Hasil studi terbaru menunjukkan bahwa pria dan wanita pada dasarnya setara dalam sebagian besar tugas multitasking yang diuji. Perbedaan yang paling terlihat justru muncul saat peserta harus tetap terlibat dalam percakapan sambil mengerjakan banyak hal sekaligus.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Psychological Research ini meniru tekanan multitasking dalam kehidupan sehari-hari. Tugas yang dipakai mencakup memasak, mencari informasi, mencocokkan angka dan huruf, memantau kata, serta mengikuti percakapan.
Performa pria dan wanita nyaris serupa
Dalam penelitian pertama, 41 pria dan 37 wanita diminta menjalankan beberapa tugas sekaligus. Mereka mengikuti resep masakan, mencari nomor telepon, mencocokkan angka dan huruf, memantau kata dalam tayangan slide, lalu menjawab pertanyaan setiap 20 detik.
| Tugas | Hasil Umum | Catatan |
|---|---|---|
| Memasak | Setara | Pria dan wanita menunjukkan kinerja yang mirip |
| Mencari informasi | Setara | Termasuk mencari nomor telepon |
| Mencocokkan angka dan huruf | Setara | Hasil keduanya tidak berbeda mencolok |
| Memantau kata | Setara | Tidak ada perbedaan signifikan |
| Percakapan | Wanita lebih baik | Pria lebih dari dua kali lebih sering gagal merespons |
Secara umum, hasilnya tidak menunjukkan keunggulan besar pada salah satu gender di tugas visual-manual. Keuntungan yang muncul pada percakapan juga tidak berarti respons pria lebih buruk ketika mereka sempat menjawab.
Menurut para peneliti, pria dan wanita yang berhasil merespons tetap menunjukkan kecepatan serta kualitas jawaban yang setara. Yang membedakan adalah frekuensi kegagalan merespons, dan di bagian ini pria lebih dari dua kali lebih sering tidak menjawab.
Mengapa percakapan menjadi pembeda
Tim peneliti menjelaskan bahwa percakapan lebih mudah dinilai oleh orang lain dibanding tugas lain yang berlangsung bersamaan. Keterlambatan singkat saat mencari informasi bisa saja luput dari perhatian, tetapi keheningan dalam interaksi langsung lebih cepat terasa.
Karena itu, kemampuan mempertahankan percakapan saat melakukan banyak tugas sekaligus dapat menciptakan kesan yang berbeda di mata orang lain. Dari sini, stereotip bahwa wanita lebih unggul dalam multitasking tampak lebih mudah terbentuk dan bertahan luas.
Untuk melihat bagaimana kinerja itu dipersepsikan, studi kedua melibatkan 160 orang. Mereka tidak diberi tahu perbedaan yang sedang diuji dan diminta menonton video peserta sebelumnya.
Hasil penilaian menunjukkan peserta pria dipersepsikan lebih negatif. Mereka dianggap kurang terkendali, kurang efektif, kurang penuh perhatian, kurang senang, dan kurang berusaha dibanding peserta wanita, meski performa objektif di sebagian besar tugas tetap setara.
Masih belum menjawab seluruh penyebab
Para peneliti menduga wanita secara rata-rata cenderung lebih menjaga komunikasi dalam situasi sosial. Namun studi ini tidak menguji langsung penyebab pola tersebut, sehingga penjelasan itu masih bersifat sementara.
Temuan ini juga sejalan dengan sejumlah teori evolusi yang menyebut adanya kecenderungan rata-rata yang lebih kuat pada wanita untuk terlibat dalam percakapan. Meski begitu, penelitian tersebut belum dapat memastikan apakah faktor utamanya berasal dari harapan sosial, perilaku yang dipelajari, prioritas pribadi, pengaruh evolusi, atau penyebab lain.
André Szameitat menegaskan bahwa data yang mereka peroleh menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara pria dan wanita dalam tugas kognitif visual-manual. Perbedaan yang signifikan justru muncul pada kemampuan menjaga percakapan sambil mengerjakan banyak hal sekaligus.







