Ratusan Alat Bidik Malam Dikirim ke Lebanon Selatan, Israel Makin Sulit Membaca Drone Hizbullah

Hizbullah terus memberi tekanan lewat drone yang sulit dilacak, dan militer Israel kini merespons dengan menurunkan sistem penargetan baru di Lebanon Selatan. Langkah ini menunjukkan bahwa ancaman udara di perbatasan tidak lagi dipandang sebagai gangguan sesaat, melainkan persoalan yang menuntut penyesuaian taktik dan teknologi secara langsung di lapangan.

Di tengah situasi yang makin rumit, Israel disebut masih mencari cara yang benar-benar efektif untuk menghadapi drone canggih Hizbullah. Salah satu masalah utamanya adalah drone berbasis serat optik yang disebut sangat sulit dideteksi dan belum bisa dicegat secara konsisten.

Teknologi penargetan dipacu untuk mengejar ancaman

Untuk memperkuat pelacakan dan pencegatan, Israel mulai menempatkan sistem penargetan pintar di wilayah itu. Kebutuhan tersebut muncul karena medan konflik berkembang lebih cepat daripada kemampuan Israel menyesuaikan respons di lapangan.

KAN, media penyiaran publik Israel, mengutip sejumlah sumber yang menyebut ratusan alat bidik malam “dagger” telah dibagikan kepada militer Israel. Peralatan itu dipakai agar tembakan terhadap target bergerak pada malam hari menjadi lebih akurat, terutama saat ancaman udara dan pergerakan pasukan berlangsung dalam kondisi minim cahaya.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Israel bukan hanya bertahan dari serangan. Israel juga harus membaca pola pergerakan drone yang semakin sulit dilacak, sehingga teknologi penargetan menjadi salah satu lapisan penting dalam upaya merespons ancaman dengan cepat.

Korban sudah muncul di tubuh militer Israel

Ancaman drone Hizbullah tidak berhenti pada persoalan deteksi. Pada Sabtu lalu, militer Israel mengatakan serangan drone itu melukai seorang perwira dan dua tentara Israel di Lebanon Selatan, dengan salah satu korban dilaporkan dalam kondisi serius.

Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah melakukan sejumlah operasi yang menargetkan kendaraan militer Israel, titik kumpul pasukan, dan posisi militer di Lebanon selatan. Kelompok itu juga menyatakan berhasil mencegat sebuah drone Israel dalam periode yang sama.

Pengakuan Netanyahu dan tekanan di perbatasan

Akhir bulan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa rudal dan drone Hizbullah merupakan dua ancaman besar bagi negaranya. Ia juga meminta para komandan militer Israel segera mencari solusi, sebuah pengakuan terbuka yang jarang muncul mengenai kelemahan militer Israel.

Pernyataan itu memperkuat gambaran bahwa Israel sedang berusaha menyesuaikan taktik di Lebanon Selatan. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan Israel tidak hanya terletak pada senjata, tetapi juga pada intelijen dan penargetan yang lebih presisi.

Gencatan senjata belum meredakan situasi

Hizbullah menegaskan operasi-operasi itu dilakukan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan Israel dan serangan berulang ke wilayah sipil di Lebanon selatan. Meski gencatan senjata disebut berlaku sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, Israel dilaporkan masih melancarkan serangan harian di Lebanon.

Kondisi itu membuat keamanan di kawasan perbatasan tetap rapuh dan ketegangan belum menunjukkan tanda mereda. Sejak 2 Maret, serangan Israel ke Lebanon dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga sipil mengungsi.

Di tengah eskalasi yang masih berlangsung, drone Hizbullah menjadi tantangan tambahan yang memaksa Israel mengandalkan kombinasi teknologi, penyesuaian taktik, dan penguatan perlindungan pasukan di lapangan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Israel belum menemukan jawaban tuntas atas ancaman yang kini makin sulit dipatahkan itu.

Source: www.viva.co.id

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer