Urine yang terus-menerus berwarna kuning gelap dapat menjadi petunjuk tubuh kekurangan cairan. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat membuat mineral dan limbah dalam urine lebih terkonsentrasi sehingga membebani ginjal.
Kekurangan minum tidak secara langsung menyebabkan gagal ginjal, tetapi dapat membuka jalan bagi gangguan lain. Batu ginjal dan infeksi saluran kemih yang berulang dapat mengganggu fungsi organ ini dalam jangka panjang bila tidak ditangani.
Warna urine perlu diperhatikan
National Kidney Foundation menyebut urine kuning jernih umumnya menandakan hidrasi yang baik. Sebaliknya, warna kuning gelap dapat mengarah pada kondisi dehidrasi dan perlu direspons dengan memperhatikan asupan cairan.
| Warna Urine | Kemungkinan Arti | Hal yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|---|
| Kuning jernih | Hidrasi tubuh baik | Pertahankan asupan cairan sesuai kebutuhan |
| Kuning gelap | Kemungkinan dehidrasi | Perhatikan kecukupan cairan tubuh |
| Merah muda hingga merah tua | Dapat menunjukkan darah dalam urine | Perlu perhatian karena dapat terkait gangguan ginjal |
| Merah atau cokelat tua | Dapat berkaitan dengan batu atau infeksi | Tidak boleh diabaikan |
Ahli bedah urologi Dr Nipun AC mengingatkan bahwa urine berwarna merah atau cokelat tua tidak boleh dianggap remeh. Selain berkaitan dengan batu ginjal dan infeksi saluran kemih, warna tersebut dapat menjadi tanda awal kanker kandung kemih maupun kanker ginjal.
Ginjal membutuhkan cairan untuk bekerja
Ginjal menyaring sekitar 189 liter darah setiap hari untuk membuang limbah dan kelebihan cairan melalui urine. Proses ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan ginjal melalui kecukupan cairan yang dipenuhi secara teratur.
Saat tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat karena kandungan mineral dan produk limbahnya meningkat. Kidney Research UK menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat memicu pembentukan kristal yang berkaitan dengan batu ginjal serta penyakit ginjal tertentu.
Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia, dr Pringgodigdo Nugroho, menjelaskan dampak jarang minum muncul secara bertahap. Kekurangan cairan kronis dapat memicu masalah lain yang kemudian memperburuk fungsi ginjal.
Risiko infeksi saluran kemih berulang juga perlu diperhatikan ketika tubuh tidak memperoleh cairan yang cukup. Zat pembentuk batu dapat semakin terkonsentrasi, sehingga peluang terbentuknya batu ginjal ikut meningkat.
Takaran minum tidak sepenuhnya sama
Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, Sp.PD-KGEH, menyebut kebutuhan air putih sehari sekitar 2 liter. Jumlah tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing dan cairan yang hilang.
Angka 2 liter merujuk pada air putih, bukan seluruh kebutuhan cairan harian. Cairan juga dapat diperoleh dari minuman lain, sup, serta makanan yang memiliki kandungan air tinggi.
| Kelompok | Total Asupan Cairan Harian | Sumber Cairan |
|---|---|---|
| Pria | Sekitar 3,7 liter | Air, minuman, sup, dan makanan tinggi air |
| Wanita | Sekitar 2,7 liter | Air, minuman, sup, dan makanan tinggi air |
| Orang dewasa | Sekitar 2 liter air putih | Kurang lebih 8 gelas berukuran 230 ml |
Mayo Clinic mencatat total asupan cairan harian sekitar 3,7 liter untuk pria dan 2,7 liter untuk wanita. Kebutuhan itu mencakup cairan dari seluruh makanan dan minuman, bukan hanya air putih.
Jangan mengganti kekurangan cairan secara berlebihan
Dehidrasi dapat terjadi saat cuaca panas, banyak berkeringat, demam, diare, atau muntah. Namun, menjaga hidrasi tidak berarti minum air sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat.
Kelebihan cairan dapat terjadi ketika konsumsi air melampaui kemampuan ginjal membuangnya atau ketika ginjal menahan terlalu banyak cairan. Kondisi ini dapat mengencerkan elektrolit dan memicu keracunan air serta hiponatremia.
Ketika kadar natrium turun signifikan, cairan dapat berpindah ke dalam sel dan menyebabkan pembengkakan. Karena itu, kebutuhan air putih sebaiknya dipenuhi bertahap sambil memperhatikan kondisi tubuh serta perubahan warna urine yang tidak biasa.
