Penolakan Donald Trump terhadap usulan damai terbaru dari Iran kembali membuat jalur komunikasi Washington dan Teheran berada di titik buntu. Setelah memeriksa proposal itu, Trump menyebut tawaran tersebut tidak bisa diterima.
Sikap itu memperlihatkan bahwa Amerika Serikat belum menunjukkan tanda melunak terhadap pendekatan yang dibawa Iran. Di saat yang sama, Teheran tetap mendorong skema penyelesaian yang memuat penghentian konflik, pembatasan nuklir, dan pembicaraan soal keamanan kawasan.
Trump menyampaikan penolakannya kepada penyiar Israel Kan. Ia mengatakan proposal Iran sudah dipelajari, tetapi hasilnya tetap sama, yakni tidak dapat diterima.
“Tidak dapat saya terima. Saya telah mempelajarinya, saya sudah mempelajari semuanya itu tidak dapat diterima,” ujar Trump seperti dikutip Antara. Ia juga menyebut operasi militer Amerika Serikat terhadap Israel berjalan sangat baik.
Pernyataan itu menegaskan belum ada sinyal kompromi dari pihak AS. Bagi Iran, keadaan ini kembali menutup ruang yang sempat dibuka lewat jalur perantara.
Di sisi lain, Iran tetap mengajukan rencana bertahap untuk mencapai perdamaian jangka panjang dengan Amerika Serikat. Mengutip Al Jazeera dari sumber yang mengetahui persoalan tersebut, proposal itu memuat tiga tahap dengan sejumlah poin penting.
Tahap awal berisi penghentian total permusuhan antara AS dan Iran dalam 30 hari. Rencana itu juga mencakup gencatan senjata di seluruh kawasan dan kesepakatan non-agresi yang melibatkan sekutu Iran di kawasan serta Israel.
Isi proposal yang dibawa Teheran
Iran turut menawarkan mekanisme pemantauan internasional untuk mengawasi pelanggaran gencatan senjata. Skema ini dibuat agar setiap pelanggaran bisa dipantau lebih ketat oleh pihak luar.
Pada tahap berikutnya, Teheran mengusulkan pembekuan pengayaan uranium selama 15 tahun. Setelah masa itu, pengayaan akan dibatasi hingga 3,6 persen sesuai prinsip penyimpanan nol atau zero storage.
Dalam tahap jangka panjang, Iran ingin membuka dialog strategis dengan negara-negara Arab dan negara tetangga di kawasan. Tujuannya adalah membentuk sistem keamanan bersama yang lebih stabil.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menegaskan bahwa program nuklir Iran bukan topik dalam negosiasi dengan Washington. Menurut dia, pembahasan difokuskan secara eksklusif pada upaya mengakhiri konflik militer antara kedua negara.
Posisi itu menunjukkan Teheran ingin memisahkan isu nuklir dari pembicaraan langsung dengan AS. Namun, justru pada titik inilah pembicaraan tampak paling sulit bergerak maju.
Peran mediator dan detail lain yang ikut diajukan
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan Teheran telah menyerahkan rencana untuk mengakhiri konflik Iran-AS kepada Pakistan. Negara itu disebut berperan sebagai mediator antara kedua pihak.
Rencana perdamaian yang disampaikan Teheran dilaporkan terdiri dari 14 poin, termasuk kompensasi bagi Iran. Dokumen itu juga memuat pembentukan mekanisme baru untuk mengatur pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi lalu lintas maritim kawasan. Karena itu, unsur pengaturan pelayaran dalam proposal Iran menjadi bagian yang ikut disorot dalam pembahasan jalur damai tersebut.
Meski sejumlah detail teknis sudah diajukan dan jalur perantara masih terbuka, penolakan Trump membuat ruang kompromi kembali menyempit. Dengan Washington tetap keras dan Teheran terus mendorong kerangka damai bertahap, prospek dialog langsung masih belum menemukan titik temu.
Source: www.medcom.id






