Di Sudan, kompleks piramida Meroë menyimpan lebih dari 200 bangunan kuno dan jumlah itu melampaui koleksi piramida di Mesir. Situs ini menjadi salah satu konsentrasi piramida terbesar dalam sejarah kuno, meski selama ini namanya jauh lebih jarang dibicarakan.
Keberadaan Meroë juga memperlihatkan bahwa warisan piramida di Afrika tidak berhenti pada kisah Mesir. Kompleks ini berdiri di wilayah Nubia kuno dan dibangun oleh peradaban Kerajaan Kush sekitar tahun 300 Sebelum Masehi hingga 350 Masehi.
Bentuknya Tajam dan Berbeda dari Giza
Piramida di Meroë memiliki ciri yang langsung membedakannya dari piramida Giza. Ukurannya lebih kecil, dengan tinggi rata-rata sekitar 6 hingga 30 meter, tetapi kemiringan sisinya jauh lebih curam dan dapat mencapai sekitar 70 derajat.
Bentuk runcing itu berkaitan dengan teknik pembangunan yang memakai alat pengungkit bernama shadouf. Karena alat tersebut ditempatkan di bagian tengah struktur, fondasi piramida harus dibuat sempit sehingga dindingnya tampak lebih curam.
Makam Sebenarnya Berada di Bawah Tanah
Keunikan lain dari Meroë terletak pada fungsi bangunannya. Piramida Nubia ini tidak menyimpan ruang kubur di dalam struktur utama seperti piramida Mesir, melainkan hanya menjadi penanda makam di atas tanah.
Ruang pemakaman aslinya digali jauh ke dalam batuan keras di bawah permukaan. Jenazah anggota kerajaan ditempatkan di kamar bawah tanah, lalu piramida batu pasir dibangun tepat di atasnya sebagai penanda makam.
Tradisi Keagamaan yang Tumbuh Mandiri
Di sisi timur setiap piramida, para pembangun juga menambahkan kapel persembahan kecil untuk ritual doa. Detail ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan di Nubia berkembang dengan jalur yang mandiri dan tidak sekadar meniru model dari Mesir.
Susunan tersebut membuat Meroë penting bukan hanya sebagai situs pemakaman, tetapi juga sebagai bukti identitas arsitektur dan spiritual Kerajaan Kush. Kompleks ini menunjukkan bagaimana peradaban Afrika kuno membangun ciri khasnya sendiri di lembah Sungai Nil.
Luka Panjang dari Penjarahan
Sejumlah puncak piramida di Meroë kini tampak terpotong. Kerusakan itu bukan hanya akibat usia, melainkan ulah penjelajah sekaligus pemburu harta karun asal Italia, Giuseppe Ferlini.
Pada tahun 1834, Ferlini melakukan penggalian liar dan menggunakan dinamit untuk merusak bagian atas piramida demi mencari emas. Aksi itu memang membawanya pada perhiasan emas milik Ratu Amanishakheto, tetapi juga meninggalkan kerusakan permanen pada puluhan piramida.
Koleksi emas hasil jarahan itu kemudian tersebar di berbagai museum di Eropa. Jejak penjarahan tersebut masih menjadi bagian kelam dari sejarah Meroë yang kini harus bertahan di tengah badai pasir gurun dan konflik yang melanda Sudan.
Meski demikian, Pyramids of Meroë tetap berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban kuno Afrika. Di tengah ancaman alam dan sejarah penjarahan, situs ini terus menarik perhatian peneliti dunia karena bentuknya yang unik dan kisahnya yang berbeda dari piramida-piramida paling terkenal di dunia.
Source: www.idntimes.com






