Alexander Volkanovski menilai ancaman terbesar Conor McGregor justru hadir pada fase awal laga. Ia melihat kecepatan, ledakan, dan kemampuan membaca pertarungan masih menjadi senjata yang membuat McGregor tetap berbahaya, meski sudah lama tidak tampil di oktagon.
Penilaian itu muncul menjelang comeback McGregor melawan Max Holloway di UFC 329 yang digelar di kelas welter pada 11 Juli mendatang di T-Mobile Arena, Las Vegas. Duel lima ronde ini menarik perhatian besar karena mempertemukan kembali dua nama yang punya sejarah panjang di dalam UFC.
McGregor Masih Berbahaya di Awal Pertarungan
Menurut Volkanovski, banyak pihak terlalu cepat menganggap McGregor sudah kehilangan semua kualitas terbaiknya karena absen selama lima tahun. Petarung asal Australia itu menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
“Conor sudah lama tidak berkecimpung di dunia ini, dan saya rasa banyak orang berpikir dia akan kehilangan segalanya, tetapi bukan itu masalahnya,” kata Volkanovski dikutip dari MMA Junkie. Ia menegaskan McGregor masih memiliki kualitas yang bisa merepotkan lawan, terutama ketika pertarungan baru dimulai.
Volkanovski menilai ketajaman McGregor pada fase awal masih bisa menjadi pembeda. Namun, ia juga melihat bahwa daya ledak semacam itu punya risiko karena dapat menguras tenaga lebih cepat jika duel berlangsung panjang.
Masalah Utama Ada pada Kebugaran
Di balik pengakuan soal kualitas McGregor, Volkanovski menyoroti satu titik lemah yang dinilainya paling menentukan, yakni kondisi fisik setelah lama tidak bertarung. Menurutnya, energi McGregor kemungkinan akan semakin terkuras ketika ronde bertambah.
Ia memperkirakan Holloway tidak akan langsung masuk ke pertarungan terbuka sejak awal. Volkanovski menilai mantan juara kelas bulu UFC itu lebih mungkin memilih pendekatan sabar, lalu mulai menekan ketika ritme McGregor mulai menurun.
“Saya tahu mereka ingin menampilkan pertunjukan yang menarik, tetapi pada saat yang sama, Anda akan tahu bahwa Conor akan sangat berbahaya sejak awal,” ucap Volkanovski. Ia menambahkan bahwa bahaya terbesar McGregor justru ada pada bagian awal laga, sebelum kebugarannya benar-benar diuji.
Holloway Diprediksi Memilih Tempo yang Lebih Terkontrol
Volkanovski memperkirakan Holloway tidak akan gegabah mencari duel sengit sejak bel awal. Ia menilai Holloway lebih mungkin menjaga jarak, membaca tempo, lalu memaksa McGregor bekerja lebih keras seiring berjalannya pertarungan.
“Saya pikir Max akan membuat keputusan yang tepat untuk tidak langsung terjun ke dalam pertarungan sengit, dan kemudian mulai melatih lawannya di ronde-ronde berikutnya,” kata Volkanovski. Menurutnya, strategi seperti itu bisa membuka ruang saat ketajaman McGregor mulai berkurang.
Ia juga menyinggung bahwa efek lima tahun absen kemungkinan baru benar-benar terlihat saat pertarungan memasuki fase akhir. Dalam pandangannya, ketajaman yang masih tersisa pada McGregor bisa turun lebih cepat dibanding lawannya karena minimnya jam tanding.
Sejarah Pertemuan Lama Kembali Terbuka
Laga ini juga membawa kembali cerita lama antara McGregor dan Holloway. McGregor pernah mengalahkan Holloway lewat keputusan mutlak pada Agustus 2013, hasil yang masih tercatat dalam perjalanan karier keduanya.
Kini, lebih dari satu dekade setelah pertemuan pertama itu, situasinya sudah berubah jauh. McGregor datang dengan status comeback yang menyedot perhatian, sedangkan Holloway hadir dengan reputasi yang membuat duel ini tetap dipandang sebagai salah satu yang paling dinanti di kalender MMA.
Meski McGregor masih menyimpan ancaman dari sisi kecepatan dan eksplosivitas, Volkanovski menilai hasil pertarungan sangat bergantung pada seberapa lama ia mampu menjaga intensitas. Jika duel berjalan panjang, Holloway dinilai punya peluang besar untuk memanfaatkan penurunan ritme lawannya.
Source: www.viva.co.id






