Ancaman PHK menjadi bayang-bayang paling kuat dalam peringatan Hari Buruh di Jalan Pahlawan, Surabaya. Di tengah suasana yang semarak, ribuan buruh tetap membawa keresahan soal kondisi ekonomi yang belum membaik dan kebijakan yang dinilai belum berpihak pada pekerja.
Kehadiran massa buruh membuat kawasan itu lebih ramai daripada biasanya, meski sejak pagi suasana di sekitar lokasi justru tampak lengang. Cuaca mendung serta pengaturan lalu lintas dari dinas perhubungan kota ikut memengaruhi pergerakan warga di sejumlah ruas jalan utama.
Tuntutan buruh dibawa ke pusat aksi
Buruh dari berbagai aliansi yang datang ke Surabaya membawa 21 tuntutan. Di dalamnya ada agenda nasional dan lokal, mulai dari pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan sesuai rekomendasi KSP-PB, penghapusan outsourcing, hingga penolakan upah murah.
Mereka juga menyoroti ancaman PHK yang disebut berkaitan dengan dampak perang global. Selain itu, buruh meminta reformasi sistem perpajakan, termasuk penghapusan pajak atas THR, JHT, dan pensiun serta kenaikan PTKP.
Tuntutan lain yang dibawa ke Jalan Pahlawan mencakup pemberantasan korupsi lewat pengesahan RUU Perampasan Aset. Buruh juga mendesak ratifikasi Konvensi ILO 190, perlindungan bagi pekerja digital platform, dan jaminan akses layanan kesehatan bagi peserta PPU BPJS Kesehatan yang iurannya tidak dibayarkan pemberi kerja.
Ribuan orang datang, suasana tetap bergerak
Sejak pukul 11.00 WIB, rombongan kecil buruh mulai berdatangan dari berbagai aliansi. Lewat pukul 12.00 WIB, arus kedatangan masih terus mengalir dan membuat area aksi dipenuhi peserta dari luar kota.
Di sepanjang jalan, banyak buruh memilih beristirahat di sisi kanan dan kiri jalan sambil membeli jajanan dari pedagang sekitar. Ketika waktu shalat Jumat tiba, mereka menunaikan ibadah bersama dengan alas plastik yang dibentangkan di lokasi.
Massa terbesar datang dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia atau FSPMI. Mereka membawa kain merah putih panjang, poster tuntutan, dan sebagian rombongan menyalakan suar untuk menambah semarak suasana.
Kemeriahan yang berdampingan dengan rasa waswas
Di antara kerumunan, ada juga simbol yang menunjukkan sisi lain dari peringatan ini. Sebagian buruh mengenakan topeng berwajah murung, yang memberi kesan bahwa perayaan Hari Buruh tidak lepas dari kegelisahan yang belum selesai.
Bagi banyak peserta, May Day bukan hanya ajang berkumpul, tetapi juga ruang untuk menyuarakan nasib mereka. Beragam bendera kelompok aneka warna terlihat dikibarkan di lokasi ketika massa dari luar kota terus berdatangan dengan berbagai moda transportasi.
Hujan mengubah ritme aksi
Cuaca sempat mengganggu jalannya kegiatan di Jalan Pahlawan. Federasi Serikat Buruh Militan atau Sebumi masih sempat bertahan dan berorasi, tetapi hujan yang makin deras disertai angin kencang membuat mereka menghentikan aksi dan mencari tempat berlindung.
Meski begitu, semangat peringatan Hari Buruh tetap terlihat di lokasi. Bagi para peserta, kehadiran di Jalan Pahlawan menjadi cara untuk menunjukkan solidaritas sekaligus mempertahankan suara mereka di tengah tekanan yang belum mereda.
Ada yang datang bersama keluarga
Tidak semua peserta datang murni untuk berunjuk rasa. Sejumlah buruh memanfaatkan libur untuk datang bersama keluarga, seperti Zaenal Arifin, 47 tahun, yang hadir bersama anaknya, Muhammad Rafi, 12 tahun, dari Margomulyo, Surabaya, dengan sepeda motor.
Zaenal menyebut kedatangannya juga untuk refreshing dan memberi dukungan moral kepada sesama buruh. Ia bekerja di pabrik pembuatan onderdil kendaraan sejak 1999 dan berencana mengajak anaknya memancing di daerah Benowo setelah dari lokasi aksi.
Kehadiran peserta seperti Zaenal memperlihatkan bahwa Hari Buruh juga menjadi ruang kebersamaan keluarga. Namun, di balik suasana itu, banyak buruh tetap memandang peringatan ini sebagai pengingat bahwa ancaman PHK dan kondisi ekonomi yang belum baik-baik saja masih membayangi kehidupan mereka.
Source: www.kompas.id






