Jasa Marga memantau sekitar 3,5 juta kendaraan setiap hari melalui Jasamarga Tollroad Command Center atau JMTC. Pusat kendali di Jatiasih, Bekasi, itu bekerja selama 24 jam untuk mengawasi jaringan jalan tol secara waktu nyata.
Pemantauan tersebut didukung lebih dari 3.500 CCTV serta perangkat penghitungan lalu lintas, papan informasi elektronik, kamera kecepatan, timbangan berjalan, radar, kecerdasan buatan, dan analisis data besar. Data itu digunakan untuk mempercepat koordinasi ketika terjadi keadaan darurat maupun saat diperlukan rekayasa lalu lintas.
Bersamaan dengan penguatan kendali digital, Jasa Marga mengubah fungsi tempat istirahat menjadi kawasan tujuan perjalanan. Travoy Rest di KM 88A dan KM 88B Jalan Tol Cipularang disiapkan agar pengguna jalan memperoleh layanan yang lebih lengkap selama berhenti.
Layanan perjalanan diperluas
Perubahan ini mendapat perhatian Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria ketika meninjau kedua lokasi tersebut. Dalam kunjungan itu, ia didampingi Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono.
KM 88A diarahkan sebagai percontohan pengembangan tempat istirahat berikutnya. Pembenahan utamanya mencakup perluasan kawasan, penambahan dan relokasi toilet, ruang terbuka hijau, serta pengaturan pergerakan kendaraan dan parkir.
| Lokasi | Arah pengembangan | Layanan utama |
|---|---|---|
| Travoy Rest KM 88A | Fasilitas dasar dan kapasitas kawasan | Toilet, ruang terbuka hijau, alur kendaraan, dan parkir |
| Travoy Rest KM 88B | Penguatan peran UMKM lokal | Produk khas Nusantara dan pilihan kuliner beragam |
Di KM 88B, perhatian diberikan pada peningkatan kualitas serta peran UMKM lokal. Produk khas Nusantara disiapkan untuk memperluas pilihan kuliner bagi pengguna Jalan Tol Cipularang.
Jasa Marga juga menyediakan titik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU di kedua tempat istirahat itu. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian dari peningkatan layanan bagi kebutuhan perjalanan pengguna jalan tol.
Pengelolaan sampah menjadi bagian layanan
Transformasi kawasan tidak hanya berfokus pada bangunan dan fasilitas kendaraan. Jasa Marga menerapkan pengelolaan sampah terpadu, dari pemilahan di sumber, pengumpulan, pemrosesan, hingga pemanfaatan hasil olahan menjadi pupuk organik.
Pengelolaan itu dikembangkan melalui konsep showcase waste management di tempat istirahat. Langkah tersebut mendukung penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG dalam layanan jalan tol.
Menurut keterangan yang dikutip detikcom, Travoy Rest KM 88B diposisikan untuk mendorong produk lokal memperoleh ruang lebih besar. Sementara itu, KM 88A dipersiapkan sebagai model penataan fasilitas esensial dan kenyamanan pengunjung.
Informasi lalu lintas untuk pengguna jalan
JMTC dioptimalkan Jasa Marga sebagai The Eye of Toll Road dalam pengelolaan operasional jaringan tol. Sistem tersebut membantu perusahaan mengambil keputusan secara cepat dan responsif terhadap perubahan kondisi lalu lintas.
Dony menekankan bahwa teknologi perlu menghasilkan informasi lalu lintas yang akurat bagi masyarakat. Informasi itu diharapkan membantu pengguna jalan memperkirakan waktu tempuh perjalanan.
Ia mengapresiasi transformasi layanan Jasa Marga dalam setahun terakhir. “Pemerintah ingin meningkatkan kualitas layanan kepada publik, sehingga masyarakat dapat menikmati dan merasakan layanan jalan tol meningkat dengan cukup signifikan,” ujar Dony.
Jasa Marga menyatakan akan terus memperkuat inovasi, digitalisasi, dan keberlanjutan dalam layanannya. Arah pengembangan tersebut ditujukan untuk mendukung perjalanan yang aman, nyaman, lancar, dan berkeselamatan.
Source: news.detik.com






