Puding roti kukus menjadi salah satu cara paling praktis untuk mengurangi limbah makanan dari dapur rumah. Roti yang sudah tidak segar justru bisa diubah menjadi hidangan penutup yang lembut, mengenyangkan, dan tetap bernilai.
Di tengah perhatian yang makin besar terhadap keberlanjutan, olahan ini menempati posisi menarik karena langsung memanfaatkan bahan yang sering terbuang. Dalam pemberitaan www.liputan6.com, puding roti bahkan disebut sebagai “pahlawan limbah makanan” karena fungsinya yang sangat dekat dengan persoalan roti sisa.
Roti yang agak kering justru lebih ideal
Banyak orang mengira roti segar adalah pilihan terbaik, tetapi roti yang sudah agak kering ternyata lebih cocok untuk puding. Lucy Yanckello, Ph.D., menjelaskan bahwa tekstur roti basi membantu campuran telur dan susu terserap lebih baik, sehingga hasil akhirnya tidak terlalu lembek.
Karakter itu membuat puding roti punya tekstur yang lebih konsisten dan tidak cepat hancur saat disajikan. Jenis roti yang bisa digunakan juga sangat beragam, mulai dari roti tawar, gandum, brioche, croissant, hingga roti burger dan hot dog.
Alat sederhana, hasil yang fleksibel
Resep puding roti kukus tidak menuntut bahan yang rumit. Campuran dasarnya hanya roti sisa, telur, dan cairan seperti susu, lalu bisa ditambah gula, vanila, dan rempah sesuai selera.
| Bahan Utama | Takaran Umum | Pelengkap Opsional |
|---|---|---|
| Roti tawar sisa | 3-6 lembar, dipotong kubus | – |
| Telur | 2-3 butir | – |
| Susu | 1-1½ cangkir | – |
| Gula | ¼-½ cangkir | – |
| Vanila, kayu manis, pala | Secukupnya | Kismis, buah kering, kacang-kacangan |
Adonan dibuat dengan mencampurkan semua bahan dasar hingga roti meresap, lalu didiamkan setidaknya 30 menit. Setelah itu, campuran dituangkan ke loyang tahan panas yang sudah diolesi mentega atau minyak, kemudian dikukus selama 35-50 menit sampai matang.
Puding roti kukus dapat dinikmati hangat atau dingin, dan bisa disimpan di lemari es untuk dihangatkan kembali. Hidangan ini juga cocok disajikan bersama saus karamel, saus vanila, es krim, atau krim kocok.
Dari dapur rumah ke dampak yang lebih luas
Pemanfaatan roti sisa tidak hanya berguna untuk rumah tangga, tetapi juga memiliki dampak ekonomi dan lingkungan. Ali Ozseven dalam tulisannya di Medium menyoroti bahwa penggunaan roti basi dapat mendukung keamanan pangan, efisiensi ekonomi, dan tujuan keberlanjutan.
Praktik ini membantu menekan volume sampah makanan ke tempat pembuangan akhir sekaligus mengurangi emisi metana. Di Inggris, Tesco bahkan disebut telah mengubah baguette yang tidak terjual menjadi puding roti dan crostini, dengan hasil pengurangan limbah toko roti hingga 40%.
Serbaguna hingga versi gurih
Keunggulan puding roti terletak pada sifatnya yang mudah disesuaikan. Rust Nutrition Services menekankan bahwa resep ini tetap bisa dibuat selama tersedia roti basi, telur, dan cairan lain seperti susu atau pisang yang dihaluskan.
Chef Roland Torok-Ducharme dari 1 Kitchen Toronto juga memanfaatkan puding roti sebagai bagian dari etos zero waste. Selain versi manis, hidangan ini bahkan bisa dibuat gurih dengan tambahan keju, daging asap, atau sayuran sisa.
Michelle Fagone, koki makanan Paleo dan penulis buku resep, menegaskan bahwa puding roti layak disebut pahlawan limbah makanan karena kemampuannya memanfaatkan roti basi. Dengan bahan sederhana dan cara masak yang mudah, hidangan ini memberi alasan kuat agar roti sisa tidak langsung berakhir di tempat sampah.
Source: www.liputan6.com






