Rudal Mereda, Ketegangan Iran-Israel Belum Usai Karena Lebanon Masih Membara

Author: Redaksi Android62

Ledakan dan sirene masih terdengar di beberapa titik, tetapi Iran dan Israel sama-sama memberi sinyal bahwa serangan langsung mereka telah berhenti. Di saat yang sama, ancaman balasan belum juga mereda, sementara perang di Lebanon tetap menyala dan menjaga kawasan itu berada di tepi eskalasi baru.

Kondisi rapuh ini muncul setelah pertukaran serangan yang sempat membuat kekhawatiran meluasnya konflik Timur Tengah kembali naik. Meski jeda diumumkan, kedua pihak masih saling mengirim peringatan keras, sehingga gencatan yang terbentuk tampak sangat mudah runtuh.

Di lapangan, Lebanon tetap menjadi titik paling panas. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan kampanye militer di sana akan terus berjalan, termasuk serangan ke pinggiran selatan Beirut yang dikuasai Hizbullah sebagai balasan atas setiap serangan ke Israel utara.

Kekerasan di Lebanon selatan bahkan masih berlanjut pada Senin. Kementerian kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel menewaskan lima orang di Tyre, tujuh orang di distrik Nabatieh, dan dua orang di Marwanieh.

Militer Israel juga menyebut ada proyektil yang ditembakkan ke arah tentaranya yang beroperasi di Lebanon selatan. Sebagian berhasil dicegat, sementara satu lainnya jatuh dekat pasukan tanpa menimbulkan korban.

Ancaman belum berhenti

Iran sebelumnya menembakkan rudal ke Israel pada Minggu sebagai respons atas perang Israel yang masih berlangsung melawan Hizbullah di Lebanon. Israel kemudian membalas, meski Presiden AS Donald Trump dilaporkan berusaha mencegah Benjamin Netanyahu mengambil langkah itu.

Balasan Israel memicu gelombang rudal Iran berikutnya sebelum Teheran mengumumkan gencatan senjata. Namun setelah pengumuman itu, nada keras tetap terdengar dari kedua ibu kota.

Pada Senin, Iran menegaskan akan kembali menyerang jika Israel terus melancarkan serangan di Lebanon. Netanyahu merespons dengan ancaman bahwa bila Iran “membuat kesalahan dengan melanjutkan serangan terhadap kami, kami akan merespons dengan kekuatan penuh”.

Teheran juga sejak beberapa pekan lalu ingin mengaitkan truce yang lebih luas di Timur Tengah, yang berlaku sejak 8 April, dengan perang Israel melawan Hizbullah. Iran memperingatkan bahwa serangan di Lebanon akan memaksanya bertindak.

Situasi di dua ibu kota

Meski serangan langsung disebut berhenti, suasana di Teheran dan Tel Aviv menunjukkan ketegangan belum benar-benar hilang. Di Teheran, tanda-tanda kembalinya perang memang minim pada Senin, tetapi lalu lintas lebih lengang dari biasanya dan antrean di stasiun pengisian bensin tampak lebih panjang.

Maryam, seorang akuntan berusia 41 tahun di Teheran, menggambarkan keadaan itu sebagai “ketidakpastian dan kebingungan”. Ia mengatakan banyak orang tidak tahu apakah perang akan terjadi lagi atau apakah kesepakatan damai akan bertahan.

Di Tel Aviv, warga menuju tempat perlindungan saat sirene berbunyi. Jonathan Ariel, 30 tahun, mengatakan ia berharap situasi itu cepat berlalu, meski pengalaman sebelumnya membuatnya sulit merasa yakin.

Minyak dan diplomasi ikut terdampak

Kekhawatiran konflik yang kembali memuncak ikut mengguncang pasar energi. Kontrak utama minyak dunia, Brent Laut Utara dan West Texas Intermediate, sempat melonjak lebih dari lima persen pada perdagangan Asia sebelum melandai dan ditutup naik masing-masing 1,3 persen dan 0,8 persen.

Konflik ini juga membuat Teheran hampir menghentikan pengiriman minyak dan gas Teluk melalui Selat Hormuz, sementara Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Militer AS mengatakan pada Senin pihaknya menyerang dan menonaktifkan sebuah kapal tanker kosong yang melanggar blokade itu.

Di tengah tekanan militer dan ekonomi, jalur diplomasi masih dibuka. Juru bicara kementerian luar negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan diplomasi tetap berlanjut, meski pertempuran dapat memengaruhinya.

Pakistan disebut ikut berperan sebagai mediator. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi sebelumnya mengunjungi Teheran untuk menyerahkan apa yang disebut televisi negara Iran sebagai “surat khusus” kepada pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

Berita Terbaru