Quake Tetap Legendaris, Tapi Justru Meninggalkan Luka Besar di id Software

Author: Redaksi Android62

Quake memang dikenang sebagai salah satu game first-person shooter paling dihormati sepanjang masa, tetapi di balik status legendaris itu tersimpan biaya manusia yang besar. Sandy Petersen, salah satu desainer asli yang ikut mengerjakan Doom dan Quake di id Software, menyebut pengembangannya sangat melelahkan dan merusak studio dari dalam secara spiritual.

Menurut Petersen, hasil kreatif Quake memang luar biasa, tetapi tim harus membayar harga mahal karena tekanan kerja yang menumpuk dan kelelahan berkepanjangan. Ia menggambarkan proses pembuatannya sebagai perjalanan yang sangat berat, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi kesehatan internal studio.

Retaknya tim setelah Quake dirilis

Dalam unggahan di X pada 24 Juni, Petersen menilai Quake “secara efektif” memecah id Software dari dalam. Ia mengatakan masa pengembangan game itu menguras tenaga dan meninggalkan tim dalam kondisi habis secara mental dan spiritual.

Dampaknya terasa setelah game tersebut meluncur. Dalam beberapa tahun setelah rilis Quake, banyak nama penting meninggalkan studio, termasuk John Romero, Shawn Green, Dave Taylor, Mike Abrash, dan American McGee.

Petersen juga memasukkan dirinya sendiri ke dalam daftar itu. Ia menyebut sebagian kepergian terjadi karena dipaksa, sementara yang lain memilih pergi dengan sendirinya.

Doom dan Quake, dua warisan yang dipandang berbeda

Di tengah peringatan 30 tahun Quake, Petersen mengemukakan pandangan yang memancing perdebatan. Ia menilai Doom, meski secara teknis lebih inferior dibanding Quake, justru memiliki dampak yang lebih besar terhadap dunia game secara keseluruhan.

Pernyataan itu memberi konteks baru pada reputasi Quake. Game ini tetap dipandang sebagai salah satu shooter paling berpengaruh dan paling dihormati, tetapi Petersen menekankan bahwa kehebatan kreatif tidak selalu sejalan dengan kesehatan internal sebuah studio.

Respons jujur dari John Carmack

Respons John Carmack membuat kisah ini semakin menarik. Salah satu tokoh paling berpengaruh di balik lahirnya shooter modern itu memilih menjawab secara terbuka dan tidak defensif.

Carmack mengatakan Quake terlalu ambisius dari sisi teknis. Ia menilai pendekatan yang lebih bertahap, dengan membangun di atas mesin Doom, mungkin akan lebih baik untuk tim.

Ia juga mengakui bahwa dirinya mendorong orang-orang bekerja lebih keras daripada yang seharusnya. Selain itu, ia mengatakan gagal menyadari bahwa intensitas ala startup yang terus-menerus pada akhirnya akan mengikis energi tim.

Masalah struktural di balik kesuksesan

Carmack tidak berhenti pada beban kerja semata. Ia juga menyebut pengaturan saham awal perusahaan sebagai kesalahan struktural yang menciptakan insentif buruk di dalam studio.

Pengakuan itu menunjukkan bahwa masalah di id Software bukan hanya soal ambisi teknis, tetapi juga soal cara perusahaan dibangun dan dijalankan. Dalam konteks itu, Quake bukan sekadar mahakarya yang lahir dari kerja keras, melainkan juga proyek yang memperlihatkan biaya manusia di balik pencapaian besar.

Carmack menutup balasannya dengan dua kata yang sangat langsung kepada Petersen: “Sorry, Sandy.” Bagi dua sosok yang ikut membentuk fondasi first-person shooter modern, pertukaran yang jujur ini menjadi pengingat bahwa bahkan game legendaris pun bisa meninggalkan luka mendalam bagi orang-orang yang membuatnya.

Source: www.notebookcheck.net
Berita Terbaru