Renang Punya Puluhan Medali, Akuatik Indonesia Dorong Masuk Lagi ke Kurikulum Sekolah

Akuatik Indonesia menempatkan Olimpiade 2032 sebagai salah satu tujuan besar dalam peta jalan pembinaan jangka panjang. Target itu tidak berdiri sendiri, karena federasi juga ingin memastikan regenerasi atlet tetap berjalan dan jalur prestasi nasional tidak terputus.

Di saat yang sama, organisasi ini mendorong renang kembali masuk kurikulum sekolah. Gagasan tersebut dipandang penting bukan hanya untuk mencetak atlet, tetapi juga untuk membangun kebiasaan berenang sejak usia dini di masyarakat.

Pembinaan harus dimulai dari anak-anak

Ketua Harian Federasi Akuatik Indonesia, Harlin Rahardjo, menilai prestasi internasional tidak bisa dibangun secara instan. Menurut dia, proses itu harus dimulai dari pembinaan yang terstruktur sejak anak-anak dan berlanjut sampai level elite.

Harlin menyampaikan pandangan itu saat peluncuran Indonesia Short Course Emerging Series atau ISCES di Stadion Akuatik GBK, Jakarta, Senin 11 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa konsep Long Term Athlete Development atau LTAD menjadi fondasi utama pembinaan akuatik nasional.

Ajang kelompok umur seperti ISCES ikut ditempatkan sebagai bagian dari jalur tersebut. Kompetisi ini melibatkan peserta usia 11 tahun ke bawah, sehingga dapat menjadi ruang awal untuk menyiapkan bibit atlet secara berjenjang.

Sekolah dinilai bisa jadi pintu awal

Dorongan agar renang kembali diajarkan di sekolah juga berangkat dari keyakinan bahwa akses paling luas justru ada di bangku pendidikan. Harlin berharap kebiasaan itu bisa hidup lagi seperti pada era 1980-an dan 1990-an.

Ia menyampaikan gagasan tersebut di hadapan Ketua Umum KONI, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman. Dalam pandangannya, renang tidak hanya penting sebagai cabang prestasi, tetapi juga sebagai keterampilan dasar yang bermanfaat bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat.

“Kita berharap renang ini bisa masuk lagi ke kurikulum sekolah. Paling tidak, kita ingin menyehatkan masyarakat Indonesia, dan ujung-ujungnya bisa menjadi prestasi,” kata Harlin.

Roadmap menuju Olimpiade 2032

Akuatik Indonesia telah menyusun peta jalan pembinaan yang mengarah ke Olimpiade 2032 dan visi Indonesia Emas 2045. Dalam rancangan itu, target federasi bukan sekadar tampil di SEA Games, melainkan juga menembus final Olimpiade 2032.

Untuk mencapai sasaran tersebut, Harlin menilai pembinaan dasar, kompetisi usia dini, dan penguatan atlet elite harus berjalan bersama. Ia menilai kerja berlapis seperti itu diperlukan karena lahirnya atlet kelas dunia butuh waktu panjang.

Fokus jangka panjang itu juga dimaksudkan agar regenerasi tidak berhenti di satu tahap. Dengan jalur pembinaan yang konsisten, bakat muda diharapkan mendapat ruang berkembang sampai benar-benar siap bersaing di level tertinggi.

Potensi medali dari akuatik

Selain soal pembinaan, Harlin juga menyoroti besarnya peluang medali dari cabang akuatik. Nomor renang saja memperebutkan lebih dari 40 medali emas, belum termasuk loncat indah, polo air, open water swimming, dan artistic swimming.

Besarnya jumlah nomor itu membuat akuatik dinilai layak mendapat perhatian lebih besar dalam pembinaan nasional. Jika penguatan dilakukan sejak dasar, kualitas atlet di masa depan diharapkan ikut meningkat dan peluang Indonesia bersaing di ajang multi-event internasional semakin besar.

ISCES pun diposisikan bukan sekadar sebagai kompetisi, tetapi sebagai ruang lahirnya atlet muda nasional. Lewat ajang seperti ini, Akuatik Indonesia ingin membangun jalur yang lebih kuat dari sekolah menuju pembinaan prestasi, sambil memperluas kebiasaan berenang di masyarakat.

Source: www.viva.co.id

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer