MSG kerap menjadi tersangka utama saat seseorang merasa pusing setelah menyantap makanan gurih. Namun, penelitian yang tersedia belum menunjukkan hubungan yang konsisten antara konsumsi MSG dalam jumlah normal dan sakit kepala pada kebanyakan orang.
Mayo Clinic menyatakan belum ada bukti konsisten bahwa MSG menyebabkan sakit kepala, wajah memerah, kesemutan, mual, atau rasa lemas pada mayoritas populasi. Keluhan memang dapat muncul pada sebagian kecil individu, tetapi umumnya ringan dan sementara.
Karena itu, pusing setelah makan tidak dapat langsung dipastikan sebagai akibat MSG. Faktor lain dari makanan maupun kondisi tubuh perlu dipertimbangkan, terutama bila keluhan terjadi berulang.
Gejala yang perlu dibedakan
Keluhan ringan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG dapat berupa sakit kepala, mual, berkeringat, wajah memerah, mati rasa, atau kelelahan. Gejala tersebut biasanya dilaporkan muncul dalam waktu hingga dua jam pada orang yang sensitif.
| Situasi | Informasi yang diketahui | Langkah awal |
|---|---|---|
| Konsumsi MSG secukupnya | Belum terbukti kuat memicu pusing pada kebanyakan orang. | Gunakan sebagai bagian dari pola makan seimbang. |
| Keluhan ringan setelah makan | Dapat berupa pusing, mual, lelah, atau wajah memerah. | Minum air putih, beristirahat, dan amati perkembangannya. |
| Keluhan berat | Sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, atau pembengkakan. | Segera mencari pertolongan medis. |
Gejala yang disertai sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, atau pembengkakan pada wajah dan tenggorokan tidak boleh dianggap ringan. Kondisi tersebut memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.
Kelompok sensitif jumlahnya kecil
Harvard Health Publishing menilai MSG kemungkinan tidak layak menyandang reputasi sebagai bahan yang berbahaya bagi sebagian besar orang. Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi kecil sebagai bagian dari makanan tidak menimbulkan dampak negatif bagi mayoritas populasi.
Istilah MSG symptom complex digunakan untuk menggambarkan keluhan pada orang yang sensitif terhadap bahan tersebut. Kelompok ini diperkirakan mencakup kurang dari 1 persen populasi.
Ahli saraf Fred Cohen, seperti dikutip health.detik.com, menilai bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk menyimpulkan MSG sebagai penyebab sakit kepala dalam konsumsi sehari-hari. Dalam beberapa penelitian, keluhan lebih sering tampak ketika MSG diberikan dalam dosis yang jauh lebih tinggi daripada pemakaian lazim pada makanan.
MSG berasal dari glutamat yang juga ada secara alami
Monosodium glutamate atau MSG adalah garam natrium dari asam glutamat. Glutamat secara alami juga terdapat dalam tomat, jamur, keju parmesan, rumput laut, dan daging, serta menghasilkan rasa umami.
Cleveland Clinic menjelaskan MSG dibuat melalui fermentasi bahan seperti tebu, bit gula, atau molase. Bahan ini kemudian digunakan untuk memperkuat rasa gurih dalam masakan dan berbagai produk pangan.
Kecurigaan terhadap MSG berkembang sejak istilah Chinese Restaurant Syndrome muncul pada akhir 1960-an. Istilah itu berawal dari laporan keluhan setelah makan di restoran China dan kemudian mendorong penelitian mengenai kemungkinan peran MSG.
Gunakan sewajarnya dalam menu harian
MedlinePlus menyebut MSG secara umum dianggap aman bila digunakan sesuai kebutuhan. WHO merekomendasikan batas konsumsi hingga 120 miligram per kilogram berat badan per hari, sedangkan FASEB menyatakan konsumsi sekitar 3 gram per hari masih aman bagi kebanyakan orang.
MSG mengandung natrium sekitar sepertiga lebih rendah dibandingkan garam dapur, menurut Harvard Health Publishing. Pemakaian yang tepat dapat membantu mempertahankan rasa gurih tanpa menambah garam secara berlebihan.
Pada nasi goreng, rasa dapat dibangun dengan MSG secukupnya, sayuran yang beragam, serta protein seperti telur, ikan, tahu, atau tempe. Penggunaan minyak secukupnya dan pemilihan bahan segar juga membantu menjaga menu tetap lebih seimbang.
