Fabio Di Giannantonio akhirnya bisa melewati salah satu momen paling berbahaya dalam balapan di Catalunya tanpa luka serius. Di tengah kecepatan lebih dari 200 km/jam, ia justru dihantam serpihan dan bahkan sebuah roda yang terlepas saat insiden besar terjadi di depannya.
Situasi itu membuat lintasan lurus berubah menjadi area yang sulit diprediksi. Saat pebalap lain masih melaju kencang, potongan besar motor Alex Marquez dan Pedro Acosta tersebar di seluruh trek dan memaksa banyak pihak bereaksi dalam hitungan detik.
Detik benturan yang memicu kekacauan
Kecelakaan bermula ketika Alex Marquez menabrak motor Pedro Acosta yang sedang mengalami kendala teknis. Benturan tersebut membuat Alex kehilangan kendali dan meluncur keras ke tepi lintasan sebelum menghantam dinding pembatas.
Setelah itu, motor Alex hancur dan berputar di aspal dalam kondisi yang sangat berbahaya. Serpihannya lalu menyebar ke arah pebalap lain yang masih berada di trek lurus dan menciptakan kondisi yang nyaris tak terkendali.
Di Giannantonio berada dalam posisi yang sangat sulit untuk membaca keadaan. Ia sedang melaju di gigi empat dan hanya memiliki waktu sangat singkat untuk memahami apa yang sedang terjadi di depannya.
“Sesampainya di tempat kejadian dan melihat banyak serpihan di mana-mana, banyak di antaranya yang mengarah ke badan pebalap saat di trek lurus. Jujur, saya tidak tahu persis apa yang terjadi,” ujarnya dikutip dari Motosan.
Reaksi instan yang tidak berjalan sempurna
Diggia mengaku refleks pertamanya bukan menghindar jauh, melainkan mencoba berlindung di balik fairing sambil memejamkan mata. Ia menyebut dirinya takut karena semuanya berlangsung terlalu cepat.
“Saya rasa reaksi saya tidak tepat; semuanya terjadi begitu cepat. Saya hanya mencoba bersembunyi di balik fairing dan memejamkan mata; saya takut,” kata Diggia.
Ia menilai secara teori dirinya mungkin seharusnya bergeser lebih ke kiri. Namun, kepanikan di tengah kecepatan tinggi membuat keputusan yang tenang nyaris mustahil diambil saat itu.
Keadaan menjadi lebih serius ketika salah satu roda yang terlepas ikut masuk ke jalur balap. Roda itu sempat mengenai tubuh Diggia ketika ia masih berada di lintasan.
“Kami sedang melaju di gigi empat dengan kecepatan lebih dari 200 km/jam, dan Anda melihat pecahan-pecahan melayang langsung ke arah Anda; itu situasi yang sulit untuk dianalisis. Ketika saya melihat potongan-potongan besar, saya masih bersembunyi, tetapi itu tidak cukup, dan ada sesuatu yang menghantam saya-katanya sebuah roda. Kami sangat beruntung,” ucapnya.
Balapan sempat dihentikan
Petugas segera mengibarkan red flag setelah insiden itu terjadi. Balapan kemudian dihentikan sementara sebelum akhirnya dilanjutkan lagi dengan sisa 13 putaran.
Bagi Di Giannantonio, jeda tersebut tidak otomatis membuat situasi menjadi ringan. Ia tetap harus menenangkan diri sebelum kembali naik motor untuk restart.
Tim Pertamina Enduro VR46 Racing memberikan dukungan penuh tanpa menambah tekanan. Mereka membiarkan Diggia mengambil keputusan dengan tenang, bahkan membuka kemungkinan baginya untuk mundur setelah sesi pemanasan.
“Itu bukan momen yang mudah. Tim membantu saya untuk kembali naik ke motor, tetapi tanpa menekan saya. Mereka terbuka dengan kemungkinan saya untuk mundur setelah sesi pemanasan,” kata Diggia.
Syukur di balik hasil akhir
Meski sempat berada dalam situasi yang menegangkan, Diggia tetap menuntaskan balapan setelah restart. Ia juga keluar sebagai pemenang, sebuah hasil yang terasa sangat kontras dengan apa yang sempat terjadi di trek lurus.
Namun, bagi pebalap Italia itu, hasil balapan bukanlah hal terpenting dari hari tersebut. Ia menilai tidak ada korban fatal dalam kejadian itu, dan hal itulah yang paling patut disyukuri.
“Kemenangan yang sesungguhnya hari ini adalah semua orang kurang lebih dalam kondisi baik-baik saja. Kami melakukan pekerjaan yang spesial dan mengambil risiko. Kami harus menjauhkan momen negatif itu dari lintasan,” tutupnya.
Insiden di Catalunya kembali memperlihatkan betapa cepat sebuah kecelakaan bisa mengubah balapan menjadi situasi yang membahayakan banyak pebalap sekaligus. Dalam hitungan detik, lintasan lurus yang semula menjadi tempat memacu kecepatan berubah menjadi jalur penuh serpihan dan ancaman fisik.
