Putin datang ke Beijing dengan membawa agenda besar: memperkuat kerja sama Rusia-China di bidang ekonomi, energi, politik, dan pertahanan. Di tengah perang Ukraina, tensi Timur Tengah, dan rivalitas global yang makin tajam, pertemuan ini menjadi panggung untuk menegaskan bahwa Moskow dan Beijing masih ingin tampil sebagai poros yang solid.
Kehadiran Vladimir Putin juga menandai 25 tahun persahabatan Sino-Rusia. Ia disebut telah puluhan kali berkunjung ke China dan bertemu Xi Jinping lebih dari 40 kali dalam berbagai kesempatan, sehingga relasi keduanya sudah berada pada tingkat yang sangat intens.
Isyarat kekompakan di hadapan publik
Xi Jinping menyambut Putin di Beijing dengan simbol yang dibuat sangat tegas. Jabat tangan di luar Great Hall of the People, karpet merah, dan lagu kebangsaan dua negara yang dimainkan band militer memberi pesan bahwa hubungan kedua negara ingin ditampilkan tetap erat.
Pertemuan itu tidak hanya soal seremoni diplomatik. Di hadapan kamera, Xi dan Putin memperlihatkan keakraban politik yang sejalan dengan pesan bahwa koordinasi Beijing-Moskow tetap berjalan rapat di tengah tekanan luar.
Putin membuka pembicaraan dengan menyebut momentum kerja sama kedua negara sebagai sesuatu yang “kuat” dan “positif”. Ia juga mengatakan hubungan ekonomi China-Rusia masih menunjukkan dorongan yang kuat meski ada faktor eksternal yang tidak menguntungkan.
Xi merespons dengan menyebut hubungan kedua negara sebagai hubungan yang “tak tergoyahkan”. Ia menegaskan bahwa kepercayaan politik dan koordinasi strategis terus diperdalam, sementara ketahanan hubungan itu tetap bertahan melewati berbagai ujian.
Pembahasan soal kepentingan inti dan stabilitas global
Dalam video sebelum bertemu Xi, Putin mengatakan Rusia dan China siap bekerja sama pada “kepentingan inti” kedua negara. Ia menyinggung perlindungan kedaulatan dan persatuan nasional sebagai bagian dari prioritas itu.
Putin juga menyebut hubungan dekat dan strategis Moskow-Beijing punya peran stabilisasi dalam hubungan global. Pernyataan tersebut menempatkan pertemuan di Beijing bukan sekadar seremoni, melainkan juga pernyataan arah politik bersama.
Xi turut menyoroti situasi perang dan konflik regional. Ia menyebut perang US-Israel melawan Iran dan menilai konflik lanjutan bukan pilihan yang disarankan.
Menurut Xi, gencatan senjata menyeluruh sangat mendesak. Ia juga menekankan bahwa dimulainya kembali permusuhan akan semakin tidak bijak, sambil menegaskan pentingnya menjaga jalur negosiasi.
Sikap itu memperlihatkan bahwa Beijing ingin tampil sebagai pihak yang mendorong de-eskalasi di tengah situasi Timur Tengah yang terus memanas. Dalam konteks yang sama, kedua pihak disebut diperkirakan saling memperbarui informasi soal situasi di Timur Tengah dan Ukraina.
Agenda ekonomi dan energi tetap dominan
Putin datang bersama delegasi besar yang berisi pebisnis Rusia dan para pejabat pemerintah. Kremlin menyebut kedua pemimpin akan menandatangani sekitar 40 kesepakatan yang mencakup ekonomi, pariwisata, dan pendidikan.
Energi menjadi salah satu isu utama dalam pembicaraan itu. Sejak perang di Ukraina, penjualan gas Rusia yang dulu mengalir ke Eropa telah terhenti, sehingga Moskow membutuhkan pemasukan baru untuk menutup kekosongan itu.
Di sisi lain, Putin menyampaikan bahwa kedua negara sama-sama aktif memperluas hubungan di bidang ekonomi, politik, dan pertahanan. Ia menegaskan kedekatan Moskow dan Beijing tidak ditujukan untuk melawan pihak mana pun.
Pernyataan itu sejalan dengan cara kedua negara membingkai hubungan mereka sebagai kontribusi bagi perdamaian dan kemakmuran universal. Dalam situasi ketika perang Ukraina belum mereda dan Timur Tengah masih bergejolak, Beijing serta Moskow tampak ingin menunjukkan bahwa koordinasi mereka tetap menjadi salah satu titik penting dalam peta kekuatan dunia.
