Warga Yunani Tak Menuntut The Odyssey Nolan Sepenuhnya Setia pada Homer

Author: Redaksi Android62

Respons warga Yunani terhadap The Odyssey garapan Christopher Nolan justru berbeda dari tuntutan kesetiaan mutlak yang ramai di sejumlah tempat. Banyak dari mereka memandang versi baru kisah Homer sebagai cara agar warisan kuno itu terus hidup dan menjangkau penonton modern.

Film tersebut telah menarik perhatian sejak pekan debut globalnya dengan perolehan lebih dari US$263,7 juta. Namun, bagi sebagian publik Yunani, nilai utama adaptasi bukan sekadar besarnya skala produksi, melainkan kemampuannya membuka kembali pembacaan terhadap cerita klasik.

Adaptasi dinilai bukan pengganti karya Homer

Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip The Independent, masyarakat Yunani modern cenderung menilai setiap adaptasi berdasarkan kekuatan artistiknya. Film atau pementasan baru tidak diposisikan sebagai pengganti teks Homer, melainkan karya mandiri yang dapat memperluas pemahaman terhadap kisah tersebut.

Pandangan ini berangkat dari keyakinan bahwa karya Homer mampu bertahan hampir 3.000 tahun karena terus ditafsirkan ulang. Bentuk visual seperti film dan teater juga dianggap memberi jalan yang lebih dekat bagi generasi muda untuk mengenal mitologi Yunani.

Tokoh Peran Pandangan
Filippos Mantzaris Pengajar The Odyssey Adaptasi membantu siswa membahas nilai moral cerita.
Manos Pintzis Aktor teater Pementasan membuat mitologi lebih mudah dijangkau anak-anak.
Lina Mendoni Menteri Kebudayaan Yunani Negara tidak semestinya mengatur tafsir artistik kreator.
Christos Tsagalis Profesor sastra Yunani kuno Penonton akan menentukan keberhasilan sebuah adaptasi.

Ruang belajar melalui cerita Odysseus

Filippos Mantzaris, yang mengajarkan The Odyssey kepada siswa sekolah menengah di Yunani, melihat penafsiran sebagai bagian penting dari pembelajaran. Di kelas, siswa diajak membahas dilema moral Odysseus, membandingkan kecerdasan dan kekuatannya, serta menguji keadilan tindakannya sebagai raja.

Mantzaris mengatakan anak-anak dapat membangun hubungan personal dengan tokoh dan latar kisah itu. “Itu merupakan teks sastra luar biasa yang bisa diketahui anak-anak, mungkin melihat Odysseus dalam diri mereka sendiri, tapi juga melihat tanah air mereka,” katanya.

Pendekatan serupa disampaikan Manos Pintzis, aktor yang memerankan Odysseus dalam produksi teater lokal. Ia menilai pengalaman menyaksikan mitologi di panggung atau layar dapat membuat pembelajaran sejarah terasa lebih sukarela daripada sekadar kewajiban membaca.

Menurut Pintzis, anak-anak cenderung menolak bacaan yang dipaksakan tanpa pengalaman yang lebih hidup. Karena itu, visualisasi cerita dipandang melengkapi, bukan menggeser, peran teks klasik dalam pendidikan.

Perdebatan casting tidak menjadi isu utama

Kontroversi pilihan pemain terdengar lebih keras dari kalangan konservatif di Amerika Serikat. Elon Musk dan komentator Matt Walsh mengkritik produksi tersebut serta menuduhnya mengedepankan politik identitas.

Nolan menilai perdebatan sebelum publik menonton film secara utuh tidak relevan. Ia menyatakan ingin membuat dunia kuno terasa dekat dan dapat diakses audiens masa kini tanpa meniru pola film kolosal Hollywood dari masa lalu.

Di Yunani, sentimen rasial dalam perdebatan itu tidak memperoleh pijakan kuat karena publik telah lama terbiasa melihat aktor asing memerankan figur sejarah dan mitologi mereka. Gerard Butler asal Skotlandia pernah menjadi Raja Leonidas dalam 300, sementara Brad Pitt dari Oklahoma memerankan Achilles dalam Troy.

Colin Farrell dari Irlandia juga pernah tampil sebagai Alexander the Great. Dalam versi Nolan, Matt Damon memerankan Odysseus bersama Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Zendaya, Charlize Theron, serta Travis Scott sebagai pengisi suara narasi.

Sikap pemerintah terhadap subsidi produksi

Penolakan tetap muncul dari partai nasionalis Yunani, Niki, yang mempersoalkan subsidi produksi senilai 6 juta euro dari pemerintah. Partai itu menuduh dana pajak dipakai untuk mendukung ideologi “woke” terhadap identitas sejarah Yunani.

Menteri Kebudayaan Yunani Lina Mendoni menolak tuduhan tersebut dalam pernyataannya kepada Lifo. “Bukanlah peran negara untuk mendikte seorang kreator bagaimana mereka harus menafsirkan sebuah karya atau mitos secara artistik,” katanya.

Profesor Sastra Yunani Kuno Universitas Aristotle Thessaloniki, Christos Tsagalis, menilai ukuran akhir adaptasi tetap berada pada respons penonton. Baginya, sebuah versi baru perlu menangkap esensi salah satu kisah terbesar dalam sejarah manusia.

Tsagalis menyebut daya tahan mahakarya Homer terletak pada kemampuannya menjadi warisan budaya universal. “Ini adalah budaya bersama,” katanya, seraya menilai kisah itu tetap menarik “seperti film”.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru