Rumah Kemang Laku Rp4,1 Miliar, Hasilnya Terserap Untuk Nafkah Dan Kewajiban Rachel Vennya

Pihak Niko Al Hakim atau Okin menegaskan bahwa hasil penjualan rumah di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, tidak masuk ke kantong pribadinya. Dari transaksi senilai Rp4,1 miliar itu, kubu Okin menyebut seluruh dana justru dipakai untuk menutup kewajiban finansial kepada Rachel Vennya dan anak-anak.

Kuasa hukum Okin, Axl Matthew Situmorang, mengatakan ada narasi yang beredar dan dinilai tidak sejalan dengan dokumen serta kesepakatan yang pernah dibuat kedua pihak. Ia menekankan bahwa penjualan rumah itu bukan jalan untuk mencari keuntungan, melainkan untuk menyelesaikan beban yang sudah diperhitungkan sebelumnya.

Rincian dana dari penjualan rumah

Menurut penjelasan Axl, total kewajiban yang diselesaikan dari hasil transaksi tersebut mencapai Rp3,1 miliar. Angka itu terdiri dari Rp1,5 miliar untuk nafkah anak periode 2021-2026, Rp600 juta untuk biaya pendidikan, dan Rp1 miliar sebagai mut’ah atau pemberian sukarela dari mantan suami.

Sisa dana penjualan disebut dipakai untuk melunasi utang bank sebesar Rp1 miliar. Dengan skema itu, pihak Okin menilai tidak ada sisa uang yang bisa disebut sebagai keuntungan pribadi dari aset tersebut.

Axl menegaskan bahwa pembagian dana tersebut dipahami sebagai penyelesaian kewajiban, bukan pembagian hasil yang memberi manfaat finansial pada Okin. Karena itu, ia menolak anggapan bahwa kliennya menerima uang dari penjualan rumah itu.

Status rumah dan sumber pembayaran KPR

Kubu Okin juga menepis anggapan bahwa rumah tersebut masih termasuk harta bersama. Axl menyebut, berdasarkan dokumen pembagian harta saat perceraian pada 2021, aset itu sah menjadi milik Okin.

Ia menambahkan, pembayaran KPR rumah dilakukan sendiri oleh Okin melalui auto-debet dari rekening pribadinya. Dari penjelasan itu, pihak Okin berpendapat rumah tersebut memang berada dalam kendali penuh Okin dan bukan aset bersama yang bisa dibagi dengan skema lain.

Tanggapan atas tudingan nafkah tertunggak

Di tengah polemik yang berkembang, kubu Okin juga menjawab tudingan adanya tunggakan nafkah selama 27 bulan terakhir. Axl menjelaskan bahwa sempat ada kesepakatan lisan ketika Rachel tinggal di rumah Kemang secara gratis, sementara Okin tetap membayar cicilan KPR sebesar Rp50 juta per bulan.

Pembayaran cicilan itu disebut disepakati sebagai pengganti nafkah anak dengan nilai yang sama. Karena itu, pihak Okin menilai penagihan nafkah tunai secara terpisah membuat kewajiban yang sudah dibayar menjadi berlapis.

Menurut Axl, jika cicilan rumah tetap dibayar lalu nafkah juga diminta lagi, maka beban finansial yang muncul akan semakin besar. Dari sudut pandang itu, pihak Okin menegaskan bahwa pembayaran yang sudah dilakukan sebenarnya mencakup bagian penting dari kewajiban yang dipersoalkan.

Sempat ada pembicaraan soal rumah dan tanah di Bali

Pihak Okin juga memaparkan bahwa keluarga Rachel Vennya sempat tinggal di rumah tersebut atas inisiatif Rachel pada akhir 2023, saat masa sewa kantor miliknya habis. Dalam periode itu, rumah juga sempat direnovasi.

Selain itu, Axl menyebut pernah ada pembicaraan lisan pada Januari 2024 mengenai kemungkinan menukar rumah Kemang dengan tanah milik Rachel di Bali. Namun hingga kini, pihak Rachel disebut belum mengurus administrasi peralihan yang dibutuhkan.

Sorotan pada isi perjanjian tertulis

Pernyataan yang paling dipersoalkan kubu Okin adalah klaim bahwa Rachel tidak peduli dengan harga jual rumah. Axl mengatakan hal itu bertolak belakang dengan perjanjian tertulis yang ditandatangani pada 9 Mei 2026.

Dalam perjanjian tersebut, pihak Rachel disebut tetap meminta bagian jika rumah terjual melebihi nilai kewajiban yang harus dibayar Okin. Axl memberi contoh, bila harga jual mencapai Rp4,5 miliar, maka selisih Rp400 juta tetap diminta oleh pihak Rachel.

Menurut Axl, isi dokumen itu menunjukkan bahwa narasi “tidak peduli” tidak sepenuhnya sesuai dengan kesepakatan yang ada. Ia juga menyayangkan bila pernyataan di ruang publik tidak mencerminkan isi perjanjian hukum yang telah dibuat bersama.

Keluhan atas framing negatif

Di tengah ramainya sorotan, pihak Okin mengaku kecewa dengan framing negatif di media sosial. Mereka menilai status Okin sebagai ayah seolah dibentuk menjadi tidak bertanggung jawab, padahal ia disebut sudah menyerahkan aset pribadinya untuk menyelesaikan persoalan keluarga.

Axl juga menyinggung isu BPKB mobil Alphard yang digadaikan. Ia menyebut hal itu merupakan musibah penipuan rekan bisnis dan bukan sepenuhnya kesalahan Okin, meski detail tersebut tidak menjadi fokus utama dalam penjelasan kali ini.

Hingga keterangan itu disampaikan, rumah di Kemang sudah resmi berpindah tangan. Pihak Okin menegaskan langkah tersebut dilakukan untuk menuntaskan kewajiban kepada Rachel Vennya dan anak-anak, bukan untuk mengambil keuntungan dari hasil penjualan aset tersebut.

Source: www.suara.com

Berita Terkait