Ramen Instan dan Odeng Bisa Lebih Sehat, Begini Cara Menekan Natrium Tanpa Hilang Hangatnya

Ramen instan sering menjadi pilihan cepat saat butuh makanan hangat, tetapi masalah utamanya ada pada natrium yang tinggi. Satu bungkusnya bahkan bisa mengandung hingga 1.760 mg natrium, atau sekitar 88 persen dari batas harian WHO sebesar 2 gram.

Di sisi lain, odeng yang identik dengan kuah gurih juga punya tantangan serupa jika disajikan tanpa kontrol bahan. Kabar baiknya, dua hidangan ini tetap bisa diolah menjadi menu rumahan yang lebih seimbang tanpa kehilangan karakter hangat dan praktisnya.

Ramen instan, praktis tetapi tidak otomatis bergizi seimbang

Ramen instan lahir dari inovasi Momofuku Ando di Jepang pada 1958 untuk menjawab krisis pangan pasca-Perang Dunia II. Pada 1971, ia memperkenalkan Cup Noodles, yang membuat mi instan semakin mudah dibawa dan disiapkan.

Hingga kini, lebih dari 120 miliar porsi ramen instan dikonsumsi setiap tahun di seluruh dunia. Korea Selatan disebut sebagai negara dengan konsumsi per kapita tertinggi.

Masalahnya, mi instan kerap dikritik karena rendah serat, protein, serta sejumlah vitamin dan mineral penting. Sejumlah temuan yang disinggung Liputan6.com juga menunjukkan kaitannya dengan asupan protein, kalsium, zat besi, kalium, niasin, vitamin A, dan vitamin C yang lebih rendah.

Odeng, jajanan jalanan yang bisa dikendalikan di dapur rumah

Odeng atau eomuk dikenal sebagai kue ikan olahan yang populer di Korea Selatan dan sering dijual sebagai jajanan kaki lima. Hidangan ini identik dengan kaldu gurih yang menghangatkan, terutama saat udara dingin.

Secara bahan, odeng dibuat dari ikan putih giling seperti pollock Alaska, cod, atau tilapia yang dicampur tepung dan sayuran cincang halus seperti wortel serta bawang bombay. Adonan itu kemudian dibentuk menjadi lembaran, bola, atau oval sebelum digoreng.

Menurut Liputan6.com, kue ikan ini punya sejarah panjang yang berkaitan dengan berbagai tradisi kuliner Asia. Popularitasnya di Korea Selatan ikut naik selama masa pendudukan Jepang, lalu setelah Perang Korea, eomuk menjadi sumber protein yang terjangkau bagi banyak orang.

HidanganKeunggulan UtamaCatatan GiziCara Membuat Lebih Sehat
OdengHangat, gurih, dan kaya proteinLebih terkontrol jika dibuat sendiriGunakan kaldu ikan teri kering, rumput laut, lobak, kecap asin Korea, dan bawang putih
Ramen instanMurah, cepat, dan praktisTinggi natrium dan minim serat serta proteinKurangi bumbu bubuk, pakai kaldu ayam atau sayuran, lalu tambah protein dan sayuran

Cara mengolahnya agar tetap hangat namun lebih seimbang

Untuk odeng, pilihan yang paling sederhana adalah membuat Eomuk-guk di rumah. Kaldu bisa dibuat dari dashi atau ikan teri kering dan rumput laut, lalu ditambah irisan lobak Korea, kecap asin Korea, dan bawang putih.

Kue ikan kemudian dimasak dalam kaldu sampai mengembang, lalu bisa disajikan dengan daun bawang dan irisan cabai segar. Cara ini memberi kontrol lebih besar atas rasa, garam, dan bahan yang digunakan.

Dalam sajian rumahan, odeng juga tampil lebih terukur dibanding versi jajanan jalanan. Di Busan, beberapa produsen bahkan menawarkan eomuk dengan kandungan daging ikan lebih dari 90 persen.

Untuk ramen instan, langkah paling penting adalah mengurangi atau membuang sebagian besar bumbu bubuk kemasan agar natriumnya turun. Kuah bisa diganti dengan kaldu ayam atau sayuran sebagai dasar rasa.

Setelah itu, tambahkan protein seperti telur, irisan ayam atau sapi, tahu, atau tempe. Sayuran seperti daun bawang, bok choy, bayam, jamur shiitake, wortel, dan kimchi juga bisa dimasukkan agar serat dan vitamin ikut naik.

Beberapa bahan tambahan juga bisa memberi karakter rasa yang berbeda, mulai dari miso paste, minyak cabai, kecap asin, minyak wijen, mentega, sampai selembar keju atau selai kacang. Dengan begitu, ramen instan tetap praktis tetapi tidak berhenti di level mi dan bumbu kemasan saja.

Di tengah kebiasaan makan serba cepat, odeng dan ramen instan masih bisa menjadi pilihan hangat yang masuk akal bila diolah dengan lebih cermat. Dengan penyesuaian sederhana, keduanya dapat berubah dari makanan praktis menjadi sajian rumahan yang lebih seimbang.

Source: www.liputan6.com
Berita Terkait