Riset tentang perban berbahan dasar SCOBY membawa nama Kayla melangkah ke forum ilmuwan internasional, lalu berlanjut ke publikasi ilmiah dan dukungan pendanaan. Karya itu membuat siswi BINUS SCHOOL Simprug tersebut dikenal bukan hanya sebagai pelajar berprestasi, tetapi juga sebagai peneliti muda dengan gagasan yang dinilai layak diwujudkan.
Proyek yang ia presentasikan di konferensi internasional yang diselenggarakan The NorthCap University, India, berfokus pada SCOBY, yaitu lapisan selulosa hasil fermentasi kombucha. Dalam risetnya, SCOBY dikaji sebagai bahan alternatif pembalut luka yang lebih berkelanjutan.
Makalah yang ia hasilkan berjudul “Chitosan-Guar Gum Coated SCOBY Bacterial Cellulose As A Potential Material For Sustainable Wound Dressing”. Karya ilmiah itu kemudian dimuat dalam International Journal of Environmental Sciences.
Dari riset yang sama, Kayla juga memperoleh Global Youth Action Fund Grant senilai USD2.500. Hibah kompetitif tersebut umumnya diberikan kepada anak muda dengan gagasan yang dianggap memiliki potensi untuk diwujudkan.
Pencapaian ini menjadi sorotan karena perjalanan akademik Kayla dibangun sejak awal di BINUS SCHOOL Simprug. Ia menempuh pendidikan selama 15 tahun di sekolah itu, mulai dari TK hingga SMA, dan berkembang sebagai siswa yang aktif di bidang akademik, organisasi, dan kompetisi internasional.
Di sekolah, Kayla pernah menjabat sebagai Presiden OSIS, Deputy Secretary-General Model United Nations, dan Director di Summit of Talented Young Leaders. Di luar organisasi, ia juga mengumpulkan banyak prestasi akademik dari berbagai ajang.
Pada World Scholar’s Cup tingkat global dan regional, Kayla meraih medali emas dan perak. Ia juga membawa pulang medali dari World Mathematics Invitational, Singapore and Asian Schools Math Olympiad, serta American Math Olympiad.
Di bidang esai, Kayla memperoleh penghargaan dari Oxbright pada kategori Biologi. Ia juga tercatat sebagai Top Scorer Indonesia dalam ICAS English, sekaligus meraih Distinction di ICAS Science dan masuk dalam sembilan persen teratas peserta se-Indonesia.
Di luar capaian akademik, Kayla tetap mendapat ruang untuk mengembangkan minat lain selama bersekolah. Ia mengikuti Singing Club dan tarian tradisional di BINUS SCHOOL Simprug.
Sekolah itu menjalankan kurikulum International Baccalaureate atau IB secara penuh, dari Early Years hingga IB Diploma Programme di jenjang akhir. Kurikulum tersebut diakui oleh lebih dari 2.000 universitas di seluruh dunia dan dikenal menuntut riset independen, pemikiran lintas disiplin, serta pemahaman etika keilmuan.
Kepala Sekolah BINUS SCHOOL Simprug, Isaac Koh, mengatakan sekolah percaya setiap anak memiliki potensi luar biasa yang perlu dipupuk dengan lingkungan belajar yang tepat. Ia menambahkan, Journeys Programme memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi passion mereka secara mendalam.
Menurut Isaac, pendekatan itu tidak hanya menyiapkan siswa agar diterima di universitas terbaik. Ia menegaskan bahwa siswa juga dipersiapkan untuk berkembang setelah masuk ke sana.
Jejak pendekatan tersebut juga terlihat pada capaian lulusan BINUS SCHOOL Simprug. Angkatan 2026 mencatat 90 persen lulusan diterima di perguruan tinggi luar negeri dengan tujuan ke Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Belanda, Singapura, dan negara lain.
Sejumlah lulusan juga berhasil masuk ke kampus-kampus seperti University College London, The University of Hong Kong, University of Melbourne, UNSW Sydney, King’s College London, University of Toronto, McGill University, University of Sydney, dan University of Warwick. Sekolah itu turut mencatat bahwa beberapa lulusan memperoleh beasiswa dari universitas tujuan mereka karena prestasi akademis, kepemimpinan, maupun kontribusi sosial.
Isaac menilai capaian tersebut menunjukkan kualitas lulusan BINUS SCHOOL Simprug diakui secara lebih luas. Menurutnya, apresiasi datang bukan hanya lewat penerimaan di kampus ternama, tetapi juga melalui jalur beasiswa dan pengakuan atas kontribusi para siswa.
