Transaksi QRIS di Jakarta mencapai 3,8 miliar hingga Mei 2026 dan melonjak 212% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka itu menunjukkan bahwa pembayaran nontunai lewat satu pindai kode QR sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari keseharian banyak orang.
Di lapangan, perubahan itu terlihat sederhana namun nyata. Pembeli kini tak lagi sibuk mencari uang pas, sementara pedagang cukup menunggu notifikasi pembayaran berhasil dari ponsel masing-masing.
Belanja harian makin ringkas
Bagi sebagian pengguna, QRIS sudah dipakai untuk kebutuhan kecil yang dulu hampir selalu memakai uang tunai. Tri, 36 tahun, mengaku hampir selalu meninggalkan rumah tanpa uang tunai dan lebih sering memakai ponsel untuk membayar kopi, makan siang, hingga parkir.
“Buat saya lebih praktis. Sekarang hampir semua pembayaran pakai QRIS. Jadi memang sudah jarang bawa uang tunai,” ujarnya saat menggunakan aplikasi wondr by BNI untuk membayar makanan di Jakarta Kreatif Festival 2026 di Istora Senayan.
Pedagang ikut merasakan manfaatnya
Di sisi pedagang, dampaknya juga terasa jelas. Anik, ibu rumah tangga yang beberapa kali menjaga stan bazar sekolah anaknya, menilai QRIS membantu pencatatan transaksi karena semua pembayaran langsung terekam otomatis.
Dalam dua hari bazar pada pertengahan Juni, total penjualan stan yang dijaganya mencapai sekitar Rp6 juta. Sekitar Rp1,5 juta di antaranya dibayar lewat QRIS, sehingga ia tidak perlu lagi menghitung uang tunai sampai malam seperti sebelumnya.
| Pengguna | Situasi | Manfaat QRIS |
|---|---|---|
| Tri | Pembayaran harian, termasuk kopi dan parkir | Lebih praktis, jarang membawa uang tunai |
| Anik | Menjaga stan bazar sekolah | Transaksi tercatat otomatis, pembukuan lebih mudah |
Pertumbuhan digital yang terus menanjak
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada Mei 2026 mencapai 5,22 miliar transaksi atau tumbuh 28,14% secara tahunan. Di periode yang sama, transaksi QRIS bahkan tumbuh 95,10% secara tahunan, ditopang oleh bertambahnya pengguna dan merchant.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan, pertumbuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Mei 2026 tetap tinggi karena didukung sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers seusai Rapat Dewan Gubernur Juni, seperti dikutip kembali oleh finansial.bisnis.com, Kamis (10/7).
BI juga menargetkan 17 miliar transaksi QRIS dengan 70 juta pengguna dan 47 juta merchant sepanjang 2026. Target itu menunjukkan bahwa QRIS tidak lagi dipandang sebagai fitur tambahan, melainkan bagian inti dari ekosistem pembayaran digital nasional.
BNI memperluas adopsi lewat wondr by BNI
Di tengah dorongan digitalisasi yang lebih luas, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memperluas penggunaan QRIS melalui aplikasi wondr by BNI. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal kemudahan, keamanan, dan nilai tambah bagi masyarakat serta pelaku usaha.
“Sebagai mitra strategis pemerintah di sektor keuangan, BNI berkomitmen mendukung langkah BI dalam mempercepat digitalisasi sistem pembayaran dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif,” kata Okki dalam pernyataan resmi.
BNI menyebut transaksi QRIS di perseroan tumbuh 139,99% secara tahunan. Sementara itu, transaksi TapCash, uang elektronik berbasis kartu BNI, tumbuh 23,3% secara tahunan menjadi 142,0 juta transaksi.
Okki juga menilai ukuran transformasi BNI kini tidak lagi sebatas jumlah kantor cabang atau jaringan ATM. Fokusnya bergeser pada kemampuan menghadirkan layanan keuangan yang mengikuti perubahan perilaku masyarakat, termasuk kebiasaan membayar lewat satu pindai kode QR.
Di banyak tempat, perubahan itu terlihat dari meja kasir, stan bazar, hingga parkiran. Bagi konsumen, transaksi terasa lebih cepat dan ringkas, sementara bagi pedagang, pencatatan menjadi lebih rapi dan pengelolaan uang tunai setelah acara selesai menjadi lebih sederhana.
Source: finansial.bisnis.com






