baru-baru ini mengalami kenaikan harga global, sementara lini konsol 2TB disebut telah dipensiunkan.

Microsoft juga disebut sedang memikirkan ulang Project Helix agar tidak menanggung kerugian besar. Langkah itu menunjukkan bahwa tantangan biaya perangkat keras sudah masuk ke level keputusan bisnis, bukan lagi sekadar proyeksi.

Di sisi lain, laporan yang beredar menyebut Sony menunda peluncuran PS6 dan memperpanjang usia PS5 karena biaya manufaktur melonjak. Sony juga disebut menerapkan region lock pada varian PS5 versi disk-only yang lebih terjangkau di Jepang sebagai respons terhadap kondisi ekonomi perangkat keras saat ini.

Pasar PC gaming ikut tertekan

Krisis pasokan memori juga menekan pasar PC gaming dengan cara yang serupa. Valve bahkan merilis PC gaming small form factor baru bernama Steam Machine dengan harga di atas $1,000, yang memperlihatkan betapa sulitnya perangkat gaming baru dijual murah saat ini.

Jika harga memori tinggi bertahan lebih lama, batas psikologis harga perangkat gaming bisa ikut bergeser. Produk yang sebelumnya dianggap terlalu mahal untuk mesin dasar dapat perlahan menjadi lebih umum di pasar.

Bagi ekosistem konsol, perubahan itu menjadi masalah besar karena daya tarik historisnya justru ada pada akses yang lebih mudah bagi pemain kasual. Saat harga mendekati atau bahkan menembus level yang biasa diasosiasikan dengan PC mahal, pasar berisiko bergeser ke kelompok penggemar yang lebih kecil dan lebih siap membayar tinggi.

Opsi yang mungkin dipilih Sony dan Microsoft

Tekanan seperti ini bisa memaksa produsen mencari cara lain agar harga awal tidak terasa terlalu berat bagi konsumen. Salah satu opsi yang paling sering dibicarakan adalah dorongan lebih besar ke cloud gaming.

Dengan pemrosesan grafis dilakukan dari jarak jauh, perangkat lokal tidak perlu terlalu mahal atau terlalu kuat. Microsoft sudah lebih agresif mendorong layanan cloud streaming Xbox di berbagai platform, sedangkan Sony sejauh ini masih membatasi cloud gaming melalui PlayStation Plus Premium di PS5 dan PS Portal.

Kondisi pasar memori saat ini juga bisa memberi dorongan baru bagi Sony untuk membuka layanan cloud ke lebih banyak perangkat, termasuk Windows PC. Langkah seperti itu dapat membantu menjaga akses ke game tetap luas tanpa sepenuhnya bergantung pada penjualan konsol mahal.

Opsi lain adalah kembali mengandalkan model langganan perangkat keras. Skema seperti Xbox All Access yang kini sudah dihentikan bisa kembali relevan karena cicilan bulanan lebih mudah diterima ketimbang harga beli penuh yang sangat tinggi.

Di sisi teknis, pengembang juga diperkirakan akan makin bergantung pada perangkat lunak untuk menutup keterbatasan hardware. Teknologi upscaling dan AI upscaling berpotensi menjadi alat penting untuk menjaga performa pada perangkat yang lebih murah atau menengah.

Pendekatan itu memang tidak menyelesaikan masalah harga memori. Namun, selama pasar memori belum stabil, masa depan PS6 dan Xbox generasi baru tampaknya akan ditentukan bukan hanya oleh kekuatan chip, melainkan juga oleh seberapa kreatif Sony dan Microsoft mengakali biaya komponen yang terus menekan industri.

Source: tech.sportskeeda.com

Berita Terkait